Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kehidupan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Oktober 2012

Sesungguhnya Allah maha Adil

Dahulu kala, ada dua orang raja di dua negeri yang bersebelahan. Raja pertama adalah seseorang yang sholih, bijaksana, dan sangat disayangi oleh penduduk sepenjuru negeri. Sedangkan raja kedua tidak memiliki sifat seperti si raja pertama dan justru sebaliknya, ia lalim, senang memerintah ini itu dan tidak merakyat dengan para penduduk dalam negeri tersebut.

Hingga suatu saat, kedua raja tersebut jatuh sakit meski tidak dalam waktu yang bersamaan. Penyakit ini telah menyebabkan sang raja pertama meninggal dunia, namun tidak pada raja kedua. Kenapa? karena penyakit kedua raja itu hanya bisa disembuhkan apabila mereka mengonsumsi ikan yang hanya akan keluar ke permukaan pada saat tertentu, pada musim tertentu pula. Sang raja pertama sakit pada saat musim ikan itu keluar, namun apa? ikan yang di tunggu-tunggu sebagai penawar sakit sang raja justru tak pernah muncul hingga kekuatan sang raja baik itu habis. Tapi ketika sang raja kedua sakit disaat bukan musim ikan itu untuk keluar, tak diduga-duga ikan yang tak mungkin muncul hari itu justru muncul, dan raja itu pun sembuh dari penyakitnya.

<Aku bertanya: kenapa tuhan begitu tidak adil? yang baik justru kalah, justru gagal, justru berakhir dengan buruk. Tapi yang jahat justru mendapat semua keberhasilan dan semua kesenangan itu!>


Temanku berkata:
Sesungguhnya skenario yang tertulis tidak demikian teman, semuanya terlihat seperti demikian itu karena kamu membacanya tanpa pemahaman hati yang jernih. Allah itu maha adil, se-adil-adilnya pemberi keputusan. 
Karena pada masa yang lalu, raja pertama pernah melakukan satu kesalahan sehingga Allah membalas satu kesalahan itu dengan tidak hadirnya ikan penyembuh pada saat ia sedang membutuhkannya. Namun di tempat yang lain, Allah sudah menyiapkan segudang hadiah berupa surga baginya sebagai imbalan atas semua ke-shalehan dan ke-arifannya saat hidup di dunia. Ingatlah, dunia ini tidaklah kekal, dan pastikan kamu sukses untuk akhirat yang kekal. 
Sedang pada raja kedua yang lalim itu, pada masa lalunya ia pernah melakukan satu kebaikan, sehingga Allah membalasnya dengan kehadiran ikan tersebut. Namun karena kelalimannya, Allah sudah menyiapkan balasan yang pantas untuknya di akhirat nanti karena ia tidak mengusahakan untuk bisa mendapatkan surga yang kekal tetapi berambisi penuh untuk dunia yang tidak kekal.

<Astaghfirullahal'adziim.. Aku baru memahaminya sekarang. Mungkin saat ini aku memang belum sukses, karena bisa jadi yang ku alami ini seperti sang raja pertama. Kesalahannya dibalas seketika agar ia tak lagi punya tanggungan dosa saat menerima hadiah2nya di akhirat. Karena aku menginginkan akhir yang berhasil, aku nggak bolah surut dan  menyerah sampai disini. Mungkin karena keinginanku begitu banyak dan tergolong tinggi, tak mungkin semua itu begitu mudahnya di dapatkan tanpa pengorbanan. Ini semata-mata karena Allah ingin membuatku berpacu lebih keras, dan menjadikan nilai-nilai itu sebagai pelecut agar aku lari dengan sangat kencang hingga bisa menggapai yang aku cita-cita kan.. Bismillah, Hamasah winaaa! Aku yakin, aku pasti bisa!!!>


Dream mode : on
Huwayna Hafizhotunniswah (Wina Zhonniwa)
s1 : Jurusan arsitektur - Institut Teknologi Sepuluh Nopember - Tahun 2013
s2 : Jurusan arsitektur - go to France >> Sourbone - full beastudy - Tahun 2017

Man Jadda wa jadda, man shabara zaafira
 

Rabu, 30 November 2011

Tidurlah Sayang




~penulis: Ade Anita ~




“Aku tidak mau tidur sendirian Bu.” Sebutir air mata meluncur dari kelopak mata yang memiliki bola mata indah itu. Cepat tangan kecil gadis di depanku itu menghapusnya. Wajahnya kusut dan memelas. Hmm… aku menghela napas panjang. Wajah bidadari ini selalu membuatku trenyuh dan tak kuasa untuk bilang tidak. Tapi kali ini kata ‘tidak” tidak boleh keluar dari mulutku.


“Begini saja, ibu temani sebentar yah.” sebuah senyuman terlukis di wajah permata hatiku itu.


“Kita tidur bertiga dengan Teddy bear yah?” Suaranya yang cadel dan kenes itu terdengar lirih.


“Teddy bear? Boleh. Berempat dengan sang bintang juga boleh.” Lalu kami masuk ke dalam kamarnya.


Kami tidur dengan kepala menghadap jendela kamar yang berdaun jendela lebar. Sengaja tidak dipasang gordein di sana agar pemandangan langit bisa terlihat jelas dari tempat kami berbaring. Langit tampak cerah malam itu. Bintang-bintang bertaburan memenuhi angkasa raya dan bulan tampak bersinar penuh dengan cahaya yang memantul berpendar-pendar. Aisyah, yang menjadi permata hatiku, mendekatkan kepalanya ke sisi pundakku, dan tangan mungilnya menyusup melingkari lenganku. Boneka Teddy bearnya menyembul di antara tubuh kami yang berhimpitan.


“Hmm… bagus yah, bintang-bintang itu.” Aku bertanya padanya dengan segala kekagumanku yang utuh pada keindahan jagad raya di atas sana. Subhanallah… Maha Suci Allah.


“Iyah bagus.” Suara kecil Aisyah mulai melemah karena diserang kantuk terdengar begitu lirih.


“Besok-besok… kamu tidak usah takut tidur sendirian yah. Ini hari terakhir ibu menemani kamu.” Tidak ada jawabannya, tapi aku rasakan rengkuhan tangan kecil di lenganku mengeras, sebuah isyarat tak hendak berpisah. Seperti malam-malam sebelumnya, rupanya malam inipun Aisyah tidak ingin tidur seorang diri.


“Kamu lihat bintang yang paling terang itu.” Tanganku menunjuk ke angkasa raya, pada satu titik di sebelah utara, dimana ada sebuah bintang yang terlihat paling terang cahayanya dan paling besar pula keberadaannya dibanding bintang yang lain.


‘Itu namanya bintang kejora.” Kemudian kami bersama mengagumi bintang kejora. Sederetan awan kelam yang berbaris mendekati bintang kejora, rupanya malu hati akan niatnya untuk menutupi bintang tersebut sehingga dengan cepat awan itu menyingkir dan kembali bintang kejora berpendar-pendar indah.


“Bagus bu… adik suka bintang kejora.” Suara lirih Aisyah kembali terdengar.


“Besok, kalau kamu tidur sendirian, kamu lihat saja ke langit. Insya Allah bintang kejora akan selalu muncul jika langit cerah. Kamu bayangkan bahwa ibu ada di sampingmu, sedang menatap bintang kejora bersama seperti malam ini. Jadi kamu tidak takut lagi tidur sendirian.” Sebuah senyuman terukir di mulut mungil Aisyah dan sebuah kecupan mendarat di pipiku yang dihadiahkan Aisyah padaku. Lama kami terdiam hingga yang terdengar kemudian adalah bunyi napas yang teratur. Hingga…,.


“Bagaimana jika bintang itu tidak muncul Bu ? “


“Hah ?…ngggnn.” Aku tidak langsung menjawab dan jeda waktu menunggu itu membuat sebuah kegelisahan tiba-tiba muncul di wajah Aisyah.


‘Bagaimana jika langit mendung dan badai datang ?” Suaranya yang semula lirih kini dipenuhi rasa kekhawatiran.


Kurengkuh tubuh mungilnya erat-erat… dan dengan lembut kubisikkan kata di telinganya, “Ada Allah yang selalu setia menemani kamu sayang…. Allah tidak akan pergi meninggalkan kamu, apapun keadaan yang datang dan selalu berubah-ubah. Bintang kejora itu adalah kasih ibu yang akan ibu berikan untuk kamu, tapi ibu dan bintang kejora, bahkan juga kamu, ayah, kakak, adalah ciptaan Allah, yang bisa menghilang, pergi jika Allah menghendakinya…. Tapi Allah yang Maha Pencipta selalu hadir menemani kamu. “


“Ibu akan pergi kemana ?”


“Suatu hari nanti, mungkin ibu akan pergi menghadap Allah. Kalau itu terjadi, kamu tidak bisa bertemu ibu lagi, kalau kamu kangen, kamu lihat saja ke langit yang cerah, bintang kejora itu adalah kasih sayang ibu yang sudah ibu ukir di sana agar kamu selalu ingat ibu. Jangan pernah merasa putus asa jika kamu merasa seorang diri… karena bintang kejora itu selalu bersinar berpendar-pendar meskipun awan gelap selalu berusaha menutupi kehadirannya. Kamu bisa lihat bintang itu dimanapun kamu berada di muka bumi ini. Dan ingat…. Meski bintang itu hilang karena siang muncul menggantikan malam, ada yang selalu setia menemani kamu dan menyayangi kamu melebihi kasih sayang ibu ke kamu, bahkan melebihi kasih sayang seluruh makhluk di muka bumi ini. Itu adalah kasih sayang Allah Subhanallahu Wa ta’ala… nah sekarang tidurlah… Pejamkan matamu.”


Tak ada jawaban, sebaliknya muncul sebuah pertanyaan baru.


“Apakah aku akan bertemu ibu lagi di hari esok ?” Bola mata bening bagaikan mutiara itu menatapku dengan penuh tanda tanya. Sebutir mutiara bening meluncur dari sana, dan genggaman jemari kecil di lengan tanganku kian erat. “Hanya Allah yang tahu sayang. Jika Allah mengizinkan, tentu kita akan bertemu dan bermain kembali… sekarang, tidurlah.”


Mata Aisyah menatapku dengan polos dan sebuah telaga bening di kelopak matanya terlihat bergetar tak kuasa menahan bendungan air yang terkumpul di sana. Kukecup keningnya dengan penuh rasa kasih dan sayang.


“Ibu sayang sama kamu, jika takdir datang dan memisahkan kita, rasa sayang dan doa ibu akan selalu tercurah untukmu nak… Bersyukurlah selalu pada Allah, karena apapun takdir yang diberikan oleh Allah, dalam perhitunganNya, itulah yang terbaik bagimu. Tidurlah… Ada Allah yang akan menjagaMu malam ini.

Jumat, 18 Maret 2011

Ranah 3 Warna

Setelah membaca negeri 5 menara, akhirnya daku sempat jua tuk membaca kelanjutannya. 
Ingin sekali rasanya bisa menjalani hidup dengan sehebat itu. 
Terasa begitu mudah saat melalu berbagai cobaan yang menimpa.

Terima Kasih Cha-Cha yang sudah berbaik hati meminjamkan novel yang sarat ilmu ini. 
Semoga ini dapat di contoh dan di terapkan dalam kehidupan nyata..

VENI, VIDI, VICI
-Saya datang, Saya Lihat, dan Saya menang-



Salah satu syair Sayyid Ahmad Hasyimi.
Syair ini diajarkan pada tahun ke-4 di pondok modern Gontor, Ponorogo


Kamis, 10 Februari 2011

Kutitip Surat ini Untukmu.. part I

Surat Ibu kepada Putranya

"Orang tua pintu surga yang di tengah, sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!" 
(HR. Ahmad)

Kutitip surat ini anakku!

Nanda yang kusayangi, di bumi Allah ta'ala...

Segala puji ibu panjatkan kehadirat Allah yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Aamiin...

Wahai Anakku,

Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara...  Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulisdan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap itu pula goresan tulisan terhalangi oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air matasetiap itu pula hati terluka...

Wahai anakku!

Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hatiku dan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku... 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku dan semua Ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi. Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan, tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu wahai anakku! Pada kondisi lemah diatas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu sangat gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu atau balikan badanmu dalam perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak lagi dapat menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari dipelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar kedunia

Engkau pun lahir... Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan itu semua, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku raih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.

Wahai anakku... Telah berlalu tahun dan usiamu. Aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan padamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.

Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu... Itulah kebahagiaanku!.

Kemudian, berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selamua itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhanti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah serta mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu. Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis, telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan kanan demi mencari pasangan hidupmu.

semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. Saat itu pula hatiku serasa teriris-iri, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah tercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapat pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.

Waktupun berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dalam kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang keguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi, penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu.

Akan tetapi semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputus asaan, yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku... Ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan. Yang ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar ibu teringat pula hari-hari bahagia masa kecilmu.

Yang ibu tagih padamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempt persinggahanmu, agar engkau dapat pula sekali-kali singgah kesana sekalipun hanya satu detik, jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit... Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya di bopong, sekalipun begitu cintaku padamu masih seperti dulu, masih seperti lautan yang tidak pernah kering, Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.

Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannnya dengan keaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu... Mana balas budimu nak? Mana balasan baikmu?! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak?! Susu yang ibu berikan engkau balas dengan tuba?! Bukankah Allah ta'ala berfiman:
(هَلْ جَزَاء الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ(٦٠
Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula? (QS. Ar-Rahman:60)


Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu? Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertyambah kebahagiaanku Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil keletihanku, Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah ku perbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu? pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian pembantu dan budakmu? Mereka telah mendapatkan upahnya, lalu mana upah yang layak untukku wahai anakku!

Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku dibawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta'ala mencintai orang yang berbuat baik.

Wahai anakku! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan  yang lain.

Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki yang supel, dermawan, dan berbudi Anakku... tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan rindu, berselimutkan kesdihan, dan berpakaian kedukaan?

Bukan karena apa-apa. Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengeluarkan air matanya... Hanya karena engaku telah membalasnya dengan luka di hatinya... hanya karena engkau pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya.. hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?

Wahai anakku, Ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu disana dengan kasih sayang Allah ta'ala.

Anakku, aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau beranjak dewasa saat itu pula sifat tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.

Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadist yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yanitu bahwa nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.

Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: 'aku bertanya kepada rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, "wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia?" beliau berkata: "Shalat pada waktunya", aku berkata: "kemudian apa, wahai rasulullah?" Beliau berkata "berbakti kepada orang tua", aku berkata: "kemudian wahai Rasulullah?" beliau menjawab: "jihad di jalan Allah" lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.'
(HR. Bukhari, Musliman Ahmad)

Wahai anakku, ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak untuk berletih dalam berinfak.

Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mecari tambang emas?! setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya dirumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, disebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.


Begitulah perumpamaan dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau lupa bahwa didekatmu ada pahala yang maha besar. Disampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu, Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah, dan murkaku adalah kemurkaanNya?


Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi Shalallahu alaihi wasallam dalam sabdanya:


"merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang, dikatakan (kepada Rasulullah): 'siapa dia wahai Rasulullah?' beliau menjawab "orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga"
(HR. Muslim)

Anakku... Aku tidak angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkankan engkau adalah jantung hatiku... Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku kebahagiaan hidupku.

Bangunlah nak, uban sudah merambat dikepalamu, akan berlalu masa sehingga engkau akan menjadi tua, dan al-jaza' min jinsil 'amal...  Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam... Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata pula kepadamu.

Wahai anakku, Bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.

Anakku... Setelah engkau membaca surat ini, terserah kepadamu, apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam,

Ibumu.

Jumat, 29 Oktober 2010

Lukisan Langit

Dulu kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Aku melihat awan yang nampak seperti benua Amerika, Namun temanku yang lain memandang lukisan awan itu dengan penafsiran yang berbeda-beda. Raja Bersi keras, awan yang sama berbentuk Eropa. Sedangkan Atang tidak yakin dengan kami berdua dan sangat percaya bahwa awah tersebut berbentuk benua Afrika. Baso malah melihat semua ini semua dengan konteksi Asia. Dan lain halnya dengan kami semua, Said dan Dulmajid yang sangan nasionalis menganggap awan itu berbentu seperti peta Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Dulu kami tidak takut bermimpi, walau sejujurnya kami pun tak tahu bagaimana cara merealisasikannya.


Tapi lihatlah kini. Setelah kami mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkannya dengan do'a, Tuhan mengirim benua impian itu kepelukan masing-masing. Kun Fayakun. Dari bermula awan impian, kini semuanya berubah menjadi kenyataan.


Kami berenam telah berada di 5 negara yang berbeda. Di lima menara impian kami -mengingat begitu besar perjuangan kami dalam menimba ilmu di Pondok Madani selama 4 tahun. Juga menara kebesaran PM hingga kami di juluki oleh kawan-kawan sebagai sahibul menara-. Untuki itu, jangan pernah meremehkan impian walau setinggi apapun. Sungguh, Tuhan maha mendengar.


"Man Jadda wa Jadda", Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.



Di kutip, di adopsi dan di adaptasi dari novel "negeri 5 Menara".
Dengan sedikit editan oleh: Wina Zhonniwa

Kamis, 02 September 2010

Memories....

“Liana!” Sapanya ceria.

 Ia menghampiriku dan berdiri tak jauh di hadapanku. Kedua tangannya tersembunyi di balik tubuhnya sambil tersenyum lebar ke arahku. Memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

“Hai, Nid?” Ucapku dengan raut menyelidik. Alisku bertaut karena heran.

“Ada apa nih? Happy  Banget. Abis menang undian 1 milyar ya?” Celetukku asal. Mau tak mau aku tersenyum juga. Tak tahan untuk tidak menggodanya.

“Liat nih! Surprise!!” Sahabatku itu menyodorkan sebuah kotak yang berukuran cukup besar kepadaku.

Ugh! Berat juga ternyata.

Happy Birthday Lianaaa..! Untuk sahabatku yang paling baik dari yang terbaik” Ucapnya lagi.

Hiks. Aku benar-benar terharu di buatnya. Kotak itu ku letakkan di meja depanku, dan ku peluk ia dengan erat. “Thanks bangeett.Aku kira nggak bakalan ada yang inget sama ultahku yang ke-12 ini! Waah.. Kamu emang yang terbaik deh. Best of the best

“Ah, ikut-ikutan lo! Itukan kata-kataku!” Sungutnya kesal sambil mendorongku pelan.

“Udah ah, mana kotaknya? Bawa sini dong!” Panggil Nidya dari arah meja paling depan. Kemudian, aku mengikutinya, dan meletakkan kotaak  itu di atas meja.

Pandangan ku kini teralih pada jam tangan pink keemasan yang melingkar manis di pergelangan kiriku.’Udah jam segini kok belum ada yang
datang ya?’ Pikirku dalam hati.

“Mereka pada kemana ya?” Ucapku perlahan, hingga nyaris seperti bisikan.

Aku tak memperhatikan pada apa yang sedang di lakukan Nidya dengan kotak tadi karena terlalu asyik dengan pikiranku sendiri. Iseng, mataku mengamati dan menyusuri sudut-sudut kelas yang kosong. Begitu sepi.

Terdengar jeritan, tawa, dan suara-suara entah apa yang sedang di lakukan anak-anak di kelas sebelah. Ini memang belum jam masuk. Tapi, sebagian besar siswa di sekolah ini terbiasa dating cukup pagi. Dan pagi ini, seperti biasa. Setiap kelas memiliki kesibukan masing-masing dengan pada penghuninya seperti hari-hari biasanya. Hanya kelasku yang kosong melompong dan menyisakan seribu tanda Tanya.

Tiba-tiba..

“Tunggu..” Seruku pelan.

Namun sepertinya tak cukup pelan untuk tidak terdengar oleh telinga Nidya yang tajam.

Dengan cueknya, aku tetap menatap tajam pada satu titik. Ada sesuatu yang janggal di balik rolling door yang sedikit terbuka itu. Dengan perlahan, akhirnya tiga langkah telah ku lalui.

“Lian..! sini deh!” Panggilan Nidya berhasil membalikkan langkahku. Ia memegang buku yang terbuka untuk menutup bagian tepi kotak supaya menghalangi penglihatanku.

Dann…

“Taraaa… “ Kemudian ia bersiul keras.. “Suiiuuwiiittttt…”

Happy Birthday to you.. Happy Birthday to you..” Suara semua teman sekelas pun menggema seantero ruangan yang berukuran 4x5 meter itu.

Ohh! Itu dia!. Semua kejanggalan dan kecurigaanku terkuak sudah. Tapi.. Oh my God! Tart mini dengan lilin angka dua belas di atasnya?. Mataku membulat saat melihatnya.

Bukan main. Ini, sungguh kejutan yang luar biasa!. Sontak, aku pun langsung memeluknya “Makasiiihh… Makasih banyaaak..” Bisikku perlahan di telinganya.

“MAKASIH SEMUANYA!!”

“Hey. LIANA” Tiba-tiba.. Terdengar suara seseorang yang menyerukan namaku.

“Hah??” Aku mengerjap-ngerjapkan mata karena kaget. Sambil mengembalikan kesadaranku, aku menatapnya heran. “Sita?”

BYARRR!! Hilanglah semua lamunanku. Nidya… Kejutan… Kue tart… lilin angka 12… Huh! ‘Itu semua sudah berlalu Liana!’ hiburku dalam hati sambil mengelus dada.

Setidaknya.. Memori otakku yang berkapasitas ribuan giga ini masih mampu menampung seluruh peristiwa ulang tahunku yang paling bersejarah itu.

Nidya pindah rumah ke Semarang karena tuntutan pekerjaan Abi-nya. Tepatnya, seminggu setelah hari ulang tahunku, yang juga segera di kejutkan dengan kepindahannya yang tiba-tiba. Entah, bagaimana  ya kabarnya? Sudah lama sekali komunikasi kami terputus. Ah, jadi kengen.

Oke. Kembali ke masa sekarang. Aku, Liana Cleveriana Siswi SMP Cempaka, kelas 9. Yaitu, tempat di mana aku nyaris tak pernah merasakan déjà vu masa SD.

“Helloooww… Lianaa!” Sita mengibaskan tangannya tepat di depan hidungku yang pesek ini. “Gimana? Udah nginjek bukmi lagi belom?” Seru Sita bercanda. Akhirnya aku berhasil menarik sudut bibirku keatas membentuk seulas senyum. Senyum yang tampak sedikit terpaksa.

Melihat Sunset begini emang paling menyenangkan! Apalagi dengan di temani segelas besar es degan dan semangkuk bakso. Hmm.. makin maknyus deeh..

Aku jadi sedikit merasa bersalah pada Sita. Susah payah, ia mengajakku ke pantai ini untuk menghilangkan kesedihanku sekaligus hadiah, mengingat kejadian 3 tahun yang lalu tidak terulang pada ulang tahunku tahun ini yang Jatuh tepat dua hari yang lalu.
Eh, Nggak tahunya.. Malah aku tinggal berkelana ke masa lalu!!.

Sita, sahabatku pengganti Nidya. Aku merasa sangat beruntung sudah di pertemukan dengannya. Saat itu kami masih duduk di kelas 7. Mulanya, kami hanya sekedar berkenalan.. bertanya nama.. Dan hal-hal yang biasa di tanyakan saat perkenalan. Namun, lambat laun, omongan kamipun mulai merambah ke topil-topik lain. Kami merasa memiliki kecocokan. Jadi, kalau sudah bercerita, pasti nggak aka nada habisnya. Yah, selera kami memang mirip bangett!.

“Sit, kita pindah ke sana yuk! Di bukit itu!” Tunjukku pada sebuah bukit buatan yang ada di sebelah utara kami. “AYOK, MATAHARINYA KEBURU ILANG TUH!” Teriakku lagi.

“Aaaaaaahh….” Kami berdua pun lari di sepanjang tepian pantai. Dengan tangan terentang dan tatapan menengadah ke atas. Angin pantai yang bertiup semilir, menghembuskan seluruh kepenatan otak.

“Hei Liana, TUNGGUU..!”

Ups. Sita ketinggalan. Aku pun berhenti dan menunggu hingga Sita berhasil menjajari langkahku. Kita pun kembali berlari sambil bergandengan tangan.

“Kenceng-kencengan yuk! 1..2..3..” Aku member aba-aba.

“Aaaaaaaaaaaaarrgghhhhhhhhh… Hahahahahaaa…” Begitu kencengnya, sampai-sampai aku berpikiran kalau suaraku dan Sita ini bisa terdengar sampai ke negeri seberang lho!.

Hallo Semua...

Kenalin.. Sang Jilbaber yang bernama wina ini, sekarang udah duduk di bangku kelas SMA lho!! Tepatnya sih, di kelas NASA SATELIT, SMADABAYA. Makasih juga.. udah jadi visitornya^^