Tampilkan postingan dengan label cerita berhikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita berhikmah. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Februari 2013

Saat Aku Harus Mencintai

Bismillah. Aku menulis karenamu, Ya Rabb. Jadikan kami seorang penulis yang bermanfaat bagi orang lain.

Saat Aku Harus Mencintai

“Assalamu’alaikum. Mau kemana dik?” tanyaku seraya menebarkan senyum pada wanita anggun di depanku ini.

“Wa’alaikumsalam. Mmmm... Mau kesana. Mari...” katanya, tergesa. Kemudian dalam hitungan detik tak terlihat bayangannya. Hatikupun segera saja merindukannya. Merindukan wajahnya yang selalu teduh.

Jika ada kata yang bisa kusampaikan padamu, Zahra, maka aku akan mengatakan, maafkan aku yang telah mencintaimu. Waktu membuatku tak mampu membohongi perasaanku selama ini. Selama itu pula aku bersama denganmu dan teman-teman disini, berjuang bersama.

Aku hanya seorang pemuda yang tinggal di sebuah perkampungan di Surabaya. Dekat dengan kawasan lokalisasi. Aku dan keluargaku telah lama menjadi jama’ah di masjid Ar-Rahmah, yang termasuk dekat dengan daerah lokalisasi juga. Sayangnya kurang makmur masjid itu. Jama’ah yang sholat hanya segelintir. Tak pernah ada kajian-kajian yang memakmurkan masjid itu.

Dengan tekad bulat aku mengumpulkan remaja-remaja muslim di daerahku untuk bergerak mengadakan kegiatan-kegiatan positif di Ar-Rahmah. Awalnya sulit memang. Sedikit sekali yang mau datang. Tak jarang mereka datang dengan menggandeng pasangannya masing-masing. Atau datang hanya sekedar untuk jagongan mengisi waktu luang. Namun perlahan aku menyadarkan mereka, bahwa menuntut ilmu agama sangatlah penting.

Tidak hanya kajian, juga acara-acara memperingati hari besar islam berhasil kami adakan.

Sejak itulah, Fika, salah satu anggotanya, mengenalkanku pada Zahra, Zahra berkenan membantu proyek dakwahku ini. Tanpa ba bi bu lagi tentu saja kuterima dengan senang hati. Hatikupun bungah saat ia banyak menawarkan konsep-konsep luar biasa dalam memakmurkan Ar-Rahmah.

Waktu berjalan terasa lebih cepat, dan kini Ar-Rahmah dipenuhi dengan kajian-kajian rutin. Tidak hanya dikalangan pemuda saja, banyak bapak dan ibu-ibu yang juga ikut pengajian disini. Mempelajari bersama-bersama Al-Qur’an dan al-hadits, bersama asatidz yang ahli di bidangnya.

Diantaranya selalu ada Zahra. Dia tidak hanya gadis yang cantik, namun juga cerdas. Penyayang anak-anak, dan pandai bergaul dan berorganisasi. Orang tuanyapun dekat dengan orang tuaku. Sama-sama menjadi pengurus di panti asuhan dekat kampungku ini. Entahlah karena apa, namun harus kuakuiku, aku sangat kagum padanya, pada Zahra, Fatimah Az-Zahra nama lengkapnya.

Sungguh aku bukanlah orang yang mudah mencintai, namun jika rasa itu telah hadir, terlalu sulit kumelepasnya. Jika aku harus berada dalam satu acara bersama Zahra, tak dapat kutahan degup jantungku yang tak beraturan. Tinggi rendah, membuatku serba salah.

Aku tak mampu menahan ini semua. Apalagi jarak-rumahku dan Zahra tidak jauh, hanya berbeda beberapa gang saja. Kami sering sekali bertemu. Setiap kali pertemuan itu datang, rasa-rasanya ingin kusampaikan padanya bahwa aku mencintainya. Saat harus kusampaikan hal itu, suaraku tercekat di tenggorokan. Tak mampu, karena itu terlalu sulit bagiku.

Sebenarnya ada juga hal lain yang membuatku tak mau menyampaikan rasa ini padanya. Aku tak mampu ukhuwahku dengannya terputus, hanya gara-gara keegoisan diriku ini. Aku tak mampu meyakinkan bahwa ia juga mencintaiku. Dan yang aku tahu bahkan sangat tahu, Zahra tidak mungkin mau berpacaran, tidak seperti teman-temanku yang lain.

“Kenapa kamu tidak mencintai yang lain saja kalo begitu?” jawab Ilham santai, temanku yang juga menjadi anggota di Ar-Rahmah saat kucoba meminta pendapatnya. Ah.. Ilham, kamu terlalu polos, perasaan mana mungkin kita kendalikan. Ia hadir dan menyapa tanpa ada yang mengudangnya.

Apakah aku sanggup menyimpan rasa ini? Rasa yang menikam segenap hati dan jiwa. Rasa yang dialami oleh setiap anak Nabi Adam. Rasa ini.. sungguh benar-benar ingin kusampaikan padanya.

***

Malam yang hening. Angin semilir masuk perlahan-perlahan melewati ventilasi kamarku yang baru saja kubuka. Subuh belum juga datang.

“Rabbanaa hablanaa min azwaajina wa dzurriyyatin qurrota a’yun.” Doa memohon diberi keluraga yang sakinah ini membuatku meneteskan di hadapanku.

Aku mengerti Ya Rabb... mengapa engkau melarang hamba-hambamu menjalin cinta tanpa ada ikatan yang suci. Karena hanya nafsu saja yang akan mempermaikan anak manusia, dan syetan pasti ikut andil mengambil peran.

Aku telah mengikhlaskan segalanya pada Allah. Termasuk jodohku kelak. Toh, ia sudah tertulis, tinggal aku yang mencarinya saja.

Umurku tak lagi muda, dua puluh lima tahun. Mungkin inilah waktu yang kutunggu-kutunggu. Ternyata Allah memberikanku kesempatan untuk menyampaikan rasa hatiku pada Zahra, setelah hampir enam tahun menyimpannya.

“Ana (saya dalam bahasa arab) mencintai anti (kamu perempuan) sejak pertama kali kita berjuang bersama di Ar-Rahmah. Kini ingin kusampaikan bahwa ana ingin berjuang bersama anti lagi. Mencintai anti karena Allah dalam ikatan suci yang diridhoinya. Jika berkenan tolong terima pinanganku ini.”

Ayah dan Ibu terlihat lega dengan senyum yang tak mampu kutafsirkan. Begitu juga orang tua Zahra, senyumnya mengembang dan sesekali memandangi wajah anaknya yang indah itu.

“Bismillah dengan memohon rido Allah, insya Allah saya menerima pinangan Mas Firdaus.”

Subhanalloh dan walhamdulillah. Kini kami bersanding dalam pelaminan yang berhias bunga-bunga yang indah, seindah hati kami berdua. Merayakan cinta karena Allah.

“Dik.. apakah kamu pernah mencintai sebelumnya?” tanyaku pada Zahra seraya menatap wajahnya yang indah.

“Ya mas..” katanya lembut.

“Aku mencintaimu sejak pertama bertemu mas.” Katanya yang membuatku benar-benar membuatku terbang menyelami kebesaran Allah tanpa batas. Seakan inilah jawaban Allah atas kesabaranku untuk memutuskan tidak akan pacaran.

***

Oleh : Nabila Cahya Haqi (islami.bela@gmail.com)
Keep your love until the time answer :)

Rabu, 17 Oktober 2012

Sesungguhnya Allah maha Adil

Dahulu kala, ada dua orang raja di dua negeri yang bersebelahan. Raja pertama adalah seseorang yang sholih, bijaksana, dan sangat disayangi oleh penduduk sepenjuru negeri. Sedangkan raja kedua tidak memiliki sifat seperti si raja pertama dan justru sebaliknya, ia lalim, senang memerintah ini itu dan tidak merakyat dengan para penduduk dalam negeri tersebut.

Hingga suatu saat, kedua raja tersebut jatuh sakit meski tidak dalam waktu yang bersamaan. Penyakit ini telah menyebabkan sang raja pertama meninggal dunia, namun tidak pada raja kedua. Kenapa? karena penyakit kedua raja itu hanya bisa disembuhkan apabila mereka mengonsumsi ikan yang hanya akan keluar ke permukaan pada saat tertentu, pada musim tertentu pula. Sang raja pertama sakit pada saat musim ikan itu keluar, namun apa? ikan yang di tunggu-tunggu sebagai penawar sakit sang raja justru tak pernah muncul hingga kekuatan sang raja baik itu habis. Tapi ketika sang raja kedua sakit disaat bukan musim ikan itu untuk keluar, tak diduga-duga ikan yang tak mungkin muncul hari itu justru muncul, dan raja itu pun sembuh dari penyakitnya.

<Aku bertanya: kenapa tuhan begitu tidak adil? yang baik justru kalah, justru gagal, justru berakhir dengan buruk. Tapi yang jahat justru mendapat semua keberhasilan dan semua kesenangan itu!>


Temanku berkata:
Sesungguhnya skenario yang tertulis tidak demikian teman, semuanya terlihat seperti demikian itu karena kamu membacanya tanpa pemahaman hati yang jernih. Allah itu maha adil, se-adil-adilnya pemberi keputusan. 
Karena pada masa yang lalu, raja pertama pernah melakukan satu kesalahan sehingga Allah membalas satu kesalahan itu dengan tidak hadirnya ikan penyembuh pada saat ia sedang membutuhkannya. Namun di tempat yang lain, Allah sudah menyiapkan segudang hadiah berupa surga baginya sebagai imbalan atas semua ke-shalehan dan ke-arifannya saat hidup di dunia. Ingatlah, dunia ini tidaklah kekal, dan pastikan kamu sukses untuk akhirat yang kekal. 
Sedang pada raja kedua yang lalim itu, pada masa lalunya ia pernah melakukan satu kebaikan, sehingga Allah membalasnya dengan kehadiran ikan tersebut. Namun karena kelalimannya, Allah sudah menyiapkan balasan yang pantas untuknya di akhirat nanti karena ia tidak mengusahakan untuk bisa mendapatkan surga yang kekal tetapi berambisi penuh untuk dunia yang tidak kekal.

<Astaghfirullahal'adziim.. Aku baru memahaminya sekarang. Mungkin saat ini aku memang belum sukses, karena bisa jadi yang ku alami ini seperti sang raja pertama. Kesalahannya dibalas seketika agar ia tak lagi punya tanggungan dosa saat menerima hadiah2nya di akhirat. Karena aku menginginkan akhir yang berhasil, aku nggak bolah surut dan  menyerah sampai disini. Mungkin karena keinginanku begitu banyak dan tergolong tinggi, tak mungkin semua itu begitu mudahnya di dapatkan tanpa pengorbanan. Ini semata-mata karena Allah ingin membuatku berpacu lebih keras, dan menjadikan nilai-nilai itu sebagai pelecut agar aku lari dengan sangat kencang hingga bisa menggapai yang aku cita-cita kan.. Bismillah, Hamasah winaaa! Aku yakin, aku pasti bisa!!!>


Dream mode : on
Huwayna Hafizhotunniswah (Wina Zhonniwa)
s1 : Jurusan arsitektur - Institut Teknologi Sepuluh Nopember - Tahun 2013
s2 : Jurusan arsitektur - go to France >> Sourbone - full beastudy - Tahun 2017

Man Jadda wa jadda, man shabara zaafira
 

Hallo Semua...

Kenalin.. Sang Jilbaber yang bernama wina ini, sekarang udah duduk di bangku kelas SMA lho!! Tepatnya sih, di kelas NASA SATELIT, SMADABAYA. Makasih juga.. udah jadi visitornya^^