Jumat, 28 Juni 2013

Zaman Ketidak Kepercayaan


Di Zaman Ketidak Percayaan Ini
Jangan Pernah Lagi Bikin Janji-Janji
Kalau Benar Ada Api Cinta Di Hatimu.

Bakarlah Benci yang Tlah Merampas Keadilan
Bakarlah Serakah yang Tlah Merenggut Kemakmuran

Jangan Pernah Lagi Bikin Janji-Janji
Ajak Saja Orang-Orang Miskin Itu
Bicara Tentang Negeri yang Mereka Huni

Ajak Saja Orang-Orang Kecil Itu
Bicara Tentang Keadilan Dari Hukum yang Tak Ditegakkan

Di Zaman Ketidak Percayaan Ini
Tidur Mungkin Tak Lagi Nyenyak
Tetapi Tetap di Selingi Mimpi yang Terputus-putus
Bahwa Suatu Saat Kata Masih Bisa Punya Arti

Puisi terbaru oleh :
--> Ust. Anis Matta <--


Disini ada kami, para generasi muda penerus cita-cita mulia ini, pasukan GK yang akan siap merapatkan barisan dan menselaraskan pemikiran, visi, misi, dan doa-doa panjang.
Innallaha ma'anna.

Senin, 11 Februari 2013

Saat Aku Harus Mencintai

Bismillah. Aku menulis karenamu, Ya Rabb. Jadikan kami seorang penulis yang bermanfaat bagi orang lain.

Saat Aku Harus Mencintai

“Assalamu’alaikum. Mau kemana dik?” tanyaku seraya menebarkan senyum pada wanita anggun di depanku ini.

“Wa’alaikumsalam. Mmmm... Mau kesana. Mari...” katanya, tergesa. Kemudian dalam hitungan detik tak terlihat bayangannya. Hatikupun segera saja merindukannya. Merindukan wajahnya yang selalu teduh.

Jika ada kata yang bisa kusampaikan padamu, Zahra, maka aku akan mengatakan, maafkan aku yang telah mencintaimu. Waktu membuatku tak mampu membohongi perasaanku selama ini. Selama itu pula aku bersama denganmu dan teman-teman disini, berjuang bersama.

Aku hanya seorang pemuda yang tinggal di sebuah perkampungan di Surabaya. Dekat dengan kawasan lokalisasi. Aku dan keluargaku telah lama menjadi jama’ah di masjid Ar-Rahmah, yang termasuk dekat dengan daerah lokalisasi juga. Sayangnya kurang makmur masjid itu. Jama’ah yang sholat hanya segelintir. Tak pernah ada kajian-kajian yang memakmurkan masjid itu.

Dengan tekad bulat aku mengumpulkan remaja-remaja muslim di daerahku untuk bergerak mengadakan kegiatan-kegiatan positif di Ar-Rahmah. Awalnya sulit memang. Sedikit sekali yang mau datang. Tak jarang mereka datang dengan menggandeng pasangannya masing-masing. Atau datang hanya sekedar untuk jagongan mengisi waktu luang. Namun perlahan aku menyadarkan mereka, bahwa menuntut ilmu agama sangatlah penting.

Tidak hanya kajian, juga acara-acara memperingati hari besar islam berhasil kami adakan.

Sejak itulah, Fika, salah satu anggotanya, mengenalkanku pada Zahra, Zahra berkenan membantu proyek dakwahku ini. Tanpa ba bi bu lagi tentu saja kuterima dengan senang hati. Hatikupun bungah saat ia banyak menawarkan konsep-konsep luar biasa dalam memakmurkan Ar-Rahmah.

Waktu berjalan terasa lebih cepat, dan kini Ar-Rahmah dipenuhi dengan kajian-kajian rutin. Tidak hanya dikalangan pemuda saja, banyak bapak dan ibu-ibu yang juga ikut pengajian disini. Mempelajari bersama-bersama Al-Qur’an dan al-hadits, bersama asatidz yang ahli di bidangnya.

Diantaranya selalu ada Zahra. Dia tidak hanya gadis yang cantik, namun juga cerdas. Penyayang anak-anak, dan pandai bergaul dan berorganisasi. Orang tuanyapun dekat dengan orang tuaku. Sama-sama menjadi pengurus di panti asuhan dekat kampungku ini. Entahlah karena apa, namun harus kuakuiku, aku sangat kagum padanya, pada Zahra, Fatimah Az-Zahra nama lengkapnya.

Sungguh aku bukanlah orang yang mudah mencintai, namun jika rasa itu telah hadir, terlalu sulit kumelepasnya. Jika aku harus berada dalam satu acara bersama Zahra, tak dapat kutahan degup jantungku yang tak beraturan. Tinggi rendah, membuatku serba salah.

Aku tak mampu menahan ini semua. Apalagi jarak-rumahku dan Zahra tidak jauh, hanya berbeda beberapa gang saja. Kami sering sekali bertemu. Setiap kali pertemuan itu datang, rasa-rasanya ingin kusampaikan padanya bahwa aku mencintainya. Saat harus kusampaikan hal itu, suaraku tercekat di tenggorokan. Tak mampu, karena itu terlalu sulit bagiku.

Sebenarnya ada juga hal lain yang membuatku tak mau menyampaikan rasa ini padanya. Aku tak mampu ukhuwahku dengannya terputus, hanya gara-gara keegoisan diriku ini. Aku tak mampu meyakinkan bahwa ia juga mencintaiku. Dan yang aku tahu bahkan sangat tahu, Zahra tidak mungkin mau berpacaran, tidak seperti teman-temanku yang lain.

“Kenapa kamu tidak mencintai yang lain saja kalo begitu?” jawab Ilham santai, temanku yang juga menjadi anggota di Ar-Rahmah saat kucoba meminta pendapatnya. Ah.. Ilham, kamu terlalu polos, perasaan mana mungkin kita kendalikan. Ia hadir dan menyapa tanpa ada yang mengudangnya.

Apakah aku sanggup menyimpan rasa ini? Rasa yang menikam segenap hati dan jiwa. Rasa yang dialami oleh setiap anak Nabi Adam. Rasa ini.. sungguh benar-benar ingin kusampaikan padanya.

***

Malam yang hening. Angin semilir masuk perlahan-perlahan melewati ventilasi kamarku yang baru saja kubuka. Subuh belum juga datang.

“Rabbanaa hablanaa min azwaajina wa dzurriyyatin qurrota a’yun.” Doa memohon diberi keluraga yang sakinah ini membuatku meneteskan di hadapanku.

Aku mengerti Ya Rabb... mengapa engkau melarang hamba-hambamu menjalin cinta tanpa ada ikatan yang suci. Karena hanya nafsu saja yang akan mempermaikan anak manusia, dan syetan pasti ikut andil mengambil peran.

Aku telah mengikhlaskan segalanya pada Allah. Termasuk jodohku kelak. Toh, ia sudah tertulis, tinggal aku yang mencarinya saja.

Umurku tak lagi muda, dua puluh lima tahun. Mungkin inilah waktu yang kutunggu-kutunggu. Ternyata Allah memberikanku kesempatan untuk menyampaikan rasa hatiku pada Zahra, setelah hampir enam tahun menyimpannya.

“Ana (saya dalam bahasa arab) mencintai anti (kamu perempuan) sejak pertama kali kita berjuang bersama di Ar-Rahmah. Kini ingin kusampaikan bahwa ana ingin berjuang bersama anti lagi. Mencintai anti karena Allah dalam ikatan suci yang diridhoinya. Jika berkenan tolong terima pinanganku ini.”

Ayah dan Ibu terlihat lega dengan senyum yang tak mampu kutafsirkan. Begitu juga orang tua Zahra, senyumnya mengembang dan sesekali memandangi wajah anaknya yang indah itu.

“Bismillah dengan memohon rido Allah, insya Allah saya menerima pinangan Mas Firdaus.”

Subhanalloh dan walhamdulillah. Kini kami bersanding dalam pelaminan yang berhias bunga-bunga yang indah, seindah hati kami berdua. Merayakan cinta karena Allah.

“Dik.. apakah kamu pernah mencintai sebelumnya?” tanyaku pada Zahra seraya menatap wajahnya yang indah.

“Ya mas..” katanya lembut.

“Aku mencintaimu sejak pertama bertemu mas.” Katanya yang membuatku benar-benar membuatku terbang menyelami kebesaran Allah tanpa batas. Seakan inilah jawaban Allah atas kesabaranku untuk memutuskan tidak akan pacaran.

***

Oleh : Nabila Cahya Haqi (islami.bela@gmail.com)
Keep your love until the time answer :)

Rabu, 17 Oktober 2012

Sesungguhnya Allah maha Adil

Dahulu kala, ada dua orang raja di dua negeri yang bersebelahan. Raja pertama adalah seseorang yang sholih, bijaksana, dan sangat disayangi oleh penduduk sepenjuru negeri. Sedangkan raja kedua tidak memiliki sifat seperti si raja pertama dan justru sebaliknya, ia lalim, senang memerintah ini itu dan tidak merakyat dengan para penduduk dalam negeri tersebut.

Hingga suatu saat, kedua raja tersebut jatuh sakit meski tidak dalam waktu yang bersamaan. Penyakit ini telah menyebabkan sang raja pertama meninggal dunia, namun tidak pada raja kedua. Kenapa? karena penyakit kedua raja itu hanya bisa disembuhkan apabila mereka mengonsumsi ikan yang hanya akan keluar ke permukaan pada saat tertentu, pada musim tertentu pula. Sang raja pertama sakit pada saat musim ikan itu keluar, namun apa? ikan yang di tunggu-tunggu sebagai penawar sakit sang raja justru tak pernah muncul hingga kekuatan sang raja baik itu habis. Tapi ketika sang raja kedua sakit disaat bukan musim ikan itu untuk keluar, tak diduga-duga ikan yang tak mungkin muncul hari itu justru muncul, dan raja itu pun sembuh dari penyakitnya.

<Aku bertanya: kenapa tuhan begitu tidak adil? yang baik justru kalah, justru gagal, justru berakhir dengan buruk. Tapi yang jahat justru mendapat semua keberhasilan dan semua kesenangan itu!>


Temanku berkata:
Sesungguhnya skenario yang tertulis tidak demikian teman, semuanya terlihat seperti demikian itu karena kamu membacanya tanpa pemahaman hati yang jernih. Allah itu maha adil, se-adil-adilnya pemberi keputusan. 
Karena pada masa yang lalu, raja pertama pernah melakukan satu kesalahan sehingga Allah membalas satu kesalahan itu dengan tidak hadirnya ikan penyembuh pada saat ia sedang membutuhkannya. Namun di tempat yang lain, Allah sudah menyiapkan segudang hadiah berupa surga baginya sebagai imbalan atas semua ke-shalehan dan ke-arifannya saat hidup di dunia. Ingatlah, dunia ini tidaklah kekal, dan pastikan kamu sukses untuk akhirat yang kekal. 
Sedang pada raja kedua yang lalim itu, pada masa lalunya ia pernah melakukan satu kebaikan, sehingga Allah membalasnya dengan kehadiran ikan tersebut. Namun karena kelalimannya, Allah sudah menyiapkan balasan yang pantas untuknya di akhirat nanti karena ia tidak mengusahakan untuk bisa mendapatkan surga yang kekal tetapi berambisi penuh untuk dunia yang tidak kekal.

<Astaghfirullahal'adziim.. Aku baru memahaminya sekarang. Mungkin saat ini aku memang belum sukses, karena bisa jadi yang ku alami ini seperti sang raja pertama. Kesalahannya dibalas seketika agar ia tak lagi punya tanggungan dosa saat menerima hadiah2nya di akhirat. Karena aku menginginkan akhir yang berhasil, aku nggak bolah surut dan  menyerah sampai disini. Mungkin karena keinginanku begitu banyak dan tergolong tinggi, tak mungkin semua itu begitu mudahnya di dapatkan tanpa pengorbanan. Ini semata-mata karena Allah ingin membuatku berpacu lebih keras, dan menjadikan nilai-nilai itu sebagai pelecut agar aku lari dengan sangat kencang hingga bisa menggapai yang aku cita-cita kan.. Bismillah, Hamasah winaaa! Aku yakin, aku pasti bisa!!!>


Dream mode : on
Huwayna Hafizhotunniswah (Wina Zhonniwa)
s1 : Jurusan arsitektur - Institut Teknologi Sepuluh Nopember - Tahun 2013
s2 : Jurusan arsitektur - go to France >> Sourbone - full beastudy - Tahun 2017

Man Jadda wa jadda, man shabara zaafira
 

Rabu, 30 November 2011

Tidurlah Sayang




~penulis: Ade Anita ~




“Aku tidak mau tidur sendirian Bu.” Sebutir air mata meluncur dari kelopak mata yang memiliki bola mata indah itu. Cepat tangan kecil gadis di depanku itu menghapusnya. Wajahnya kusut dan memelas. Hmm… aku menghela napas panjang. Wajah bidadari ini selalu membuatku trenyuh dan tak kuasa untuk bilang tidak. Tapi kali ini kata ‘tidak” tidak boleh keluar dari mulutku.


“Begini saja, ibu temani sebentar yah.” sebuah senyuman terlukis di wajah permata hatiku itu.


“Kita tidur bertiga dengan Teddy bear yah?” Suaranya yang cadel dan kenes itu terdengar lirih.


“Teddy bear? Boleh. Berempat dengan sang bintang juga boleh.” Lalu kami masuk ke dalam kamarnya.


Kami tidur dengan kepala menghadap jendela kamar yang berdaun jendela lebar. Sengaja tidak dipasang gordein di sana agar pemandangan langit bisa terlihat jelas dari tempat kami berbaring. Langit tampak cerah malam itu. Bintang-bintang bertaburan memenuhi angkasa raya dan bulan tampak bersinar penuh dengan cahaya yang memantul berpendar-pendar. Aisyah, yang menjadi permata hatiku, mendekatkan kepalanya ke sisi pundakku, dan tangan mungilnya menyusup melingkari lenganku. Boneka Teddy bearnya menyembul di antara tubuh kami yang berhimpitan.


“Hmm… bagus yah, bintang-bintang itu.” Aku bertanya padanya dengan segala kekagumanku yang utuh pada keindahan jagad raya di atas sana. Subhanallah… Maha Suci Allah.


“Iyah bagus.” Suara kecil Aisyah mulai melemah karena diserang kantuk terdengar begitu lirih.


“Besok-besok… kamu tidak usah takut tidur sendirian yah. Ini hari terakhir ibu menemani kamu.” Tidak ada jawabannya, tapi aku rasakan rengkuhan tangan kecil di lenganku mengeras, sebuah isyarat tak hendak berpisah. Seperti malam-malam sebelumnya, rupanya malam inipun Aisyah tidak ingin tidur seorang diri.


“Kamu lihat bintang yang paling terang itu.” Tanganku menunjuk ke angkasa raya, pada satu titik di sebelah utara, dimana ada sebuah bintang yang terlihat paling terang cahayanya dan paling besar pula keberadaannya dibanding bintang yang lain.


‘Itu namanya bintang kejora.” Kemudian kami bersama mengagumi bintang kejora. Sederetan awan kelam yang berbaris mendekati bintang kejora, rupanya malu hati akan niatnya untuk menutupi bintang tersebut sehingga dengan cepat awan itu menyingkir dan kembali bintang kejora berpendar-pendar indah.


“Bagus bu… adik suka bintang kejora.” Suara lirih Aisyah kembali terdengar.


“Besok, kalau kamu tidur sendirian, kamu lihat saja ke langit. Insya Allah bintang kejora akan selalu muncul jika langit cerah. Kamu bayangkan bahwa ibu ada di sampingmu, sedang menatap bintang kejora bersama seperti malam ini. Jadi kamu tidak takut lagi tidur sendirian.” Sebuah senyuman terukir di mulut mungil Aisyah dan sebuah kecupan mendarat di pipiku yang dihadiahkan Aisyah padaku. Lama kami terdiam hingga yang terdengar kemudian adalah bunyi napas yang teratur. Hingga…,.


“Bagaimana jika bintang itu tidak muncul Bu ? “


“Hah ?…ngggnn.” Aku tidak langsung menjawab dan jeda waktu menunggu itu membuat sebuah kegelisahan tiba-tiba muncul di wajah Aisyah.


‘Bagaimana jika langit mendung dan badai datang ?” Suaranya yang semula lirih kini dipenuhi rasa kekhawatiran.


Kurengkuh tubuh mungilnya erat-erat… dan dengan lembut kubisikkan kata di telinganya, “Ada Allah yang selalu setia menemani kamu sayang…. Allah tidak akan pergi meninggalkan kamu, apapun keadaan yang datang dan selalu berubah-ubah. Bintang kejora itu adalah kasih ibu yang akan ibu berikan untuk kamu, tapi ibu dan bintang kejora, bahkan juga kamu, ayah, kakak, adalah ciptaan Allah, yang bisa menghilang, pergi jika Allah menghendakinya…. Tapi Allah yang Maha Pencipta selalu hadir menemani kamu. “


“Ibu akan pergi kemana ?”


“Suatu hari nanti, mungkin ibu akan pergi menghadap Allah. Kalau itu terjadi, kamu tidak bisa bertemu ibu lagi, kalau kamu kangen, kamu lihat saja ke langit yang cerah, bintang kejora itu adalah kasih sayang ibu yang sudah ibu ukir di sana agar kamu selalu ingat ibu. Jangan pernah merasa putus asa jika kamu merasa seorang diri… karena bintang kejora itu selalu bersinar berpendar-pendar meskipun awan gelap selalu berusaha menutupi kehadirannya. Kamu bisa lihat bintang itu dimanapun kamu berada di muka bumi ini. Dan ingat…. Meski bintang itu hilang karena siang muncul menggantikan malam, ada yang selalu setia menemani kamu dan menyayangi kamu melebihi kasih sayang ibu ke kamu, bahkan melebihi kasih sayang seluruh makhluk di muka bumi ini. Itu adalah kasih sayang Allah Subhanallahu Wa ta’ala… nah sekarang tidurlah… Pejamkan matamu.”


Tak ada jawaban, sebaliknya muncul sebuah pertanyaan baru.


“Apakah aku akan bertemu ibu lagi di hari esok ?” Bola mata bening bagaikan mutiara itu menatapku dengan penuh tanda tanya. Sebutir mutiara bening meluncur dari sana, dan genggaman jemari kecil di lengan tanganku kian erat. “Hanya Allah yang tahu sayang. Jika Allah mengizinkan, tentu kita akan bertemu dan bermain kembali… sekarang, tidurlah.”


Mata Aisyah menatapku dengan polos dan sebuah telaga bening di kelopak matanya terlihat bergetar tak kuasa menahan bendungan air yang terkumpul di sana. Kukecup keningnya dengan penuh rasa kasih dan sayang.


“Ibu sayang sama kamu, jika takdir datang dan memisahkan kita, rasa sayang dan doa ibu akan selalu tercurah untukmu nak… Bersyukurlah selalu pada Allah, karena apapun takdir yang diberikan oleh Allah, dalam perhitunganNya, itulah yang terbaik bagimu. Tidurlah… Ada Allah yang akan menjagaMu malam ini.

Bunga-Bunga Surga


~Penulis: Aura Sinay ~


Ah. Kau langsung tersenyum saat melihat bungaku. Aku sudah menduganya. Sungguh, aku tak berniat untuk menyombongkan diri, tapi mereka yang melihat selalu mengatakan bahwa bungaku indah. Ah. Aku malu. Hanya kepada Allahlah pujian itu patut disampaikan. Aku hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Tentulah Allah Maha Indah.

Awalnya, aku hanyalah sebutir benih yang diterbangkan oleh angin ke sana ke mari. Hingga akhirnya angin menghempaskanku dengan lembut pada sebuah taman di bumi yang tidak begitu indah, namun sangat layak untuk kutumbuh. Tanahnya hangat memelukku hingga membenamkanku ke dalam bumi-Nya. Tanah itu biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa, kecuali kegigihan dan ketulusannya dalam memberiku mineral-mineral, entah sampai kapan. Aku sendiri tak tahu harus membalasnya dengan apa. Hanya Allah yang mampu membalasnya dengan sebaik-baik karunia. Yang dapat kulakukan hanyalah mengerahkan segenap kekuatanku untuk memekarkan bunga-bunga yang indah. Walaupun kemudian pujian itu mereka tujukan padaku, bukan kepada tanah yang kupijak.

Kian hari kurasakan tanah itu semakin hangat memelukku, hingga akarku kuat mencengkeram bumi dan menopang ranting yang sebenarnya rapuh bagi mekarnya bungaku. Ah, segala puji bagi Allah yang telah mencurahkan rahmat di bumi ini.

Taman tempatku tumbuh tidak berpagar besi yang kokoh lagi megah, tapi hanya sebarisan pagar kayu yang cukup kuat untuk memastikan setiap orang yang melihat bahwa di sini ada taman bunga yang tersendiri.

Kuakui, aku sering merasa tak puas dengan taman yang kutempati ini. Ingin rasanya berpindah taman. Di luar terlihat indah sekali. Tapi rasanya tak mungkin aku meninggalkan taman ini tanpa bungaku. Justru menjadi kewajibanku untuk memekarkan bunga-bunga khas taman ini dengan tulus.

Ya, di luar sana memang terlihat sangat indah. Bunga-bunga yang bermekaran di luar sana sering mengejutkan setiap makhluk yang melihatnya. Mereka tak pernah menyangka ada bunga-bunga yang sangat indah di sudut-sudut bumi yang tersembunyi itu. Bunga-bunga itu memekarkan bentuk, warna, dan wanginya masing-masing, mengingatkan kita untuk segera memuji kebesaran-Nya.

Pernahkah kau mendengar kisah tentang bunga-bunga di luar sana ? Aku pernah mendengarnya, dari angin yang senantiasa menghembuskan kisah-kisah bumi.

Di luar sana ada pohon bunga yang rapuh. Dahannya rapuh, tapi akarnya kuat mencengkeram tanahnya. Setiap saat akarnya gigih mencari mineral-mineral tambahan bagi pertumbuhannya, walau akhirnya sering terbentur dinding potnya.

Pot? Ya, ia tinggal dalam sebuah pot bunga yang besar dan indah. Pot bunga itu terbuat dari baja kuat yang dingin (beruntunglah ia karena masih ada tanah yang hangat memeluknya). Pot itu berlapiskan emas dengan ukiran-ukiran yang indah.

Awalnya aku tak mengerti mengapa mereka (manusia-manusia itu) memperlakukan pohon bunga itu dengan sangat istimewa. Namun kemudian angin yang menceritakan kisah ini memberitahuku bahwa ia adalah pohon bunga yang langka.

Hanya ia yang tersisa di muka bumi ini. Tidak. Bukan tersisa. Justru ialah satu-satunya di muka bumi ini. Tak ada lagi pohon bunga yang sejenis dengannya. Karena ia adalah pohon bunga cangkokan. Pintar sekali manusia-manusia itu memadukan dua pohon induknya (Mahasuci Allah, pemilik segala ilmu). Namun sepertinya perhitungan mereka agak meleset. Dahan pohon yang dihasilkan sangat kecil dan tipis. Ia pun mudah terserang hama sehingga mereka harus memberikan perlakuan ekstra untuk pohon itu. Mereka berikan berbagai macam pupuk khusus dan menyiraminya secara teratur agar ia dapat tumbuh dengan normal.

Hasilnya pun sangat mengejutkan. Mereka sendiri tak menduga, bunga yang dimekarkannya begitu indah. Ia menebarkan wanginya yang khas. Madunya menjadi makanan bagi kumbang-kumbang yang mau mendatanginya. Rantingnya yang panjang dan kecil menari-nari mengikuti irama yang dilagukan oleh sang angin. Harapannya hanya satu, angin akan membawa serta benih-benihnya, mencarikan tempat-tempat yang lebih baik untuk pertumbuhan tanaman sejenisnya kelak.

Ia tak pernah meminta angin untuk menghembuskan kisahnya. Jangankan memikirkan hal seperti itu, menyadari keindahan bunganya sendiri pun tidak. Tapi angin telah membawa serta berita keindahan bunganya ke setiap penjuru bumi. Dan setiap pohon bunga yang mendengarnya akan menari-nari, melagukan kesyukuran seolah tiada henti. Termasuk aku.

Ah. Aku jadi malu. Dahanku yang cukup kuat justru kalah dengannya. Dahannya tak pernah berhenti mencari sinar sang mentari yang dapat merangsang pertumbuhannya dengan memberikan banyak kehangatan. Sementara aku ? Ah, entahlah. Aku masih harus banyak belajar darinya. Kini ia tumbuh meninggi. Semakin dekat dengan sang mentari. Hingga pohon-pohon lain di luar pagarnya dapat membuktikan keindahannya. Aku sering terkikik geli saat sang angin menceritakan bahwa terkadang pohon-pohon itu mencuri pandang, terpesona pada keindahan alami bunganya. Lalu mereka kembali melantunkan lagu kesyukuran, hingga serinya menebar ke seluruh penjuru taman hati.

Ah. Allah pastilah menyayanginya. Dan sang angin tak berhenti menghembuskan kisah-kisah bunga dari muka bumi ini. Suatu hari ia pernah bercerita, di luar sana ada pohon bunga yang masih sangat muda, tapi dahannya sudah kuat, dan akarnya kokoh mencengkeram bumi. Bunga yang dimekarkannya pun tak kalah indah dengan bunga-bunga lainnya. Ia memiliki kekhasan tersendiri. Di saat pohon-pohon lain menari-narikan bunga-bunganya yang indah dengan gemulai kepada seluruh penghuni bumi, ia justru enggan melakukannya. Yang ia lakukan hanyalah melagukan kesyukuran tanpa henti. Bahkan ia menumbuhkan banyak duri yang tajam di dahannya yang kokoh. Ia hanya tak ingin bunganya dipetik oleh sembarang orang. Ia juga tak ingin ada hama yang mengganggu atau bahkan merusak bunganya. Semua itu ia lakukan karena ia tahu betul, bunga yang dimekarkannya tak pernah bertahan lama. Tak lama setelah mekar, kelopaknya akan gugur ke bumi, seperti mawar. Ini sudah menjadi kodratnya. Namun ia tak sedikit pun mengeluh.

Sebuah pemikiran yang cerdas. Ah, tak pernah terpikirkan olehku. Padahal aku tumbuh lebih dulu dan bungaku lebih rapuh darinya. Lalu angin mengenalkannya padaku. Ia pohon bunga yang menyenangkan. Aku cepat akrab dengannya, walaupun letak taman kami saling berjauhan. Kami berkirim salam lewat angin. Berbagi rasa pun kami lakukan lewat angin. Maha Besar Allah yang telah menciptakan angin. Ia pernah menyampaikan kegundahannya lewat hembusan angin yang lembut. Seekor lebah memintanya menyisakan madu bagi dirinya pada suatu hari di waktu yang telah mereka sepakati. Ia menyanggupinya. Di luar dugaan, pada hari yang telah disepakati itu, bunganya tak mekar tepat pada saatnya. Dan ia tak kunjung melihat lebah itu datang di antara lainnya. Ia panik. Ia takut lebah itu akan marah kepadanya.

Aku tak melupakan janjiku. Aku tak ingin mengingkarinya. Aku tak menyangka jika embun pagi ini lebih sedikit dari kemarin sehingga aku harus bersabar dalam memekarkan bungaku agar aku tak kehilangan banyak energi. Aku tak bermaksud membuatnya kelaparan, kan.? Begitu sedih angin menceritakannya padaku.

Aku tahu. Rasanya lebah itu tak akan kelaparan. Bunga-bunga lain masih menyisakan madu untuknya. Ia tak akan menjadi begitu lapar karenanya. Angin hembuskan prasangka-prasangka baik padanya. Dihempaskannya jauh-jauh prasangka-prasangka buruk si bunga pada si lebah. Tak kuduga, ia menolak hembusan itu. Ia yakin sekali lebah itu akan marah lagi kepadanya. Ternyata hal ini terjadi untuk kedua kalinya. Sebelumnya ia pernah menjanjikan hal yang sama pada lebah yang sama. Ketika saat yang dijanjikannya tiba, bunganya tak siap untuk mekar. Sementara bunga-bunga lain yang mekar lebih awal pada dahannya telah habis madunya, dihisap lebah-lebah lain yang datang lebih pagi. Ia sendiri tak menduga jika lebah-lebah yang datang hari itu lebih banyak dari sebelumnya.

Lalu lebah itu marah padanya. Untuk beberapa lama ia tak menghampiri bunga itu lagi. Bahkan lambaian kelopaknya pun tak ia balas. Sedemikian marahnyakah lebah itu padanya? Kusampaikan lewat angin yang lembut menerpa, jika ia memang seekor lebah sejati, tentulah ia akan bersabar. Ia tak akan berhenti begitu saja. Lebah itu akan mencari madu pada pohon bunga yang lain. Lebah itu makhluk yang gigih.

Ia tetap gelisah. Kehilangan akal, kugoda bunga itu. Kutanyakan lewat angin tentang seberapa istimewanya lebah itu baginya hingga ia begitu gelisah. Tak kusangka, angin yang kembali membawakan pesannya datang menghentak.

Ia tak pernah menganggap istimewa pada lebah itu. Ia hanya tak ingin menyakitinya. Ia berusaha untuk membahagiakan semua lebah yang datang kepadanya.

Ah, memang salahku. Saat itu memang bukan waktu yang tepat untuk menggodanya. Akhirnya si lebah itu datang juga. Kuminta padanya untuk tak marah pada si bunga. Lebah itu mengangguk sambil tersenyum dan mengepak-ngepakkan sayapnya dengan lincah. Ah, lega rasanya.

Ukiran Dalam Samudera Harapku



Ya Allah......
Saat aku menyukai seorang teman,...
Ingatkanlah aku bahwa akan ada sebuah akhir,...
Sehingga aku tetap bersama yang Tak Pernah Berakhir.

Ya Rabb-ku...
Ketika aku merindukan seorang kekasih,...
Rindukanlah aku kepada yang rindu Cinta Sejati-Mu
Agar kerinduanku terhadap-Mu semakin menjadi.

Ya Allah ...Yang Maha Pengasih...
Jika aku hendak mencintai seseorang,...
Temukan aku dengan orang yang mencintai-Mu,...
Agar bertambah kuat cintaku pada-Mu

Ya Allah...Yang Maha Pemurah...
Ketika aku sedang jatuh cinta,...
Jagalah cinta itu,...
Agar tidak melebihi cintaku pada-Mu.

Ya Allah ...Yang Maha Penyayang...
Ketika aku berucap " aku cinta padamu ",...
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut pada-Mu.
Agar aku tak jatuh dalam cinta yang bukan karena-Mu.
Sebagaimana orang bijak berucap...
Mencintai seseorang bukanlah apa-apa,...
Dincintai seseorang adalah sesuatu,...
Dicintai oleh orang yang kau cintai sangatlah berarti,...
Tapi dicintai oleh Sang Pencipta adalah segalanya.

Rabbana hablanaa min azwaajinaa wa zurriyyaatinaa qurrata'ayyuni waj'alna
lilmuttaqqiina imaamaa
Ya Allah...anugerahkanlah kepada kami
Istri2 (Suami) kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)
dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa.


Jumat, 18 Maret 2011

Ranah 3 Warna

Setelah membaca negeri 5 menara, akhirnya daku sempat jua tuk membaca kelanjutannya. 
Ingin sekali rasanya bisa menjalani hidup dengan sehebat itu. 
Terasa begitu mudah saat melalu berbagai cobaan yang menimpa.

Terima Kasih Cha-Cha yang sudah berbaik hati meminjamkan novel yang sarat ilmu ini. 
Semoga ini dapat di contoh dan di terapkan dalam kehidupan nyata..

VENI, VIDI, VICI
-Saya datang, Saya Lihat, dan Saya menang-



Salah satu syair Sayyid Ahmad Hasyimi.
Syair ini diajarkan pada tahun ke-4 di pondok modern Gontor, Ponorogo


Kamis, 10 Februari 2011

Kutitip Surat ini Untukmu.. part I

Surat Ibu kepada Putranya

"Orang tua pintu surga yang di tengah, sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!" 
(HR. Ahmad)

Kutitip surat ini anakku!

Nanda yang kusayangi, di bumi Allah ta'ala...

Segala puji ibu panjatkan kehadirat Allah yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Aamiin...

Wahai Anakku,

Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara...  Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulisdan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap itu pula goresan tulisan terhalangi oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air matasetiap itu pula hati terluka...

Wahai anakku!

Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hatiku dan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku... 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku dan semua Ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi. Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan, tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu wahai anakku! Pada kondisi lemah diatas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu sangat gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu atau balikan badanmu dalam perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak lagi dapat menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari dipelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar kedunia

Engkau pun lahir... Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan itu semua, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku raih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.

Wahai anakku... Telah berlalu tahun dan usiamu. Aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan padamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.

Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu... Itulah kebahagiaanku!.

Kemudian, berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selamua itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhanti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah serta mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu. Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis, telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan kanan demi mencari pasangan hidupmu.

semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. Saat itu pula hatiku serasa teriris-iri, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah tercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapat pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.

Waktupun berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dalam kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang keguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi, penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu.

Akan tetapi semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputus asaan, yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku... Ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan. Yang ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar ibu teringat pula hari-hari bahagia masa kecilmu.

Yang ibu tagih padamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempt persinggahanmu, agar engkau dapat pula sekali-kali singgah kesana sekalipun hanya satu detik, jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit... Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya di bopong, sekalipun begitu cintaku padamu masih seperti dulu, masih seperti lautan yang tidak pernah kering, Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.

Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannnya dengan keaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu... Mana balas budimu nak? Mana balasan baikmu?! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak?! Susu yang ibu berikan engkau balas dengan tuba?! Bukankah Allah ta'ala berfiman:
(Ù‡َÙ„ْ جَزَاء الْØ¥ِØ­ْسَانِ Ø¥ِÙ„َّا الْØ¥ِØ­ْسَانُ(٦٠
Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula? (QS. Ar-Rahman:60)


Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu? Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertyambah kebahagiaanku Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil keletihanku, Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah ku perbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu? pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian pembantu dan budakmu? Mereka telah mendapatkan upahnya, lalu mana upah yang layak untukku wahai anakku!

Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku dibawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta'ala mencintai orang yang berbuat baik.

Wahai anakku! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan  yang lain.

Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki yang supel, dermawan, dan berbudi Anakku... tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan rindu, berselimutkan kesdihan, dan berpakaian kedukaan?

Bukan karena apa-apa. Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengeluarkan air matanya... Hanya karena engaku telah membalasnya dengan luka di hatinya... hanya karena engkau pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya.. hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?

Wahai anakku, Ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu disana dengan kasih sayang Allah ta'ala.

Anakku, aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau beranjak dewasa saat itu pula sifat tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.

Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadist yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yanitu bahwa nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.

Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: 'aku bertanya kepada rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, "wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia?" beliau berkata: "Shalat pada waktunya", aku berkata: "kemudian apa, wahai rasulullah?" Beliau berkata "berbakti kepada orang tua", aku berkata: "kemudian wahai Rasulullah?" beliau menjawab: "jihad di jalan Allah" lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.'
(HR. Bukhari, Musliman Ahmad)

Wahai anakku, ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak untuk berletih dalam berinfak.

Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mecari tambang emas?! setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya dirumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, disebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.


Begitulah perumpamaan dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau lupa bahwa didekatmu ada pahala yang maha besar. Disampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu, Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah, dan murkaku adalah kemurkaanNya?


Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi Shalallahu alaihi wasallam dalam sabdanya:


"merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang, dikatakan (kepada Rasulullah): 'siapa dia wahai Rasulullah?' beliau menjawab "orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga"
(HR. Muslim)

Anakku... Aku tidak angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkankan engkau adalah jantung hatiku... Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku kebahagiaan hidupku.

Bangunlah nak, uban sudah merambat dikepalamu, akan berlalu masa sehingga engkau akan menjadi tua, dan al-jaza' min jinsil 'amal...  Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam... Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata pula kepadamu.

Wahai anakku, Bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.

Anakku... Setelah engkau membaca surat ini, terserah kepadamu, apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam,

Ibumu.

Jumat, 29 Oktober 2010

Lukisan Langit

Dulu kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Aku melihat awan yang nampak seperti benua Amerika, Namun temanku yang lain memandang lukisan awan itu dengan penafsiran yang berbeda-beda. Raja Bersi keras, awan yang sama berbentuk Eropa. Sedangkan Atang tidak yakin dengan kami berdua dan sangat percaya bahwa awah tersebut berbentuk benua Afrika. Baso malah melihat semua ini semua dengan konteksi Asia. Dan lain halnya dengan kami semua, Said dan Dulmajid yang sangan nasionalis menganggap awan itu berbentu seperti peta Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Dulu kami tidak takut bermimpi, walau sejujurnya kami pun tak tahu bagaimana cara merealisasikannya.


Tapi lihatlah kini. Setelah kami mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkannya dengan do'a, Tuhan mengirim benua impian itu kepelukan masing-masing. Kun Fayakun. Dari bermula awan impian, kini semuanya berubah menjadi kenyataan.


Kami berenam telah berada di 5 negara yang berbeda. Di lima menara impian kami -mengingat begitu besar perjuangan kami dalam menimba ilmu di Pondok Madani selama 4 tahun. Juga menara kebesaran PM hingga kami di juluki oleh kawan-kawan sebagai sahibul menara-. Untuki itu, jangan pernah meremehkan impian walau setinggi apapun. Sungguh, Tuhan maha mendengar.


"Man Jadda wa Jadda", Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.



Di kutip, di adopsi dan di adaptasi dari novel "negeri 5 Menara".
Dengan sedikit editan oleh: Wina Zhonniwa

Kamis, 02 September 2010

Memories....

“Liana!” Sapanya ceria.

 Ia menghampiriku dan berdiri tak jauh di hadapanku. Kedua tangannya tersembunyi di balik tubuhnya sambil tersenyum lebar ke arahku. Memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

“Hai, Nid?” Ucapku dengan raut menyelidik. Alisku bertaut karena heran.

“Ada apa nih? Happy  Banget. Abis menang undian 1 milyar ya?” Celetukku asal. Mau tak mau aku tersenyum juga. Tak tahan untuk tidak menggodanya.

“Liat nih! Surprise!!” Sahabatku itu menyodorkan sebuah kotak yang berukuran cukup besar kepadaku.

Ugh! Berat juga ternyata.

Happy Birthday Lianaaa..! Untuk sahabatku yang paling baik dari yang terbaik” Ucapnya lagi.

Hiks. Aku benar-benar terharu di buatnya. Kotak itu ku letakkan di meja depanku, dan ku peluk ia dengan erat. “Thanks bangeett.Aku kira nggak bakalan ada yang inget sama ultahku yang ke-12 ini! Waah.. Kamu emang yang terbaik deh. Best of the best

“Ah, ikut-ikutan lo! Itukan kata-kataku!” Sungutnya kesal sambil mendorongku pelan.

“Udah ah, mana kotaknya? Bawa sini dong!” Panggil Nidya dari arah meja paling depan. Kemudian, aku mengikutinya, dan meletakkan kotaak  itu di atas meja.

Pandangan ku kini teralih pada jam tangan pink keemasan yang melingkar manis di pergelangan kiriku.’Udah jam segini kok belum ada yang
datang ya?’ Pikirku dalam hati.

“Mereka pada kemana ya?” Ucapku perlahan, hingga nyaris seperti bisikan.

Aku tak memperhatikan pada apa yang sedang di lakukan Nidya dengan kotak tadi karena terlalu asyik dengan pikiranku sendiri. Iseng, mataku mengamati dan menyusuri sudut-sudut kelas yang kosong. Begitu sepi.

Terdengar jeritan, tawa, dan suara-suara entah apa yang sedang di lakukan anak-anak di kelas sebelah. Ini memang belum jam masuk. Tapi, sebagian besar siswa di sekolah ini terbiasa dating cukup pagi. Dan pagi ini, seperti biasa. Setiap kelas memiliki kesibukan masing-masing dengan pada penghuninya seperti hari-hari biasanya. Hanya kelasku yang kosong melompong dan menyisakan seribu tanda Tanya.

Tiba-tiba..

“Tunggu..” Seruku pelan.

Namun sepertinya tak cukup pelan untuk tidak terdengar oleh telinga Nidya yang tajam.

Dengan cueknya, aku tetap menatap tajam pada satu titik. Ada sesuatu yang janggal di balik rolling door yang sedikit terbuka itu. Dengan perlahan, akhirnya tiga langkah telah ku lalui.

“Lian..! sini deh!” Panggilan Nidya berhasil membalikkan langkahku. Ia memegang buku yang terbuka untuk menutup bagian tepi kotak supaya menghalangi penglihatanku.

Dann…

“Taraaa… “ Kemudian ia bersiul keras.. “Suiiuuwiiittttt…”

Happy Birthday to you.. Happy Birthday to you..” Suara semua teman sekelas pun menggema seantero ruangan yang berukuran 4x5 meter itu.

Ohh! Itu dia!. Semua kejanggalan dan kecurigaanku terkuak sudah. Tapi.. Oh my God! Tart mini dengan lilin angka dua belas di atasnya?. Mataku membulat saat melihatnya.

Bukan main. Ini, sungguh kejutan yang luar biasa!. Sontak, aku pun langsung memeluknya “Makasiiihh… Makasih banyaaak..” Bisikku perlahan di telinganya.

“MAKASIH SEMUANYA!!”

“Hey. LIANA” Tiba-tiba.. Terdengar suara seseorang yang menyerukan namaku.

“Hah??” Aku mengerjap-ngerjapkan mata karena kaget. Sambil mengembalikan kesadaranku, aku menatapnya heran. “Sita?”

BYARRR!! Hilanglah semua lamunanku. Nidya… Kejutan… Kue tart… lilin angka 12… Huh! ‘Itu semua sudah berlalu Liana!’ hiburku dalam hati sambil mengelus dada.

Setidaknya.. Memori otakku yang berkapasitas ribuan giga ini masih mampu menampung seluruh peristiwa ulang tahunku yang paling bersejarah itu.

Nidya pindah rumah ke Semarang karena tuntutan pekerjaan Abi-nya. Tepatnya, seminggu setelah hari ulang tahunku, yang juga segera di kejutkan dengan kepindahannya yang tiba-tiba. Entah, bagaimana  ya kabarnya? Sudah lama sekali komunikasi kami terputus. Ah, jadi kengen.

Oke. Kembali ke masa sekarang. Aku, Liana Cleveriana Siswi SMP Cempaka, kelas 9. Yaitu, tempat di mana aku nyaris tak pernah merasakan déjà vu masa SD.

“Helloooww… Lianaa!” Sita mengibaskan tangannya tepat di depan hidungku yang pesek ini. “Gimana? Udah nginjek bukmi lagi belom?” Seru Sita bercanda. Akhirnya aku berhasil menarik sudut bibirku keatas membentuk seulas senyum. Senyum yang tampak sedikit terpaksa.

Melihat Sunset begini emang paling menyenangkan! Apalagi dengan di temani segelas besar es degan dan semangkuk bakso. Hmm.. makin maknyus deeh..

Aku jadi sedikit merasa bersalah pada Sita. Susah payah, ia mengajakku ke pantai ini untuk menghilangkan kesedihanku sekaligus hadiah, mengingat kejadian 3 tahun yang lalu tidak terulang pada ulang tahunku tahun ini yang Jatuh tepat dua hari yang lalu.
Eh, Nggak tahunya.. Malah aku tinggal berkelana ke masa lalu!!.

Sita, sahabatku pengganti Nidya. Aku merasa sangat beruntung sudah di pertemukan dengannya. Saat itu kami masih duduk di kelas 7. Mulanya, kami hanya sekedar berkenalan.. bertanya nama.. Dan hal-hal yang biasa di tanyakan saat perkenalan. Namun, lambat laun, omongan kamipun mulai merambah ke topil-topik lain. Kami merasa memiliki kecocokan. Jadi, kalau sudah bercerita, pasti nggak aka nada habisnya. Yah, selera kami memang mirip bangett!.

“Sit, kita pindah ke sana yuk! Di bukit itu!” Tunjukku pada sebuah bukit buatan yang ada di sebelah utara kami. “AYOK, MATAHARINYA KEBURU ILANG TUH!” Teriakku lagi.

“Aaaaaaahh….” Kami berdua pun lari di sepanjang tepian pantai. Dengan tangan terentang dan tatapan menengadah ke atas. Angin pantai yang bertiup semilir, menghembuskan seluruh kepenatan otak.

“Hei Liana, TUNGGUU..!”

Ups. Sita ketinggalan. Aku pun berhenti dan menunggu hingga Sita berhasil menjajari langkahku. Kita pun kembali berlari sambil bergandengan tangan.

“Kenceng-kencengan yuk! 1..2..3..” Aku member aba-aba.

“Aaaaaaaaaaaaarrgghhhhhhhhh… Hahahahahaaa…” Begitu kencengnya, sampai-sampai aku berpikiran kalau suaraku dan Sita ini bisa terdengar sampai ke negeri seberang lho!.

Senin, 16 Agustus 2010

Misteri rumah tua

Saat melewati rumah tua itu perasaan Tini selalu berdebar-debar. Kata orang-orang rumah itu berhantu. Tini melirik bangunan rumah tua itu sambil mempercepat langkahnya. Dinding dan kayu-kayu penyangga banyak yang keropos, dan pekarangan rumah terkesan kotor dan tak terurus.

Banyak orang yang mengatakan kalau mereka sering melihat sesosok bayangan dari dalam rumah itu. Ada yang mengatakan, penghuni rumah ini adalah monster yang menakutkan. Ada pula yang bercerita padanya, bahwa rumah itu dihuni oleh seorang kakek tua pertapa, dengan kumis tebal dan jenggot putih yang panjang. Namun, sejauh ini Tini belum pernah melihat satu pun penampakan dari rumah itu.

Sore itu, Tini baru saja pulang dari warung Bu Cokro Yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah angker itu. Ia baru membeli satu kilo telur ayam, dan juga satu botol kecap.

Berjarak satu meter dari rumah itu, Tini mencium aroma masakan dari arah belakang rumah itu. Seketika, bulu kuduknya pun meremang.

“Duh.. Kok serem gini sih?” Keluhnya.

Kresrek..Kreserrkk..

Bunyi derap kaki Tini yang menginjak tumpukan daun kering di sepanjang jalan, terdengar cukup berisik. Terbukti dari suasana sunyi kebun jati di sampingnya. Biasanya, hutan kecil itu tak pernah sepi karena kicauan burung-burung kecil terus bersahutan. Juga embikan kambing liar, atau lenguhan sapi yang di ternak oleh sang gembala di balik pohon-pohon jati.

Ketakutan Tini semakin menjadi-jadi saat ia melihat sekelebat bayangan hitam dari arah rumah tua. Ia merasa seakan ada seseorang yang sejenak mengamatinya dari dalam sana.

“Mending, aku cepet-cepet pergi dari sini deh” ucapnya nyaris berbisik. Ia pun memutuskan untuk berlari dan menjauh dari bangunan yang menyeramkan itu.

Esok harinya, Tini kembali melewati rumah tua itu saat perjalanan pulang dari sekolahnya. Tanpa sengaja, Ia mendengar samar-samar beberapa orang sedang bercakap-cakap. Sesekali ia mendengar ucapan-ucapan kasar dari seseorang yang entah dimana. “Mungkin dari belakang rumah” Pikir Tini. Karena penasaran, dengan berjingkat ia berniat menguping pembicaraan orang tersebut.

“Heh, gila lo! Gimana kalau ketahuan?” Terdengar ucapan dari salah seorang.

Tini pun terus berdiri di depan pintu samping rumah, sambil menempelkan daun telinganya kepermukaan pintu. Tiba-tiba.. suara langkah kaki seseorang terdengar semakin dekat.

Sebelum Tini sadar dan pergi, gagang pintu itu telah berputar dengan cepat. Pintupun terbuka dengan keras dan membentur sisi pohon yang ada tepat di depan pintu itu. Tini begitu terkejut dan merasa degup jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

“Siapa itu?” Teriak seseorang dengan berang.

Rupanya Tini selamat dari orang tak di kenal tadi. Ia nyaris tertangkap, jika seandainya ia tidak lekas mengambil langkah seribu dan bersembunyi di balik salah satu pohon jati di seberang rumah itu. Namun, orang itu tidak terlambat untuk melihat sosok Tini dari belakang.

“Gadis kecil berseragam sekolah SD. Mungkin ia kelas 4 atau 5”. Lapor sang pengejar Tini kepada seseorang yang lain. Mungkin itu adalah atasannya.

“Sepertinya tidak masalah!” Sahut sang bos, acuh tak acuh.

Tidak seperti perkiraan mereka. Tini adalah gadis yang tergolong mungil untuk anak seumurannya. Ini menyebabkan para sosok mencurigakan menghilangkan kecurigaannya pada Tini. Karena sebenarnya, Tini berumur 12 tahun atau kelas 6 tepatnya.

Di rumah teman Tini…

“Eh Ra, kamu tau rumah kosong yang di depan hutan jati di sana?” Tunjuk Tini ke arah Barat Daya.

“Emang kenapa?” Rara balas bertanya. “Yang angker itu kan?” lanjutnya lagi.

“Aku curiga deh!”

“Sama siapa?” Rara menautkan alisnya karena penasaran.

“Gini ra..” Tini pun menceritakan semua yang di dengarnya pada Rara, teman baiknya.

“Hah? Yang bener?” Rara memekik, tidak percaya. “Ini harus di laporin ke kades nih Tin”.

Tini langsung membulatkan mata dan memelototkannya ke arah Rara. “eeh.. ya jangan thoh. Ntar, kalau informasinya salah gimana?” Ucapnya dengan logat medok anak jawa.

“Ya udah deh, gimana kalau besok kita kesana lagi.” Usul Rara. “Sekalian, mungkin kita bisa melacak dan membongkar kedok mereka!”. Mulailah si Rara beraksi dengan gaya sok detektifnya. Ia memang pernah mencita-citakannya.

“Oke.”

Kruk..kruuk..krukk..

Suara jangkrik dan keheningan malam menyelimuti Rara dan Tini di hutan jati. Mereka sengaja janjian dan keluar rumah tanpa sepengetahuan orang rumah.

“Bos, Pulang dulu ya!” Terdengar satu suara.. dua.. tiga.. eh-empat. Aduh, entahlah ada berapa orang yang tiba-tiba keluar dari pintu samping rumah tua. Sekejap saja, suara mereka hilang.. lenyap di telan malam.

Tini melihat ke arah langit. Tidak ada bintang malam ini. Karena langit mendung dan menutup seluruh bintang. Dan suasana ini sangat mendukung bagi Tini dan Rara. Mereka sama sekali tak terlihat mencurigakan karena tertutup bayangan awan hitam. Hanya saja, ia jadi tidak bisa memperkirakan pukul berapa sekarang.

“Eh Tin, kita sembunyi di sisi sebelah situ yuk.” Ajak Rara seraya menunjuk sisi lain dari rumah itu.

Mereka tidak sadar apa yang ada di belakang mereka. Sebuah sungai yang cukup deras aliran airnya. “Aaah..Tolong aku Tin” Terdengar pekik tertahan dari samping Tini. Tini pun dengan cepat memutar arah pandangnya, dan ia melihat Rara terpeleset nyaris terbawa arus sungai. Dengan sigap, Tini menangkap tangan Rara dan ia pun berpegangan pada sebuah batu yang agak menonjol panjang ke atas.

“Greekk..” Riri dan Tini segera menjauh dari sungai. Dan kini mereka mendapati sebuah lorong yang agak kecil mengarah landai, miring ke bawah tanah. “Pasti yang kamu jadikan pegangan tadi itu, kunci jalan rahasia”. “Mungkin” Jawab Tini sedikit ragu.

Begitu mereka sampai di dasar lorong, mereka melihat hal-hal yang yang bersinar terang. Mereka belum yakin benda apa itu.

“Oh my god!” Tini menahan keterkejutannya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak berteriak. Rara pun melakukan respon yang nyaris sama. Semua benda berkilauan itu adalah emas dan perhiasan-perhiasan dalam peti. Ada juga berlian dan permata yang ukurannya cukup besar. Dan semua harta karun lainnya.

Apa yang mereka lihat?

“Tini, ini adalah jawaban dari kecurigaanmu kemarin!”

Kemarin, Tini bercerita bahwa ia mendengar sekumpulan orang yang berdebat di balik pintu samping tempat Tini mencuri dengar kemarin, membicarakan soal jadwal penjagaan. Bahkan sesekali orang-orang itu menyebut-nyebut kata ‘rahasia besar kita’. Juga rencana pengangkutan ke daerah… entah apa namanya.

Setelah mereka merasa berhasil, mereka segera keluar, dan akan melaporkan kejadian itu esoknya pada pak kades. Karena atas apa yang di dengar Tini, mereka akan mengangkut semua harta karun itu esok lusa.

Tepat di ujung terowongan, Rara di kejutkan olehh tiga orang berbadan tegap yang menghadang.

“Ayo ra, kenapa berhenti? Di sini panas nih. Pengen cepet keluar” Desak Tini dari belakang Rara.

Namun Rara tetap bergeming dan tak mengucap sepatah katapun.

“Ayo keluar!” Dengan kasar, orang-orang itu menarik Rara keluar, dan segera mencengkran tangan Tini dengan kuat. Tini, yang tak mengerti sebelumnya, sempat terkejut dan meronta.

Sekarang, mereka menjadi tahanan para gengster itu.

Matahari telah menunjukkan senyumnya dengan malu-malu.

Riri dan Tini pun masih tetap terkurung di salah satu kamar dengan tangan terikat kebelakang. Mereka sangat kebingungan. Tini sempat menangis menyebut-nyebut nama mak dan bapaknya di rumah. Rara juga sesekali menggerutu tak jelas atau kadang menangis tertahan.

Waktu telah berlalu beberapa jam. Kini, jam dinding rumah Tini telah menunjukkan pukul sepuluh siang. Bapaknya mondar-mandir kebingungan karena tidak melihat Tini sedari pagi dan hingga kini belum juga terlihat batang hidungnya.

Dog..Dog..dogg!!!

Suara pintu dengan di gedor dengan keras. Bapak dan mak Tini segera berlari keluar denggan cemas.

“Nak Bayu? Ada apa?” Tanya mak Tini kebingungan.

“I..i-tu.. bu. Mbak Ti-ni sa..ma mbak Rara dalam bahaya” Ucap bayu, adik Rara terbata-bata.

“Ayo, ucapkan yang jelas. Ada apa? Jangan membuat ibu panik seperti ini!”

“Lebih baik, ibu dan bapak ikut dengan saya”

Mereka pun lari ke arah rumah tua yang terpercaya angker. Ternyata, di sana telah ada pak Kades dan orang tua Rara. Juga para penduduk desa.

Dan dari dalam rumah, polisi-polisi keluar sambil menggiring orang-orang yang di anggap asing penduduk sini. Tangan mereka telah di borgol.

Tiba-tiba..

“Emaakk..” Tangis Tini pun pecah lagi. Ia segera berlari memeluk mak dan bapaknya.

Pak Kades mengambil alih perhatian. "Tenang semuanya.. Penjahat-penjahat itu sudah tertangkap. Ternyata, selama ini rumah ini telah di huni para gangster, yang sebelumnya telah mengetahui keberadaan harta karun terpendam di rumah ini. Mungkin itu merupakan harta milik salah satu penduduk sini yang menghuni rumah itu.” Terang Pak Kades panjang lebar sambil sesekali menunjuk rumah itu.

Esoknya..

“Bayu, bagaimana kau tahu kami ada di dalam sana?” Tanya Tini saat ia bermain ke rumah Rara.

“Maaf Tin, sebelumnya aku sudah membocorkan hal ini ke adikku. Maaf ya!” Ucap Rara dengan perasaan bersalah

“Nggak papa kok. Karena pada akhirnya.. itu menjadi bermanfaat. Memang ada baiknya memberi tahu seseorang untuk mengawasi, siapa tahu kita dalam bahaya.

Bayu pun akhirnya menceritakan semuanya.

Dan Sekarang.. Desa tempat Rara dan Tini tinggal menjadi aman, tentram, dan damai kembali. Anak-anak juga sudah tak ada yang takut dengan rumah itu.

Rabu, 11 Agustus 2010

Jangan Coba-Coba jahil sama Tasya

Karena nilai rapot Tasya bagus, Bunda Ratu Tujuh Pelangi menghadiahi sebuah pensil. Bentuknya lucu. Berwarna merah, terbuat dari kristal dan bertuliskan nama Tasya. Pada pangkalnya terdapat hiasan berbentuk koala yang juga terbuat dari kristal. Lucunya lagi, koala hiasan itu bisa merekam suara apa saja.

Sekarang Tasya bisa mengingat PR yang diberikan oleh gurunya, halaman berapa dan soal nomor berapa saja yang harus dikerjakannya. Selama ini Tasya sering lupa dan harus telpon teman-temannya untuk menanyakan PR.

"Tasya, buruan! Nanti telat, lho!" Nenek Fay telah siap di teras.

Sementara jam yang tergantung di ruang tamu menunjuk tujuh kurang lima belas menit. Tasya keluar dengan berseragam dan menyandang tas. Sambil berjalan, diamatinya pensil barunya. Dipencetnya tombol-tombol kecil yang melingkar pada cincin di bawah hiasan koala.

"PR Matematika, halaman 12, nomer 1 sampai 8..." terdengar rekaman suara Tasya dari pensil.

"Udah!" jawab Tasya sambil menjentikkan jari. "Yap, sekarang berangkat!"

Dari seluruh murid yang ada di sekolah Tasya, tak ada yang sejahil dan senakal Roni. Hari ini giliran Tasya yang dijahilinya. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, diam-diam Roni menyembunyikan pensil baru Tasya. Padahal nanti ada pelajaran menggambar. Dan Tasya hanya bawa pensil itu.

Tasya tidak memperhatikannya, bahkan sampai Roni mengambil pensil ajaibnya dari dalam tasnya.

Selama istirahat Tasya berusaha mencari pensilnya. Teman-teman telah ditanyainya, tapi tak satu pun yang mengaku melihatnya. Uh, bandelnya si Roni! Ternyata dia telah mengancam seluruh anak di kelas!

"Awas ya, kalau kalian bilang atau meminjamkan pensil pada anak itu!" ancamnya sambil mengepalkan tinjunya.

Anak-anak patuh dan mengangguk-anguk karena takut.

"Hei, kodok! Aku pukul kamu kalau ngadu sama Bu Sam!" Roni pun mengancam Dewi, ketua kelas dan teman sebangku Tasya.

Sementara tangannya asyik memencet tombol-tombol pada pensil itu.

Tak lama kemudian bel berbunyi, tanda istirahat usai. Bu Sam masuk sambil membawa buku IPA, mata pelajaran berikutnya. Pelajaran yang menyenangkan sebenarnya buat Tasya, tetapi pikirannya masih tertuju pada pensil kesayangannya. Pandangannya menyebar ke seluruh penjuru kelas. Sesekali dilihatnya Roni dan gengnya yang cekikikan di belakang. Tapi ketika mata Tasya tertuju pada mereka, seketika mereka terdiam dan memasang tampang tak bersalah. Tasya mulai curiga.

"Apa nama hewan yang mirip kuda dan berbadan belang hitam-putih?" tiba-tiba Bu Sam telah memberikan pertanyaan.

"... kodok... Bu Sam... kodok... Bu Sam... kodok ... " sekonyong-konyong terdengar suara Roni dari belakang.

Keruan saja suasana kelas segera dipenuhi oleh suara tawa. Seluruh anak menertawakan Roni yang gelagapan di belakang. Mukanya merah dan bingung melihat seluruh mata di kelas tertuju padanya. Tangannya sibuk memenceti tombol pada pensil yang disembunyikan di bawah meja.

"Siapa itu?" bentak Bu Sam galak. Matanya menyelidik. "Kamu jawab apa Roni?"

Seketika ruang kelas terdiam.

"Bu... bu... bukan sa... ya, bu, " sahutnya tergagap. "Tapi... ini... "

Rupanya tanpa sengaja Roni telah merekam kata-katanya sendiri waktu mengancam Dewi. Lantas tanpa sengaja pula dia menekan tombol play waktu Bu Sam mengajukan pertanyaan. Masih dengan sikap galak Bu Sam meminta Roni maju. Tentu saja Bu Sam tidak percaya bahwa pensil yang ditunjukkan kepadanyalah yang mencemooh dirinya.

"Itu pensil saya, Bu!" wajah Tasya tiba-tiba berbinar.

Bu Sam melihat Tasya sejenak, kemudian bertanya pada Roni, "Benar ini pensil Tasya, Ron?"

Roni mengangguk sambil tertunduk. Dia tak mungkin mungkir karena nama Tasya tertera pada pensil itu. Tetapi akhirnya Roni dihukum oleh Bu Sam. Ingin tahu hukumannya? Berdiri di depan kelas sampai pelajaran IPA berakhir!

Putri Seorang Saudagar

Konon duluuuu sekali, adalah seorang saudagar yang kaya. Dia mempunyai tiga orang putri. Ketiganya berparas cantik. Sulung memiliki tubuh yang ramping. Karena itu dia senang sekali memakai baju yang bagus-bagus. Tengah mempunyai kulit yang halus lembut. Karena itu dia suka memakai perhiasan yang indah-indah. Sedang si Bungsu suaranya sangat merdu. Sifatnya juga lemah lembut. Dia sayang sekali kepada ayahnya.

Suatu hari saudagar itu akan berdagang ke negri seberang. Negeri itu sangat jauh letaknya. Harus melewati hutan dan gurun yang tandus. Di sana banyak berkeliaran perampok.

"Nah!" kata saudagar itu kepada ketiga putrinya. "Apa yang kalian inginkan untuk oleh-oleh nanti?"

"Biasa Yah," sahut si Sulung. "Saya ingin sebuah baju yang paling cantik yang ada di negri itu."

"Kalau saya sih minta dibawakan perhiasan yang paling indah yang ada di negri itu," seru si Tengah.

Bungsu hanya diam. Teringat dia akan mimpinya semalam. Dia merasa cemas, takut kalau apa yang dimimpikannya itu akan menjadi kenyataan.

"Bagaimana Bungsu?" Apa yang kau inginkan?" tanya saudagar itu karena si Bungsu hanya memandangi dirinya saja.

"Saya ingin ayah tidak pergi," sahut si Bungsu dengan suara pelan.

"Huuuu!" seru si Sulung sebal. "Kalau Ayah tidak pergi bagaimana aku bisa mendapat baju yang cantik!"

"Iya, nih. Kamu bagaimana sih!" seru si Tengah tidak kalah kesal. "Kalau Ayah tidak pergi aku kan tidak bisa memiliki perhiasan yang indah."

Saudagar itu menepuk bahu si Bungsu tanda mengerti. "Ayah mengerti mengapa kau merasa cemas melepas ayah pergi. Tapi percayalah. Ayah bisa menjaga diri."

Bungsu menundukkan kepalanya. Ingin rasanya dia menceritakan mimpinya. Tetapi dia takut ditertawakan. Tentu kedua kakanya akan berkata, "Alaa, mimpi itu kan cuma bunga tidur."

Karena itu setelah ayahnya pergi, Bungsu terus gelisah. Bayangan mimpi itu terus mengganggu pikirannya. Setiap kali memikirkan ayahnya air matanya menitik. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk menyusul ayahnya. Diam-diam dia pergi meninggalkan rumahnya.

Dia berjalan menuju luar kota. Setelah seharian berjalan, dia merasa lelah. Dia duduk menyandar di bawah sebatang pohon yang rindang. Pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan mimpinya.

"Oooh, seandainya aku menjadi burung, tentu aku bisa lebih cepat menyusul Ayah," keluhnya. Tak terasa air mata menetes di pipinya. Angin sepoi-sepoi membuat matanya mengantuk. Apalagi badannya sudak capek sekali. Akhirnya dia tertidur lelap. Entah berapa lama dia tidur. Ketika sudah bangun dia merasa ada sesuatu yang aneh di tubuhnya.. Seluruh badannya telah ditumbuhi bulu-bulu. Tangannya berubah menjadi sayap. Dan mulutnya menjadi paruh. Dia tidak bisa lagi berbicara seperti semula. Yang keluar dari mulutnya hanyalah suara siulan yang sangat merdu.

Meskipun begitu Bungsu merasa gembira. Sebab dengan memiliki sayap, kini dia bisa lebih cepat menemukan ayahnya. Dia lalu terbang. Makin tinggi. Makin jauh. Tapi dia belum juga menemukan ayahnya. Dia sudah merasa putus asa ketika tiba-tiba dari kejauhan dia mendengar suara pekik burung gagak. Dia mencoba terbang ke arah itu. Dilihatnya segerombolan burung gagak raksasa terbang mengelilingi sesuatu benda. Bungsu segera mendekati mereka.

Astaga! Pekiknya dalam hati. Itu kuda ayahnya. Sepertinya kuda itu sudah mati. Berarti ayahnya ada di sekitar tempat itu. Dengan rasa cemas dia memeriksa sekitar tempat itu. Akhirnya dia menemukan ayahnya. Tergeletak pingsan di balik segerombolan semak. Tubuhnya terluka. Nampaknya ayahnya telah menjadi korban perampokan. Mungkin sebelum merampok ayahnya disiksa lebih dulu.

Menetes air mata Bungsu melihat keadaan ayahnya itu. Teringat dia akan mimpinya. Apa yang ditakutkannya telah menjadi kenyataan. Dia harus segera mencari pertolongan agar ayahnya bisa diselamatkan.

Bungsu segera terbang mengelilingi gurun itu. Melihat kalau-kalau ada orang yang bisa dimintai pertolongan. Haaa! Ada seorang pemuda gagah yang sedang mengendarai kuda. Nampaknya dia bermaksud beristirahat, sebab kini dia menghentikan kudanya. Memasang kemah. Menurunkan perbekalan yang dibawanya, kemudian memberi kudanya minum dan makan. Nah, sekarang pemuda itu siap menikmati makan siangnya.

Bungsu segera menukik. Menyambar roti yang siap dimasukkan ke mulut pemuda itu. Si pemuda mula-mula kaget dengan kejadian tiba-tiba itu. Tetapi kemudian dia menjadi heran. Karena burung yang telah menyambar rotinya itu tidak segera terbang menjauhinya. Burung itu terbang rendah di hdapannya. Berputar-putar seolah ingin ditangkap.

Pemuda itu menjadi penasaran. Dia berdiri. Mencoba menangkap burung cantik yang kelihatan jinak itu. Tetapi si burung mengelak. Terbang menjauh sedikit lalu berputar-putar kembali. Pemuda itu terus mengikuti burung itu. Dia penasaran. Tak sadar dia telah meninggalkan kemahnya. Kini dilihatnya burung cantik itu hinggap di atas sebuah pohon kecil. Si Pemuda mengendap-endap. Mengulurkan tangan, siap menangkap si burung. Tetapi tiba-tiba dia terbelalak kaget.

"Astaga!" serunya tatkala melihat saudagar yang sedang tergeletak pingsan. Dia segera mengangkat tubuh saudagar itu. Segera dibawanya ke kemahnya. Sementara burung cantik mengikuti dari belakang.

Setelah berada di kemahnya, saudagar itu dirawatnya dengan baik. Luka-lukanya dibersihkan, diberi obat. Pakaiannya yang kotor diganti. Dan ketika saudagar itu siuman, dia menjadi heran.

"Siapa anda?" tanyanya menatap penolongnya.

"Saya kebetulan sedang lewat. Burung itu yang menunjukkan Bapak kepada saya. Rupanya Bapak telah menjadi korban perampok," sahut pemuda itu.

Saudagar mengangguk. "Yaa ... sungguh menyesal saya karena tidak mau mendengar kata-kata anak saya yang bungsu. Padahal dia sudah melarang saya pergi. Akh, dia tentu sangat sedih bila mengetahui keadaan saya sekarang," kata saudagar itu seraya menitikkan air matanya.

Aneh! Tiba-tiba saja si Bungsu berubah kembali menjadi seorang putri yang cantik. Dia segera memeluk ayahnya dengan gembira.

"Ayah! Syukurlah Ayah selamat," katanya.

"Astaga! Jadi kau yang telah menunjukkan ayah kepada orang itu?" tanya saudagar itu. "Mengapa kau bisa menjadi burung?"

Bungsu segera mengisahkan kejadiannya. Kemudian dia mengucapkan terima kasih kepada pemuda yang telah menolong ayahnya. Si Pemuda tersenyum.

"Saya kagum sekali mendengar bagaimana besarnya kasih sayangmu kepada ayahmu. Kebetulan saya melakukan perjalanan ini untuk mencari seorang istri. O, ya. Perkenalkan. Saya Pangeran dari negri seberang. Kalau kamu tidak keberatan saya ingin melamar kamu menjadi istri saya."

Begitulah akhirnya, mereka kawin dan hidup berbahagia. Saudagar itu kembali pulang ke rumahnya tanpa membawa oleh-oleh bagi kedua putrinya yang lain. Namun Bungsu menitipkan sebuah gaun yang cantik dan sepasang perhiasan bagi kedua kakaknya.

Anak Baru di Kelasku

LIBURAN telah usai. Kembali aku harus bangun pagi.

Uh-uh... malasnya. Bantal dan guling serasa ada lemnya. Lengket!

"Sekar! Ayo mandi! Nanti kamu terlambat, lho!" teriak Mama dari dapur.

"Ya, ya, ya ...," kataku sambil menggeliat.

Dengan gerakan serba kilat, aku akhirnya siap pergi sekolah.

"Selamat pagi, neng," sapa Pak Hendro, satpam di sekolah.

"Pagi, Pak Hendro!" jawabku.

Hari ini aku sudah kelas tiga. Seperti waktu naik kelas dua pada tahun lalu, teman-teman kelasku diacak dari kelas-kelas yang berbeda. Dalam daftar nama siswa kelas 3A ada Karinka, Ayas, Yacinta, dan Ayu. Mereka adalah teman-temanku sekelas waktu kelas satu.

Aduh asyiknya... bisa bikin geng lagi dengan mereka.

Geng itu kita namakan Geng Cabut. Kenapa namanya Geng Cabut, aku sendiri nggak ingat. Mungkin karena kita sering bilang "Yuk cabut!" kalau pengin pergi dari suatu tempat.

Ternyata di kelas tiga ini aku duduk sebangku dengan anak baru. Ibu Tika, wali kelas 3A dan guru favoritku, memanggil anak baru itu untuk memperkenalkan diri di depan kelas.

"Nama saya Suci. Waktu kelas dua saya sekolah di Tuban," kata Suci malu-malu.

"Orang tua saya telah meninggal saat saya berumur tiga tahun. Kemudian saya tinggal dengan paman.

Sekarang paman pindah ke Jakarta dan saya ikut pindah bersamanya. Alamat saya di Andara, Pondok Labu."

"Baiklah, Suci. Siapa yang ingin bertanya," Ibu Tika menawarkan.

"Suci, apa mainan kesukaanmu?" tanya Karinka.

"Saya suka main cublak-cublak suweng," jawab Suci spontan.

"Ha?! Mainan apa itu?" tanya Karinka dan anak-anak lain.

"Cublak-cublak suweng dimainkan oleh sekitar empat atau lima anak. Salah satu anak menelungkup dan yang lainnya mengelilingi anak itu. Kemudian sambil bernyanyi anak-anak mengelilingkan batu kecil di antara pemain. Pada saat lagu habis, anak yang kebagian batu kecil harus menyembunyikannya. Anak yang menelungkup bangkit dan menebak siapa yang membawa batu itu.

Lagunya asyik lho ...," jelas Suci panjang lebar seakan-akan berpromosi.

Anak-anak lain menyimak dengan penuh perhatian. "Ceritakan tentang daerahmu, Suci!" pintaku.

"Tuban terletak di pesisir utara Pulau Jawa. Selain ikan laut, Tuban terkenal dengan siwalan dan legen. Di sana ada tempat wisata gua yang besar. Namanya Gua Akbar. Paman mempunyai kebun dan ternak. Setiap hari saya membantu menggembala ternak," jelas Suci penuh semangat.

Aku jadi teringat dengan Bagas, sepupuku yang juga mempunyai kebun dan ternak. Anak-anak sekelas ribut sendiri. Ada yang bertanya-tanya tentang apa itu siwalan dan legen. Ada pula yang mencari-cari letak Tuban di peta.

Ketika jam istirahat aku sudah khawatir anak-anak Geng Cabut akan mempermainkan Suci si anak baru. Soalnya sudah menjadi kebiasaan Geng Cabut untuk mempermainkan anak baru. Dan gencetan, istilah yang kami pakai untuk mempermainkan anak baru, tidak tanggung-tanggung. Pokok-nya sampai anak itu menangis baru kami merasa puas.

Kekhawatiranku itu ternyata tidak terjadi. Karinka, Ayas, Jacinta dan Ayu malah asyik ngobrol dengan Suci di pinggir lapangan basket. Mereka tertawa-tawa gembira. Aku masih khawatir jangan-jangan ada jebakan di balik ketawa-ketiwi itu. Aku dekati mereka.

"Kalian sedang menggencet Suci, ya?" tanyaku pelan kepada Jacinta. Ia hanya mengangkat bahu.

"Mana mungkin kita menggencet Suci. Suci kan anaknya pintar, baik hati dan banyak pengalaman asyik yang tidak kita dapatkan di Jakarta. Nggak seperti anak baru sebelumnya yang sok tahu itu," jawab Karinka panjang.

"Dan satu lagi, gaya ngomongnya lucu… Medok!" tambahku. Kami semua tertawa, termasuk Suci.

Raja dan Kura-Kura

Di Benares, India, hidup seorang raja yang sangat gemar berbicara. Apabila ia sudah mulai membuka mulutnya, tak seorang pun diberi kesem-patan menyela pembicara-annya. Hal ini sangat mengganggu menterinya. Sang menteri pun selalu memikirkan cara terbaik menghilangkan kebiasaan buruk rajanya itu

Pada suatu hari raja dan menterinya pergi berjalan-jalan di halaman istana. Tiba-tiba mereka melihat seekor kura-kura tergeletak di lantai. Tem-purungnya terbelah menjadi dua.

"Sungguh ajaib!" kata Sang Raja de-ngan heran.

"Ba-gaimana hal ini dapat terjadi?"

Lalu Raja mulai dengan dugaan-du-gaannya. Dia terus-menerus membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan kura-kura itu. Sang Menteri hanya mengangguk-anggukkan kepala menunggu kesem-patan berbicara. Kemu-dian dia merasa menemukan cara terbaik untuk menghilangkan kebiasaan buruk Sang Raja.

Ketika Sang Raja me-narik napas untuk berbi-cara lagi, Sang Menteri segera menukas dan berkata,

"Paduka, saya tahu kejadian sebenarnya yang dialami kura-kura naas ini!"

"Benarkah? Bila begitu, lekas katakan," kata Raja penuh rasa ingin tahu.

Dengan penuh keseriusan Sang Raja mendengarkan cerita menterinya. Sang Menteri pun mulai bercerita.

Kura-kura itu awalnya tinggal di sebuah danau di dekat pegunungan Hima-laya. Di sana terdapat juga dua ekor angsa yang selalu mencari makan di danau tersebut. Mereka pun akhirnya bersahabat. Pada suatu hari dua ekor angsa itu menemui kura-kura yang sedang berjemur di tepi danau.

"Kura-kura, kami akan segera kembali ke tempat asal kami yang terletak di gua emas di kaki Gunung Tschittakura. Daerah tempat tinggal kami adalah daerah terindah di dunia. Tidak-kah engkau ingin ikut kami ke sana?" tanya Sang Angsa.

"Dengan senang hati aku akan turut denganmu," sahut kura-kura riang.

"Tetapi, sayangnya aku tak dapat terbang seperti kalian," lanjutnya dengan wajah mendadak sedih.

"Kami akan memban-tumu agar dapat turut bersama kami ke sana. Tapi selama dalam perjalanan kamu jangan berbicara karena akan membahayakan dirimu," kata angsa.

"Aku akan selalu mengingat laranganmu. Bawalah aku ke tempat kalian yang indah itu," janji kura-kura.

Lalu kedua angsa tersebut meminta kura-kura agar meng-gigit sepotong bambu. Kemudian kedua angsa tersebut menggigit ujung-ujung bambu dan mereka pun terbang ke angkasa.

Ketika kedua angsa itu sudah terbang tinggi, be-berapa orang di Benares melihat pe-mandangan unik tersebut. Mereka pun tertawa terbahak-bahak sambil berteriak.

"Coba, lihat! Sungguh lucu. Ada dua ekor angsa membawa kura-kura dengan sepotong bambu."

Kura-kura yang suka sekali bicara merasa tersinggung ditertawakan. Dia pun lupa pada lara-ngan kedua sahabatnya. Dengan penuh kemarah-an dia berkata,

"Apa anehnya? Apakah manusia itu sedemiki-an bodohnya sehingga merasa aneh melihat hal seperti ini?"

Ketika kura-kura membuka mulutnya untuk berbicara, dua ekor angsa itu sedang terbang di istana. Kura-kura pun terlepas dari bilah bambu yang digigitnya. Dia terjatuh tepat di sini dan tempurungnya terbelah dua.

"Kalau saja kura-kura itu tidak suka berbicara berlebih-lebihan, tentu sekarang dia telah tiba di tempat sahabatnya,"

kata Sang Menteri mengakhiri ceritanya sambil memandang Sang Raja. Pada saat bersamaan Raja pun memandang menterinya.

"Sebuah cerita yang menarik," sahut Sang Raja sambil tersenyum. Dia menyadari kemana arah pembicaraan menterinya.

Sejak saat itu, Sang Raja mulai menghemat kata-katanya. Dia tidak lagi banyak bicara. Tentu saja Sang Menteri amat senang melihat kenyataan itu.

Hallo Semua...

Kenalin.. Sang Jilbaber yang bernama wina ini, sekarang udah duduk di bangku kelas SMA lho!! Tepatnya sih, di kelas NASA SATELIT, SMADABAYA. Makasih juga.. udah jadi visitornya^^