Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2011

Tidurlah Sayang




~penulis: Ade Anita ~




“Aku tidak mau tidur sendirian Bu.” Sebutir air mata meluncur dari kelopak mata yang memiliki bola mata indah itu. Cepat tangan kecil gadis di depanku itu menghapusnya. Wajahnya kusut dan memelas. Hmm… aku menghela napas panjang. Wajah bidadari ini selalu membuatku trenyuh dan tak kuasa untuk bilang tidak. Tapi kali ini kata ‘tidak” tidak boleh keluar dari mulutku.


“Begini saja, ibu temani sebentar yah.” sebuah senyuman terlukis di wajah permata hatiku itu.


“Kita tidur bertiga dengan Teddy bear yah?” Suaranya yang cadel dan kenes itu terdengar lirih.


“Teddy bear? Boleh. Berempat dengan sang bintang juga boleh.” Lalu kami masuk ke dalam kamarnya.


Kami tidur dengan kepala menghadap jendela kamar yang berdaun jendela lebar. Sengaja tidak dipasang gordein di sana agar pemandangan langit bisa terlihat jelas dari tempat kami berbaring. Langit tampak cerah malam itu. Bintang-bintang bertaburan memenuhi angkasa raya dan bulan tampak bersinar penuh dengan cahaya yang memantul berpendar-pendar. Aisyah, yang menjadi permata hatiku, mendekatkan kepalanya ke sisi pundakku, dan tangan mungilnya menyusup melingkari lenganku. Boneka Teddy bearnya menyembul di antara tubuh kami yang berhimpitan.


“Hmm… bagus yah, bintang-bintang itu.” Aku bertanya padanya dengan segala kekagumanku yang utuh pada keindahan jagad raya di atas sana. Subhanallah… Maha Suci Allah.


“Iyah bagus.” Suara kecil Aisyah mulai melemah karena diserang kantuk terdengar begitu lirih.


“Besok-besok… kamu tidak usah takut tidur sendirian yah. Ini hari terakhir ibu menemani kamu.” Tidak ada jawabannya, tapi aku rasakan rengkuhan tangan kecil di lenganku mengeras, sebuah isyarat tak hendak berpisah. Seperti malam-malam sebelumnya, rupanya malam inipun Aisyah tidak ingin tidur seorang diri.


“Kamu lihat bintang yang paling terang itu.” Tanganku menunjuk ke angkasa raya, pada satu titik di sebelah utara, dimana ada sebuah bintang yang terlihat paling terang cahayanya dan paling besar pula keberadaannya dibanding bintang yang lain.


‘Itu namanya bintang kejora.” Kemudian kami bersama mengagumi bintang kejora. Sederetan awan kelam yang berbaris mendekati bintang kejora, rupanya malu hati akan niatnya untuk menutupi bintang tersebut sehingga dengan cepat awan itu menyingkir dan kembali bintang kejora berpendar-pendar indah.


“Bagus bu… adik suka bintang kejora.” Suara lirih Aisyah kembali terdengar.


“Besok, kalau kamu tidur sendirian, kamu lihat saja ke langit. Insya Allah bintang kejora akan selalu muncul jika langit cerah. Kamu bayangkan bahwa ibu ada di sampingmu, sedang menatap bintang kejora bersama seperti malam ini. Jadi kamu tidak takut lagi tidur sendirian.” Sebuah senyuman terukir di mulut mungil Aisyah dan sebuah kecupan mendarat di pipiku yang dihadiahkan Aisyah padaku. Lama kami terdiam hingga yang terdengar kemudian adalah bunyi napas yang teratur. Hingga…,.


“Bagaimana jika bintang itu tidak muncul Bu ? “


“Hah ?…ngggnn.” Aku tidak langsung menjawab dan jeda waktu menunggu itu membuat sebuah kegelisahan tiba-tiba muncul di wajah Aisyah.


‘Bagaimana jika langit mendung dan badai datang ?” Suaranya yang semula lirih kini dipenuhi rasa kekhawatiran.


Kurengkuh tubuh mungilnya erat-erat… dan dengan lembut kubisikkan kata di telinganya, “Ada Allah yang selalu setia menemani kamu sayang…. Allah tidak akan pergi meninggalkan kamu, apapun keadaan yang datang dan selalu berubah-ubah. Bintang kejora itu adalah kasih ibu yang akan ibu berikan untuk kamu, tapi ibu dan bintang kejora, bahkan juga kamu, ayah, kakak, adalah ciptaan Allah, yang bisa menghilang, pergi jika Allah menghendakinya…. Tapi Allah yang Maha Pencipta selalu hadir menemani kamu. “


“Ibu akan pergi kemana ?”


“Suatu hari nanti, mungkin ibu akan pergi menghadap Allah. Kalau itu terjadi, kamu tidak bisa bertemu ibu lagi, kalau kamu kangen, kamu lihat saja ke langit yang cerah, bintang kejora itu adalah kasih sayang ibu yang sudah ibu ukir di sana agar kamu selalu ingat ibu. Jangan pernah merasa putus asa jika kamu merasa seorang diri… karena bintang kejora itu selalu bersinar berpendar-pendar meskipun awan gelap selalu berusaha menutupi kehadirannya. Kamu bisa lihat bintang itu dimanapun kamu berada di muka bumi ini. Dan ingat…. Meski bintang itu hilang karena siang muncul menggantikan malam, ada yang selalu setia menemani kamu dan menyayangi kamu melebihi kasih sayang ibu ke kamu, bahkan melebihi kasih sayang seluruh makhluk di muka bumi ini. Itu adalah kasih sayang Allah Subhanallahu Wa ta’ala… nah sekarang tidurlah… Pejamkan matamu.”


Tak ada jawaban, sebaliknya muncul sebuah pertanyaan baru.


“Apakah aku akan bertemu ibu lagi di hari esok ?” Bola mata bening bagaikan mutiara itu menatapku dengan penuh tanda tanya. Sebutir mutiara bening meluncur dari sana, dan genggaman jemari kecil di lengan tanganku kian erat. “Hanya Allah yang tahu sayang. Jika Allah mengizinkan, tentu kita akan bertemu dan bermain kembali… sekarang, tidurlah.”


Mata Aisyah menatapku dengan polos dan sebuah telaga bening di kelopak matanya terlihat bergetar tak kuasa menahan bendungan air yang terkumpul di sana. Kukecup keningnya dengan penuh rasa kasih dan sayang.


“Ibu sayang sama kamu, jika takdir datang dan memisahkan kita, rasa sayang dan doa ibu akan selalu tercurah untukmu nak… Bersyukurlah selalu pada Allah, karena apapun takdir yang diberikan oleh Allah, dalam perhitunganNya, itulah yang terbaik bagimu. Tidurlah… Ada Allah yang akan menjagaMu malam ini.

Senin, 16 Agustus 2010

Misteri rumah tua

Saat melewati rumah tua itu perasaan Tini selalu berdebar-debar. Kata orang-orang rumah itu berhantu. Tini melirik bangunan rumah tua itu sambil mempercepat langkahnya. Dinding dan kayu-kayu penyangga banyak yang keropos, dan pekarangan rumah terkesan kotor dan tak terurus.

Banyak orang yang mengatakan kalau mereka sering melihat sesosok bayangan dari dalam rumah itu. Ada yang mengatakan, penghuni rumah ini adalah monster yang menakutkan. Ada pula yang bercerita padanya, bahwa rumah itu dihuni oleh seorang kakek tua pertapa, dengan kumis tebal dan jenggot putih yang panjang. Namun, sejauh ini Tini belum pernah melihat satu pun penampakan dari rumah itu.

Sore itu, Tini baru saja pulang dari warung Bu Cokro Yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah angker itu. Ia baru membeli satu kilo telur ayam, dan juga satu botol kecap.

Berjarak satu meter dari rumah itu, Tini mencium aroma masakan dari arah belakang rumah itu. Seketika, bulu kuduknya pun meremang.

“Duh.. Kok serem gini sih?” Keluhnya.

Kresrek..Kreserrkk..

Bunyi derap kaki Tini yang menginjak tumpukan daun kering di sepanjang jalan, terdengar cukup berisik. Terbukti dari suasana sunyi kebun jati di sampingnya. Biasanya, hutan kecil itu tak pernah sepi karena kicauan burung-burung kecil terus bersahutan. Juga embikan kambing liar, atau lenguhan sapi yang di ternak oleh sang gembala di balik pohon-pohon jati.

Ketakutan Tini semakin menjadi-jadi saat ia melihat sekelebat bayangan hitam dari arah rumah tua. Ia merasa seakan ada seseorang yang sejenak mengamatinya dari dalam sana.

“Mending, aku cepet-cepet pergi dari sini deh” ucapnya nyaris berbisik. Ia pun memutuskan untuk berlari dan menjauh dari bangunan yang menyeramkan itu.

Esok harinya, Tini kembali melewati rumah tua itu saat perjalanan pulang dari sekolahnya. Tanpa sengaja, Ia mendengar samar-samar beberapa orang sedang bercakap-cakap. Sesekali ia mendengar ucapan-ucapan kasar dari seseorang yang entah dimana. “Mungkin dari belakang rumah” Pikir Tini. Karena penasaran, dengan berjingkat ia berniat menguping pembicaraan orang tersebut.

“Heh, gila lo! Gimana kalau ketahuan?” Terdengar ucapan dari salah seorang.

Tini pun terus berdiri di depan pintu samping rumah, sambil menempelkan daun telinganya kepermukaan pintu. Tiba-tiba.. suara langkah kaki seseorang terdengar semakin dekat.

Sebelum Tini sadar dan pergi, gagang pintu itu telah berputar dengan cepat. Pintupun terbuka dengan keras dan membentur sisi pohon yang ada tepat di depan pintu itu. Tini begitu terkejut dan merasa degup jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

“Siapa itu?” Teriak seseorang dengan berang.

Rupanya Tini selamat dari orang tak di kenal tadi. Ia nyaris tertangkap, jika seandainya ia tidak lekas mengambil langkah seribu dan bersembunyi di balik salah satu pohon jati di seberang rumah itu. Namun, orang itu tidak terlambat untuk melihat sosok Tini dari belakang.

“Gadis kecil berseragam sekolah SD. Mungkin ia kelas 4 atau 5”. Lapor sang pengejar Tini kepada seseorang yang lain. Mungkin itu adalah atasannya.

“Sepertinya tidak masalah!” Sahut sang bos, acuh tak acuh.

Tidak seperti perkiraan mereka. Tini adalah gadis yang tergolong mungil untuk anak seumurannya. Ini menyebabkan para sosok mencurigakan menghilangkan kecurigaannya pada Tini. Karena sebenarnya, Tini berumur 12 tahun atau kelas 6 tepatnya.

Di rumah teman Tini…

“Eh Ra, kamu tau rumah kosong yang di depan hutan jati di sana?” Tunjuk Tini ke arah Barat Daya.

“Emang kenapa?” Rara balas bertanya. “Yang angker itu kan?” lanjutnya lagi.

“Aku curiga deh!”

“Sama siapa?” Rara menautkan alisnya karena penasaran.

“Gini ra..” Tini pun menceritakan semua yang di dengarnya pada Rara, teman baiknya.

“Hah? Yang bener?” Rara memekik, tidak percaya. “Ini harus di laporin ke kades nih Tin”.

Tini langsung membulatkan mata dan memelototkannya ke arah Rara. “eeh.. ya jangan thoh. Ntar, kalau informasinya salah gimana?” Ucapnya dengan logat medok anak jawa.

“Ya udah deh, gimana kalau besok kita kesana lagi.” Usul Rara. “Sekalian, mungkin kita bisa melacak dan membongkar kedok mereka!”. Mulailah si Rara beraksi dengan gaya sok detektifnya. Ia memang pernah mencita-citakannya.

“Oke.”

Kruk..kruuk..krukk..

Suara jangkrik dan keheningan malam menyelimuti Rara dan Tini di hutan jati. Mereka sengaja janjian dan keluar rumah tanpa sepengetahuan orang rumah.

“Bos, Pulang dulu ya!” Terdengar satu suara.. dua.. tiga.. eh-empat. Aduh, entahlah ada berapa orang yang tiba-tiba keluar dari pintu samping rumah tua. Sekejap saja, suara mereka hilang.. lenyap di telan malam.

Tini melihat ke arah langit. Tidak ada bintang malam ini. Karena langit mendung dan menutup seluruh bintang. Dan suasana ini sangat mendukung bagi Tini dan Rara. Mereka sama sekali tak terlihat mencurigakan karena tertutup bayangan awan hitam. Hanya saja, ia jadi tidak bisa memperkirakan pukul berapa sekarang.

“Eh Tin, kita sembunyi di sisi sebelah situ yuk.” Ajak Rara seraya menunjuk sisi lain dari rumah itu.

Mereka tidak sadar apa yang ada di belakang mereka. Sebuah sungai yang cukup deras aliran airnya. “Aaah..Tolong aku Tin” Terdengar pekik tertahan dari samping Tini. Tini pun dengan cepat memutar arah pandangnya, dan ia melihat Rara terpeleset nyaris terbawa arus sungai. Dengan sigap, Tini menangkap tangan Rara dan ia pun berpegangan pada sebuah batu yang agak menonjol panjang ke atas.

“Greekk..” Riri dan Tini segera menjauh dari sungai. Dan kini mereka mendapati sebuah lorong yang agak kecil mengarah landai, miring ke bawah tanah. “Pasti yang kamu jadikan pegangan tadi itu, kunci jalan rahasia”. “Mungkin” Jawab Tini sedikit ragu.

Begitu mereka sampai di dasar lorong, mereka melihat hal-hal yang yang bersinar terang. Mereka belum yakin benda apa itu.

“Oh my god!” Tini menahan keterkejutannya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak berteriak. Rara pun melakukan respon yang nyaris sama. Semua benda berkilauan itu adalah emas dan perhiasan-perhiasan dalam peti. Ada juga berlian dan permata yang ukurannya cukup besar. Dan semua harta karun lainnya.

Apa yang mereka lihat?

“Tini, ini adalah jawaban dari kecurigaanmu kemarin!”

Kemarin, Tini bercerita bahwa ia mendengar sekumpulan orang yang berdebat di balik pintu samping tempat Tini mencuri dengar kemarin, membicarakan soal jadwal penjagaan. Bahkan sesekali orang-orang itu menyebut-nyebut kata ‘rahasia besar kita’. Juga rencana pengangkutan ke daerah… entah apa namanya.

Setelah mereka merasa berhasil, mereka segera keluar, dan akan melaporkan kejadian itu esoknya pada pak kades. Karena atas apa yang di dengar Tini, mereka akan mengangkut semua harta karun itu esok lusa.

Tepat di ujung terowongan, Rara di kejutkan olehh tiga orang berbadan tegap yang menghadang.

“Ayo ra, kenapa berhenti? Di sini panas nih. Pengen cepet keluar” Desak Tini dari belakang Rara.

Namun Rara tetap bergeming dan tak mengucap sepatah katapun.

“Ayo keluar!” Dengan kasar, orang-orang itu menarik Rara keluar, dan segera mencengkran tangan Tini dengan kuat. Tini, yang tak mengerti sebelumnya, sempat terkejut dan meronta.

Sekarang, mereka menjadi tahanan para gengster itu.

Matahari telah menunjukkan senyumnya dengan malu-malu.

Riri dan Tini pun masih tetap terkurung di salah satu kamar dengan tangan terikat kebelakang. Mereka sangat kebingungan. Tini sempat menangis menyebut-nyebut nama mak dan bapaknya di rumah. Rara juga sesekali menggerutu tak jelas atau kadang menangis tertahan.

Waktu telah berlalu beberapa jam. Kini, jam dinding rumah Tini telah menunjukkan pukul sepuluh siang. Bapaknya mondar-mandir kebingungan karena tidak melihat Tini sedari pagi dan hingga kini belum juga terlihat batang hidungnya.

Dog..Dog..dogg!!!

Suara pintu dengan di gedor dengan keras. Bapak dan mak Tini segera berlari keluar denggan cemas.

“Nak Bayu? Ada apa?” Tanya mak Tini kebingungan.

“I..i-tu.. bu. Mbak Ti-ni sa..ma mbak Rara dalam bahaya” Ucap bayu, adik Rara terbata-bata.

“Ayo, ucapkan yang jelas. Ada apa? Jangan membuat ibu panik seperti ini!”

“Lebih baik, ibu dan bapak ikut dengan saya”

Mereka pun lari ke arah rumah tua yang terpercaya angker. Ternyata, di sana telah ada pak Kades dan orang tua Rara. Juga para penduduk desa.

Dan dari dalam rumah, polisi-polisi keluar sambil menggiring orang-orang yang di anggap asing penduduk sini. Tangan mereka telah di borgol.

Tiba-tiba..

“Emaakk..” Tangis Tini pun pecah lagi. Ia segera berlari memeluk mak dan bapaknya.

Pak Kades mengambil alih perhatian. "Tenang semuanya.. Penjahat-penjahat itu sudah tertangkap. Ternyata, selama ini rumah ini telah di huni para gangster, yang sebelumnya telah mengetahui keberadaan harta karun terpendam di rumah ini. Mungkin itu merupakan harta milik salah satu penduduk sini yang menghuni rumah itu.” Terang Pak Kades panjang lebar sambil sesekali menunjuk rumah itu.

Esoknya..

“Bayu, bagaimana kau tahu kami ada di dalam sana?” Tanya Tini saat ia bermain ke rumah Rara.

“Maaf Tin, sebelumnya aku sudah membocorkan hal ini ke adikku. Maaf ya!” Ucap Rara dengan perasaan bersalah

“Nggak papa kok. Karena pada akhirnya.. itu menjadi bermanfaat. Memang ada baiknya memberi tahu seseorang untuk mengawasi, siapa tahu kita dalam bahaya.

Bayu pun akhirnya menceritakan semuanya.

Dan Sekarang.. Desa tempat Rara dan Tini tinggal menjadi aman, tentram, dan damai kembali. Anak-anak juga sudah tak ada yang takut dengan rumah itu.

Rabu, 11 Agustus 2010

Jangan Coba-Coba jahil sama Tasya

Karena nilai rapot Tasya bagus, Bunda Ratu Tujuh Pelangi menghadiahi sebuah pensil. Bentuknya lucu. Berwarna merah, terbuat dari kristal dan bertuliskan nama Tasya. Pada pangkalnya terdapat hiasan berbentuk koala yang juga terbuat dari kristal. Lucunya lagi, koala hiasan itu bisa merekam suara apa saja.

Sekarang Tasya bisa mengingat PR yang diberikan oleh gurunya, halaman berapa dan soal nomor berapa saja yang harus dikerjakannya. Selama ini Tasya sering lupa dan harus telpon teman-temannya untuk menanyakan PR.

"Tasya, buruan! Nanti telat, lho!" Nenek Fay telah siap di teras.

Sementara jam yang tergantung di ruang tamu menunjuk tujuh kurang lima belas menit. Tasya keluar dengan berseragam dan menyandang tas. Sambil berjalan, diamatinya pensil barunya. Dipencetnya tombol-tombol kecil yang melingkar pada cincin di bawah hiasan koala.

"PR Matematika, halaman 12, nomer 1 sampai 8..." terdengar rekaman suara Tasya dari pensil.

"Udah!" jawab Tasya sambil menjentikkan jari. "Yap, sekarang berangkat!"

Dari seluruh murid yang ada di sekolah Tasya, tak ada yang sejahil dan senakal Roni. Hari ini giliran Tasya yang dijahilinya. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, diam-diam Roni menyembunyikan pensil baru Tasya. Padahal nanti ada pelajaran menggambar. Dan Tasya hanya bawa pensil itu.

Tasya tidak memperhatikannya, bahkan sampai Roni mengambil pensil ajaibnya dari dalam tasnya.

Selama istirahat Tasya berusaha mencari pensilnya. Teman-teman telah ditanyainya, tapi tak satu pun yang mengaku melihatnya. Uh, bandelnya si Roni! Ternyata dia telah mengancam seluruh anak di kelas!

"Awas ya, kalau kalian bilang atau meminjamkan pensil pada anak itu!" ancamnya sambil mengepalkan tinjunya.

Anak-anak patuh dan mengangguk-anguk karena takut.

"Hei, kodok! Aku pukul kamu kalau ngadu sama Bu Sam!" Roni pun mengancam Dewi, ketua kelas dan teman sebangku Tasya.

Sementara tangannya asyik memencet tombol-tombol pada pensil itu.

Tak lama kemudian bel berbunyi, tanda istirahat usai. Bu Sam masuk sambil membawa buku IPA, mata pelajaran berikutnya. Pelajaran yang menyenangkan sebenarnya buat Tasya, tetapi pikirannya masih tertuju pada pensil kesayangannya. Pandangannya menyebar ke seluruh penjuru kelas. Sesekali dilihatnya Roni dan gengnya yang cekikikan di belakang. Tapi ketika mata Tasya tertuju pada mereka, seketika mereka terdiam dan memasang tampang tak bersalah. Tasya mulai curiga.

"Apa nama hewan yang mirip kuda dan berbadan belang hitam-putih?" tiba-tiba Bu Sam telah memberikan pertanyaan.

"... kodok... Bu Sam... kodok... Bu Sam... kodok ... " sekonyong-konyong terdengar suara Roni dari belakang.

Keruan saja suasana kelas segera dipenuhi oleh suara tawa. Seluruh anak menertawakan Roni yang gelagapan di belakang. Mukanya merah dan bingung melihat seluruh mata di kelas tertuju padanya. Tangannya sibuk memenceti tombol pada pensil yang disembunyikan di bawah meja.

"Siapa itu?" bentak Bu Sam galak. Matanya menyelidik. "Kamu jawab apa Roni?"

Seketika ruang kelas terdiam.

"Bu... bu... bukan sa... ya, bu, " sahutnya tergagap. "Tapi... ini... "

Rupanya tanpa sengaja Roni telah merekam kata-katanya sendiri waktu mengancam Dewi. Lantas tanpa sengaja pula dia menekan tombol play waktu Bu Sam mengajukan pertanyaan. Masih dengan sikap galak Bu Sam meminta Roni maju. Tentu saja Bu Sam tidak percaya bahwa pensil yang ditunjukkan kepadanyalah yang mencemooh dirinya.

"Itu pensil saya, Bu!" wajah Tasya tiba-tiba berbinar.

Bu Sam melihat Tasya sejenak, kemudian bertanya pada Roni, "Benar ini pensil Tasya, Ron?"

Roni mengangguk sambil tertunduk. Dia tak mungkin mungkir karena nama Tasya tertera pada pensil itu. Tetapi akhirnya Roni dihukum oleh Bu Sam. Ingin tahu hukumannya? Berdiri di depan kelas sampai pelajaran IPA berakhir!

Anak Baru di Kelasku

LIBURAN telah usai. Kembali aku harus bangun pagi.

Uh-uh... malasnya. Bantal dan guling serasa ada lemnya. Lengket!

"Sekar! Ayo mandi! Nanti kamu terlambat, lho!" teriak Mama dari dapur.

"Ya, ya, ya ...," kataku sambil menggeliat.

Dengan gerakan serba kilat, aku akhirnya siap pergi sekolah.

"Selamat pagi, neng," sapa Pak Hendro, satpam di sekolah.

"Pagi, Pak Hendro!" jawabku.

Hari ini aku sudah kelas tiga. Seperti waktu naik kelas dua pada tahun lalu, teman-teman kelasku diacak dari kelas-kelas yang berbeda. Dalam daftar nama siswa kelas 3A ada Karinka, Ayas, Yacinta, dan Ayu. Mereka adalah teman-temanku sekelas waktu kelas satu.

Aduh asyiknya... bisa bikin geng lagi dengan mereka.

Geng itu kita namakan Geng Cabut. Kenapa namanya Geng Cabut, aku sendiri nggak ingat. Mungkin karena kita sering bilang "Yuk cabut!" kalau pengin pergi dari suatu tempat.

Ternyata di kelas tiga ini aku duduk sebangku dengan anak baru. Ibu Tika, wali kelas 3A dan guru favoritku, memanggil anak baru itu untuk memperkenalkan diri di depan kelas.

"Nama saya Suci. Waktu kelas dua saya sekolah di Tuban," kata Suci malu-malu.

"Orang tua saya telah meninggal saat saya berumur tiga tahun. Kemudian saya tinggal dengan paman.

Sekarang paman pindah ke Jakarta dan saya ikut pindah bersamanya. Alamat saya di Andara, Pondok Labu."

"Baiklah, Suci. Siapa yang ingin bertanya," Ibu Tika menawarkan.

"Suci, apa mainan kesukaanmu?" tanya Karinka.

"Saya suka main cublak-cublak suweng," jawab Suci spontan.

"Ha?! Mainan apa itu?" tanya Karinka dan anak-anak lain.

"Cublak-cublak suweng dimainkan oleh sekitar empat atau lima anak. Salah satu anak menelungkup dan yang lainnya mengelilingi anak itu. Kemudian sambil bernyanyi anak-anak mengelilingkan batu kecil di antara pemain. Pada saat lagu habis, anak yang kebagian batu kecil harus menyembunyikannya. Anak yang menelungkup bangkit dan menebak siapa yang membawa batu itu.

Lagunya asyik lho ...," jelas Suci panjang lebar seakan-akan berpromosi.

Anak-anak lain menyimak dengan penuh perhatian. "Ceritakan tentang daerahmu, Suci!" pintaku.

"Tuban terletak di pesisir utara Pulau Jawa. Selain ikan laut, Tuban terkenal dengan siwalan dan legen. Di sana ada tempat wisata gua yang besar. Namanya Gua Akbar. Paman mempunyai kebun dan ternak. Setiap hari saya membantu menggembala ternak," jelas Suci penuh semangat.

Aku jadi teringat dengan Bagas, sepupuku yang juga mempunyai kebun dan ternak. Anak-anak sekelas ribut sendiri. Ada yang bertanya-tanya tentang apa itu siwalan dan legen. Ada pula yang mencari-cari letak Tuban di peta.

Ketika jam istirahat aku sudah khawatir anak-anak Geng Cabut akan mempermainkan Suci si anak baru. Soalnya sudah menjadi kebiasaan Geng Cabut untuk mempermainkan anak baru. Dan gencetan, istilah yang kami pakai untuk mempermainkan anak baru, tidak tanggung-tanggung. Pokok-nya sampai anak itu menangis baru kami merasa puas.

Kekhawatiranku itu ternyata tidak terjadi. Karinka, Ayas, Jacinta dan Ayu malah asyik ngobrol dengan Suci di pinggir lapangan basket. Mereka tertawa-tawa gembira. Aku masih khawatir jangan-jangan ada jebakan di balik ketawa-ketiwi itu. Aku dekati mereka.

"Kalian sedang menggencet Suci, ya?" tanyaku pelan kepada Jacinta. Ia hanya mengangkat bahu.

"Mana mungkin kita menggencet Suci. Suci kan anaknya pintar, baik hati dan banyak pengalaman asyik yang tidak kita dapatkan di Jakarta. Nggak seperti anak baru sebelumnya yang sok tahu itu," jawab Karinka panjang.

"Dan satu lagi, gaya ngomongnya lucu… Medok!" tambahku. Kami semua tertawa, termasuk Suci.

Catatan Kecil Viola

"La, gimana? Siap nggak ulangan Matematika nanti?" tanya Natasha di depan kelas sebelum bel tanda belajar dimulai.

"Siplah!" jawab Viola singkat.

"Wah, hebat kamu, La. Aku malah nggak sempat belajar. Semalaman kemarin aku harus mengurusi adikku sakit. Mudah-mudahan ibu guru tidak memberikan soal ulangan yang rumit!" kata Natasha.

"Kalau aku jelas belajar dong, Sha!" jawab Viola percaya diri. Viola sebenarnya berbohong. Ia lebih suka mencontek dengan cara membuat catatan kecil daripada belajar. Hari itu pun sama. Viola telah mempersiapkan catatan kecilnya.

Bel tanda dimulainya belajar berbunyi. Viola, Natasha, dan murid-murid kelas VI SDN Pelita lain masuk kelas.

"Selamat pagi anak-anak! Hari ini kita ulangan Matematika. Karena itu, sekarang keluarkan alat tulis kalian! Ingat, jangan ada selembar catatan pun di atas meja kalian!"

Murid-murid pun menuruti perintah ibu guru, termasuk Viola.

"Ingat! Ibu lebih menyukai murid yang mendapat nilai kecil, tapi berbuat jujur daripada murid yang bernilai besar, tapi mencontek." ujar ibu guru sambil membagikan soal ulangan.

"Cihui… semua jawaban soal ulangan ini ada dalam catatan kecilku!" ucap Viola dalam hati setelah menerima lembar ulangan. Viola lalu merogoh saku roknya untuk mengambil pena.

Beberapa saat kemudian murid-murid terlihat mulai tekun mengisi jawaban soal-soal ulangan. Sementara Viola terlihat hendak melancarkan aksinya. Tangannya mulai merogoh saku roknya. Namun, ia kaget. Catatan kecilnya hilang.

"Aduh, di mana catatan kecilku? Gawat! Padahal tadi aku simpan di saku rokku! Tapi ..." Viola lalu mencari-cari di mana catatan kecilnya berada. Ia merogoh saku kanan dan saku kiri roknya, lalu saku kemejanya. Catatan kecilnya hilang entah kemana.

"Cari apa kamu, Viola?" tanya ibu guru ketika melihat gerak-gerik Viola.

"Ingat, bekerja sendiri. Jangan tengok kiri-kanan!" Viola kaget. "Nggak, Bu Guru. Saya nyari tip-eks," jawab Viola berbohong. Aya cepat-cepat menunduk, membaca soal ulangan. Viola mencoba menjawab soal-soal ulangan tersebut. Tapi, ia tidak bisa. Ia lalu mencoba mengingat-ingat yang ia tulis di catatan kecilnya. Namun, sama sekali tidak ingat dengan apa yang ditulisnya tadi malam di catatan kecilnya.

Viola lalu melirik ke arah teman-temannya. Ia melihat teman-temannya sedang tekun mengisi lembaran soal ulangan. Perasaan menyesal pun terlintas dalam diri Viola. Viola termenung. Soal-soal ulangan tersebut ia biarkan kosong.

Waktu pun berlalu. Hampir satu jam sudah murid-murid mengerjakan lembaran soal ulangan. Sementara itu, lembaran soal ulangan Viola tetap terlihat kosong. Kalaupun terisi, hanya seadanya.

"Waktu ulangan telah habis. Sekarang kumpulkan pekerjaan kalian di depan kelas. Setelah itu, kalian langsung menuju lapangan olahraga,"

Murid-murid pun menuruti perintah ibu guru. Dengan penuh semangat mereka mengumpulkan lembaran soal ulangan mereka, kecuali Viola. Viola terlihat lesu ketika menyerahkan lembaran soal ulangannya.

"Viola, sebentar. Ini milikmu?" tanya ibu guru pada Viola. Viola tercengang. Ia melihat catatan kecilnya itu berada di tangan ibu guru. Bagaimana mungkin catatan kecilnya itu berpindah tangan ke ibu guru secepat itu?

Sejenak Viola berpikir, jangan-jangan Natasha yang menyerahkannya ke ibu guru. Tapi, bagaimana mungkin? Bukankah ia juga tidak memberitahukan catatan kecilnya itu kepada siapapun, termasuk Natasha.

"Viola, kamu mungkin kaget melihat catatan kecilmu berada di tangan ibu. Kamu ingin tahu? Tadi ketika ibu membagikan lembaran soal ulangan di mejamu, kamu merogoh saku rokmu untuk mengambil penamu, kan? Nah, saat itulah ibu melihat catatan kecilmu terjatuh di bawah mejamu," ujar ibu guru sambil memandangi Viola.

"Ibu tahu ini bahan contekanmu, kan? Ibu tidak akan memarahimu. Ibu hanya heran, kenapa kamu tidak mengindahkan peringatan ibu tentang mencontek. Bukankah mencontek itu perbuatan curang? Bukankah mencontek itu hanya akan membodohi dirimu sendiri. Meskipun nilai ulanganmu besar, tetapi kamu tidak tahu apa-apa. Betul, kan Viola?"

Viola tertunduk malu mendengar ucapan ibu guru. Dalam hati ia berjanji, mulai saat ini ia tidak akan mencontek lagi. Ia akan rajin belajar, karena ia tidak ingin membodohi diri sendiri.

Hallo Semua...

Kenalin.. Sang Jilbaber yang bernama wina ini, sekarang udah duduk di bangku kelas SMA lho!! Tepatnya sih, di kelas NASA SATELIT, SMADABAYA. Makasih juga.. udah jadi visitornya^^