Jumat, 29 Oktober 2010

Lukisan Langit

Dulu kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Aku melihat awan yang nampak seperti benua Amerika, Namun temanku yang lain memandang lukisan awan itu dengan penafsiran yang berbeda-beda. Raja Bersi keras, awan yang sama berbentuk Eropa. Sedangkan Atang tidak yakin dengan kami berdua dan sangat percaya bahwa awah tersebut berbentuk benua Afrika. Baso malah melihat semua ini semua dengan konteksi Asia. Dan lain halnya dengan kami semua, Said dan Dulmajid yang sangan nasionalis menganggap awan itu berbentu seperti peta Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Dulu kami tidak takut bermimpi, walau sejujurnya kami pun tak tahu bagaimana cara merealisasikannya.


Tapi lihatlah kini. Setelah kami mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkannya dengan do'a, Tuhan mengirim benua impian itu kepelukan masing-masing. Kun Fayakun. Dari bermula awan impian, kini semuanya berubah menjadi kenyataan.


Kami berenam telah berada di 5 negara yang berbeda. Di lima menara impian kami -mengingat begitu besar perjuangan kami dalam menimba ilmu di Pondok Madani selama 4 tahun. Juga menara kebesaran PM hingga kami di juluki oleh kawan-kawan sebagai sahibul menara-. Untuki itu, jangan pernah meremehkan impian walau setinggi apapun. Sungguh, Tuhan maha mendengar.


"Man Jadda wa Jadda", Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.



Di kutip, di adopsi dan di adaptasi dari novel "negeri 5 Menara".
Dengan sedikit editan oleh: Wina Zhonniwa

Kamis, 02 September 2010

Memories....

“Liana!” Sapanya ceria.

 Ia menghampiriku dan berdiri tak jauh di hadapanku. Kedua tangannya tersembunyi di balik tubuhnya sambil tersenyum lebar ke arahku. Memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

“Hai, Nid?” Ucapku dengan raut menyelidik. Alisku bertaut karena heran.

“Ada apa nih? Happy  Banget. Abis menang undian 1 milyar ya?” Celetukku asal. Mau tak mau aku tersenyum juga. Tak tahan untuk tidak menggodanya.

“Liat nih! Surprise!!” Sahabatku itu menyodorkan sebuah kotak yang berukuran cukup besar kepadaku.

Ugh! Berat juga ternyata.

Happy Birthday Lianaaa..! Untuk sahabatku yang paling baik dari yang terbaik” Ucapnya lagi.

Hiks. Aku benar-benar terharu di buatnya. Kotak itu ku letakkan di meja depanku, dan ku peluk ia dengan erat. “Thanks bangeett.Aku kira nggak bakalan ada yang inget sama ultahku yang ke-12 ini! Waah.. Kamu emang yang terbaik deh. Best of the best

“Ah, ikut-ikutan lo! Itukan kata-kataku!” Sungutnya kesal sambil mendorongku pelan.

“Udah ah, mana kotaknya? Bawa sini dong!” Panggil Nidya dari arah meja paling depan. Kemudian, aku mengikutinya, dan meletakkan kotaak  itu di atas meja.

Pandangan ku kini teralih pada jam tangan pink keemasan yang melingkar manis di pergelangan kiriku.’Udah jam segini kok belum ada yang
datang ya?’ Pikirku dalam hati.

“Mereka pada kemana ya?” Ucapku perlahan, hingga nyaris seperti bisikan.

Aku tak memperhatikan pada apa yang sedang di lakukan Nidya dengan kotak tadi karena terlalu asyik dengan pikiranku sendiri. Iseng, mataku mengamati dan menyusuri sudut-sudut kelas yang kosong. Begitu sepi.

Terdengar jeritan, tawa, dan suara-suara entah apa yang sedang di lakukan anak-anak di kelas sebelah. Ini memang belum jam masuk. Tapi, sebagian besar siswa di sekolah ini terbiasa dating cukup pagi. Dan pagi ini, seperti biasa. Setiap kelas memiliki kesibukan masing-masing dengan pada penghuninya seperti hari-hari biasanya. Hanya kelasku yang kosong melompong dan menyisakan seribu tanda Tanya.

Tiba-tiba..

“Tunggu..” Seruku pelan.

Namun sepertinya tak cukup pelan untuk tidak terdengar oleh telinga Nidya yang tajam.

Dengan cueknya, aku tetap menatap tajam pada satu titik. Ada sesuatu yang janggal di balik rolling door yang sedikit terbuka itu. Dengan perlahan, akhirnya tiga langkah telah ku lalui.

“Lian..! sini deh!” Panggilan Nidya berhasil membalikkan langkahku. Ia memegang buku yang terbuka untuk menutup bagian tepi kotak supaya menghalangi penglihatanku.

Dann…

“Taraaa… “ Kemudian ia bersiul keras.. “Suiiuuwiiittttt…”

Happy Birthday to you.. Happy Birthday to you..” Suara semua teman sekelas pun menggema seantero ruangan yang berukuran 4x5 meter itu.

Ohh! Itu dia!. Semua kejanggalan dan kecurigaanku terkuak sudah. Tapi.. Oh my God! Tart mini dengan lilin angka dua belas di atasnya?. Mataku membulat saat melihatnya.

Bukan main. Ini, sungguh kejutan yang luar biasa!. Sontak, aku pun langsung memeluknya “Makasiiihh… Makasih banyaaak..” Bisikku perlahan di telinganya.

“MAKASIH SEMUANYA!!”

“Hey. LIANA” Tiba-tiba.. Terdengar suara seseorang yang menyerukan namaku.

“Hah??” Aku mengerjap-ngerjapkan mata karena kaget. Sambil mengembalikan kesadaranku, aku menatapnya heran. “Sita?”

BYARRR!! Hilanglah semua lamunanku. Nidya… Kejutan… Kue tart… lilin angka 12… Huh! ‘Itu semua sudah berlalu Liana!’ hiburku dalam hati sambil mengelus dada.

Setidaknya.. Memori otakku yang berkapasitas ribuan giga ini masih mampu menampung seluruh peristiwa ulang tahunku yang paling bersejarah itu.

Nidya pindah rumah ke Semarang karena tuntutan pekerjaan Abi-nya. Tepatnya, seminggu setelah hari ulang tahunku, yang juga segera di kejutkan dengan kepindahannya yang tiba-tiba. Entah, bagaimana  ya kabarnya? Sudah lama sekali komunikasi kami terputus. Ah, jadi kengen.

Oke. Kembali ke masa sekarang. Aku, Liana Cleveriana Siswi SMP Cempaka, kelas 9. Yaitu, tempat di mana aku nyaris tak pernah merasakan déjà vu masa SD.

“Helloooww… Lianaa!” Sita mengibaskan tangannya tepat di depan hidungku yang pesek ini. “Gimana? Udah nginjek bukmi lagi belom?” Seru Sita bercanda. Akhirnya aku berhasil menarik sudut bibirku keatas membentuk seulas senyum. Senyum yang tampak sedikit terpaksa.

Melihat Sunset begini emang paling menyenangkan! Apalagi dengan di temani segelas besar es degan dan semangkuk bakso. Hmm.. makin maknyus deeh..

Aku jadi sedikit merasa bersalah pada Sita. Susah payah, ia mengajakku ke pantai ini untuk menghilangkan kesedihanku sekaligus hadiah, mengingat kejadian 3 tahun yang lalu tidak terulang pada ulang tahunku tahun ini yang Jatuh tepat dua hari yang lalu.
Eh, Nggak tahunya.. Malah aku tinggal berkelana ke masa lalu!!.

Sita, sahabatku pengganti Nidya. Aku merasa sangat beruntung sudah di pertemukan dengannya. Saat itu kami masih duduk di kelas 7. Mulanya, kami hanya sekedar berkenalan.. bertanya nama.. Dan hal-hal yang biasa di tanyakan saat perkenalan. Namun, lambat laun, omongan kamipun mulai merambah ke topil-topik lain. Kami merasa memiliki kecocokan. Jadi, kalau sudah bercerita, pasti nggak aka nada habisnya. Yah, selera kami memang mirip bangett!.

“Sit, kita pindah ke sana yuk! Di bukit itu!” Tunjukku pada sebuah bukit buatan yang ada di sebelah utara kami. “AYOK, MATAHARINYA KEBURU ILANG TUH!” Teriakku lagi.

“Aaaaaaahh….” Kami berdua pun lari di sepanjang tepian pantai. Dengan tangan terentang dan tatapan menengadah ke atas. Angin pantai yang bertiup semilir, menghembuskan seluruh kepenatan otak.

“Hei Liana, TUNGGUU..!”

Ups. Sita ketinggalan. Aku pun berhenti dan menunggu hingga Sita berhasil menjajari langkahku. Kita pun kembali berlari sambil bergandengan tangan.

“Kenceng-kencengan yuk! 1..2..3..” Aku member aba-aba.

“Aaaaaaaaaaaaarrgghhhhhhhhh… Hahahahahaaa…” Begitu kencengnya, sampai-sampai aku berpikiran kalau suaraku dan Sita ini bisa terdengar sampai ke negeri seberang lho!.

Senin, 16 Agustus 2010

Misteri rumah tua

Saat melewati rumah tua itu perasaan Tini selalu berdebar-debar. Kata orang-orang rumah itu berhantu. Tini melirik bangunan rumah tua itu sambil mempercepat langkahnya. Dinding dan kayu-kayu penyangga banyak yang keropos, dan pekarangan rumah terkesan kotor dan tak terurus.

Banyak orang yang mengatakan kalau mereka sering melihat sesosok bayangan dari dalam rumah itu. Ada yang mengatakan, penghuni rumah ini adalah monster yang menakutkan. Ada pula yang bercerita padanya, bahwa rumah itu dihuni oleh seorang kakek tua pertapa, dengan kumis tebal dan jenggot putih yang panjang. Namun, sejauh ini Tini belum pernah melihat satu pun penampakan dari rumah itu.

Sore itu, Tini baru saja pulang dari warung Bu Cokro Yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah angker itu. Ia baru membeli satu kilo telur ayam, dan juga satu botol kecap.

Berjarak satu meter dari rumah itu, Tini mencium aroma masakan dari arah belakang rumah itu. Seketika, bulu kuduknya pun meremang.

“Duh.. Kok serem gini sih?” Keluhnya.

Kresrek..Kreserrkk..

Bunyi derap kaki Tini yang menginjak tumpukan daun kering di sepanjang jalan, terdengar cukup berisik. Terbukti dari suasana sunyi kebun jati di sampingnya. Biasanya, hutan kecil itu tak pernah sepi karena kicauan burung-burung kecil terus bersahutan. Juga embikan kambing liar, atau lenguhan sapi yang di ternak oleh sang gembala di balik pohon-pohon jati.

Ketakutan Tini semakin menjadi-jadi saat ia melihat sekelebat bayangan hitam dari arah rumah tua. Ia merasa seakan ada seseorang yang sejenak mengamatinya dari dalam sana.

“Mending, aku cepet-cepet pergi dari sini deh” ucapnya nyaris berbisik. Ia pun memutuskan untuk berlari dan menjauh dari bangunan yang menyeramkan itu.

Esok harinya, Tini kembali melewati rumah tua itu saat perjalanan pulang dari sekolahnya. Tanpa sengaja, Ia mendengar samar-samar beberapa orang sedang bercakap-cakap. Sesekali ia mendengar ucapan-ucapan kasar dari seseorang yang entah dimana. “Mungkin dari belakang rumah” Pikir Tini. Karena penasaran, dengan berjingkat ia berniat menguping pembicaraan orang tersebut.

“Heh, gila lo! Gimana kalau ketahuan?” Terdengar ucapan dari salah seorang.

Tini pun terus berdiri di depan pintu samping rumah, sambil menempelkan daun telinganya kepermukaan pintu. Tiba-tiba.. suara langkah kaki seseorang terdengar semakin dekat.

Sebelum Tini sadar dan pergi, gagang pintu itu telah berputar dengan cepat. Pintupun terbuka dengan keras dan membentur sisi pohon yang ada tepat di depan pintu itu. Tini begitu terkejut dan merasa degup jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

“Siapa itu?” Teriak seseorang dengan berang.

Rupanya Tini selamat dari orang tak di kenal tadi. Ia nyaris tertangkap, jika seandainya ia tidak lekas mengambil langkah seribu dan bersembunyi di balik salah satu pohon jati di seberang rumah itu. Namun, orang itu tidak terlambat untuk melihat sosok Tini dari belakang.

“Gadis kecil berseragam sekolah SD. Mungkin ia kelas 4 atau 5”. Lapor sang pengejar Tini kepada seseorang yang lain. Mungkin itu adalah atasannya.

“Sepertinya tidak masalah!” Sahut sang bos, acuh tak acuh.

Tidak seperti perkiraan mereka. Tini adalah gadis yang tergolong mungil untuk anak seumurannya. Ini menyebabkan para sosok mencurigakan menghilangkan kecurigaannya pada Tini. Karena sebenarnya, Tini berumur 12 tahun atau kelas 6 tepatnya.

Di rumah teman Tini…

“Eh Ra, kamu tau rumah kosong yang di depan hutan jati di sana?” Tunjuk Tini ke arah Barat Daya.

“Emang kenapa?” Rara balas bertanya. “Yang angker itu kan?” lanjutnya lagi.

“Aku curiga deh!”

“Sama siapa?” Rara menautkan alisnya karena penasaran.

“Gini ra..” Tini pun menceritakan semua yang di dengarnya pada Rara, teman baiknya.

“Hah? Yang bener?” Rara memekik, tidak percaya. “Ini harus di laporin ke kades nih Tin”.

Tini langsung membulatkan mata dan memelototkannya ke arah Rara. “eeh.. ya jangan thoh. Ntar, kalau informasinya salah gimana?” Ucapnya dengan logat medok anak jawa.

“Ya udah deh, gimana kalau besok kita kesana lagi.” Usul Rara. “Sekalian, mungkin kita bisa melacak dan membongkar kedok mereka!”. Mulailah si Rara beraksi dengan gaya sok detektifnya. Ia memang pernah mencita-citakannya.

“Oke.”

Kruk..kruuk..krukk..

Suara jangkrik dan keheningan malam menyelimuti Rara dan Tini di hutan jati. Mereka sengaja janjian dan keluar rumah tanpa sepengetahuan orang rumah.

“Bos, Pulang dulu ya!” Terdengar satu suara.. dua.. tiga.. eh-empat. Aduh, entahlah ada berapa orang yang tiba-tiba keluar dari pintu samping rumah tua. Sekejap saja, suara mereka hilang.. lenyap di telan malam.

Tini melihat ke arah langit. Tidak ada bintang malam ini. Karena langit mendung dan menutup seluruh bintang. Dan suasana ini sangat mendukung bagi Tini dan Rara. Mereka sama sekali tak terlihat mencurigakan karena tertutup bayangan awan hitam. Hanya saja, ia jadi tidak bisa memperkirakan pukul berapa sekarang.

“Eh Tin, kita sembunyi di sisi sebelah situ yuk.” Ajak Rara seraya menunjuk sisi lain dari rumah itu.

Mereka tidak sadar apa yang ada di belakang mereka. Sebuah sungai yang cukup deras aliran airnya. “Aaah..Tolong aku Tin” Terdengar pekik tertahan dari samping Tini. Tini pun dengan cepat memutar arah pandangnya, dan ia melihat Rara terpeleset nyaris terbawa arus sungai. Dengan sigap, Tini menangkap tangan Rara dan ia pun berpegangan pada sebuah batu yang agak menonjol panjang ke atas.

“Greekk..” Riri dan Tini segera menjauh dari sungai. Dan kini mereka mendapati sebuah lorong yang agak kecil mengarah landai, miring ke bawah tanah. “Pasti yang kamu jadikan pegangan tadi itu, kunci jalan rahasia”. “Mungkin” Jawab Tini sedikit ragu.

Begitu mereka sampai di dasar lorong, mereka melihat hal-hal yang yang bersinar terang. Mereka belum yakin benda apa itu.

“Oh my god!” Tini menahan keterkejutannya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak berteriak. Rara pun melakukan respon yang nyaris sama. Semua benda berkilauan itu adalah emas dan perhiasan-perhiasan dalam peti. Ada juga berlian dan permata yang ukurannya cukup besar. Dan semua harta karun lainnya.

Apa yang mereka lihat?

“Tini, ini adalah jawaban dari kecurigaanmu kemarin!”

Kemarin, Tini bercerita bahwa ia mendengar sekumpulan orang yang berdebat di balik pintu samping tempat Tini mencuri dengar kemarin, membicarakan soal jadwal penjagaan. Bahkan sesekali orang-orang itu menyebut-nyebut kata ‘rahasia besar kita’. Juga rencana pengangkutan ke daerah… entah apa namanya.

Setelah mereka merasa berhasil, mereka segera keluar, dan akan melaporkan kejadian itu esoknya pada pak kades. Karena atas apa yang di dengar Tini, mereka akan mengangkut semua harta karun itu esok lusa.

Tepat di ujung terowongan, Rara di kejutkan olehh tiga orang berbadan tegap yang menghadang.

“Ayo ra, kenapa berhenti? Di sini panas nih. Pengen cepet keluar” Desak Tini dari belakang Rara.

Namun Rara tetap bergeming dan tak mengucap sepatah katapun.

“Ayo keluar!” Dengan kasar, orang-orang itu menarik Rara keluar, dan segera mencengkran tangan Tini dengan kuat. Tini, yang tak mengerti sebelumnya, sempat terkejut dan meronta.

Sekarang, mereka menjadi tahanan para gengster itu.

Matahari telah menunjukkan senyumnya dengan malu-malu.

Riri dan Tini pun masih tetap terkurung di salah satu kamar dengan tangan terikat kebelakang. Mereka sangat kebingungan. Tini sempat menangis menyebut-nyebut nama mak dan bapaknya di rumah. Rara juga sesekali menggerutu tak jelas atau kadang menangis tertahan.

Waktu telah berlalu beberapa jam. Kini, jam dinding rumah Tini telah menunjukkan pukul sepuluh siang. Bapaknya mondar-mandir kebingungan karena tidak melihat Tini sedari pagi dan hingga kini belum juga terlihat batang hidungnya.

Dog..Dog..dogg!!!

Suara pintu dengan di gedor dengan keras. Bapak dan mak Tini segera berlari keluar denggan cemas.

“Nak Bayu? Ada apa?” Tanya mak Tini kebingungan.

“I..i-tu.. bu. Mbak Ti-ni sa..ma mbak Rara dalam bahaya” Ucap bayu, adik Rara terbata-bata.

“Ayo, ucapkan yang jelas. Ada apa? Jangan membuat ibu panik seperti ini!”

“Lebih baik, ibu dan bapak ikut dengan saya”

Mereka pun lari ke arah rumah tua yang terpercaya angker. Ternyata, di sana telah ada pak Kades dan orang tua Rara. Juga para penduduk desa.

Dan dari dalam rumah, polisi-polisi keluar sambil menggiring orang-orang yang di anggap asing penduduk sini. Tangan mereka telah di borgol.

Tiba-tiba..

“Emaakk..” Tangis Tini pun pecah lagi. Ia segera berlari memeluk mak dan bapaknya.

Pak Kades mengambil alih perhatian. "Tenang semuanya.. Penjahat-penjahat itu sudah tertangkap. Ternyata, selama ini rumah ini telah di huni para gangster, yang sebelumnya telah mengetahui keberadaan harta karun terpendam di rumah ini. Mungkin itu merupakan harta milik salah satu penduduk sini yang menghuni rumah itu.” Terang Pak Kades panjang lebar sambil sesekali menunjuk rumah itu.

Esoknya..

“Bayu, bagaimana kau tahu kami ada di dalam sana?” Tanya Tini saat ia bermain ke rumah Rara.

“Maaf Tin, sebelumnya aku sudah membocorkan hal ini ke adikku. Maaf ya!” Ucap Rara dengan perasaan bersalah

“Nggak papa kok. Karena pada akhirnya.. itu menjadi bermanfaat. Memang ada baiknya memberi tahu seseorang untuk mengawasi, siapa tahu kita dalam bahaya.

Bayu pun akhirnya menceritakan semuanya.

Dan Sekarang.. Desa tempat Rara dan Tini tinggal menjadi aman, tentram, dan damai kembali. Anak-anak juga sudah tak ada yang takut dengan rumah itu.

Rabu, 11 Agustus 2010

Jangan Coba-Coba jahil sama Tasya

Karena nilai rapot Tasya bagus, Bunda Ratu Tujuh Pelangi menghadiahi sebuah pensil. Bentuknya lucu. Berwarna merah, terbuat dari kristal dan bertuliskan nama Tasya. Pada pangkalnya terdapat hiasan berbentuk koala yang juga terbuat dari kristal. Lucunya lagi, koala hiasan itu bisa merekam suara apa saja.

Sekarang Tasya bisa mengingat PR yang diberikan oleh gurunya, halaman berapa dan soal nomor berapa saja yang harus dikerjakannya. Selama ini Tasya sering lupa dan harus telpon teman-temannya untuk menanyakan PR.

"Tasya, buruan! Nanti telat, lho!" Nenek Fay telah siap di teras.

Sementara jam yang tergantung di ruang tamu menunjuk tujuh kurang lima belas menit. Tasya keluar dengan berseragam dan menyandang tas. Sambil berjalan, diamatinya pensil barunya. Dipencetnya tombol-tombol kecil yang melingkar pada cincin di bawah hiasan koala.

"PR Matematika, halaman 12, nomer 1 sampai 8..." terdengar rekaman suara Tasya dari pensil.

"Udah!" jawab Tasya sambil menjentikkan jari. "Yap, sekarang berangkat!"

Dari seluruh murid yang ada di sekolah Tasya, tak ada yang sejahil dan senakal Roni. Hari ini giliran Tasya yang dijahilinya. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, diam-diam Roni menyembunyikan pensil baru Tasya. Padahal nanti ada pelajaran menggambar. Dan Tasya hanya bawa pensil itu.

Tasya tidak memperhatikannya, bahkan sampai Roni mengambil pensil ajaibnya dari dalam tasnya.

Selama istirahat Tasya berusaha mencari pensilnya. Teman-teman telah ditanyainya, tapi tak satu pun yang mengaku melihatnya. Uh, bandelnya si Roni! Ternyata dia telah mengancam seluruh anak di kelas!

"Awas ya, kalau kalian bilang atau meminjamkan pensil pada anak itu!" ancamnya sambil mengepalkan tinjunya.

Anak-anak patuh dan mengangguk-anguk karena takut.

"Hei, kodok! Aku pukul kamu kalau ngadu sama Bu Sam!" Roni pun mengancam Dewi, ketua kelas dan teman sebangku Tasya.

Sementara tangannya asyik memencet tombol-tombol pada pensil itu.

Tak lama kemudian bel berbunyi, tanda istirahat usai. Bu Sam masuk sambil membawa buku IPA, mata pelajaran berikutnya. Pelajaran yang menyenangkan sebenarnya buat Tasya, tetapi pikirannya masih tertuju pada pensil kesayangannya. Pandangannya menyebar ke seluruh penjuru kelas. Sesekali dilihatnya Roni dan gengnya yang cekikikan di belakang. Tapi ketika mata Tasya tertuju pada mereka, seketika mereka terdiam dan memasang tampang tak bersalah. Tasya mulai curiga.

"Apa nama hewan yang mirip kuda dan berbadan belang hitam-putih?" tiba-tiba Bu Sam telah memberikan pertanyaan.

"... kodok... Bu Sam... kodok... Bu Sam... kodok ... " sekonyong-konyong terdengar suara Roni dari belakang.

Keruan saja suasana kelas segera dipenuhi oleh suara tawa. Seluruh anak menertawakan Roni yang gelagapan di belakang. Mukanya merah dan bingung melihat seluruh mata di kelas tertuju padanya. Tangannya sibuk memenceti tombol pada pensil yang disembunyikan di bawah meja.

"Siapa itu?" bentak Bu Sam galak. Matanya menyelidik. "Kamu jawab apa Roni?"

Seketika ruang kelas terdiam.

"Bu... bu... bukan sa... ya, bu, " sahutnya tergagap. "Tapi... ini... "

Rupanya tanpa sengaja Roni telah merekam kata-katanya sendiri waktu mengancam Dewi. Lantas tanpa sengaja pula dia menekan tombol play waktu Bu Sam mengajukan pertanyaan. Masih dengan sikap galak Bu Sam meminta Roni maju. Tentu saja Bu Sam tidak percaya bahwa pensil yang ditunjukkan kepadanyalah yang mencemooh dirinya.

"Itu pensil saya, Bu!" wajah Tasya tiba-tiba berbinar.

Bu Sam melihat Tasya sejenak, kemudian bertanya pada Roni, "Benar ini pensil Tasya, Ron?"

Roni mengangguk sambil tertunduk. Dia tak mungkin mungkir karena nama Tasya tertera pada pensil itu. Tetapi akhirnya Roni dihukum oleh Bu Sam. Ingin tahu hukumannya? Berdiri di depan kelas sampai pelajaran IPA berakhir!

Putri Seorang Saudagar

Konon duluuuu sekali, adalah seorang saudagar yang kaya. Dia mempunyai tiga orang putri. Ketiganya berparas cantik. Sulung memiliki tubuh yang ramping. Karena itu dia senang sekali memakai baju yang bagus-bagus. Tengah mempunyai kulit yang halus lembut. Karena itu dia suka memakai perhiasan yang indah-indah. Sedang si Bungsu suaranya sangat merdu. Sifatnya juga lemah lembut. Dia sayang sekali kepada ayahnya.

Suatu hari saudagar itu akan berdagang ke negri seberang. Negeri itu sangat jauh letaknya. Harus melewati hutan dan gurun yang tandus. Di sana banyak berkeliaran perampok.

"Nah!" kata saudagar itu kepada ketiga putrinya. "Apa yang kalian inginkan untuk oleh-oleh nanti?"

"Biasa Yah," sahut si Sulung. "Saya ingin sebuah baju yang paling cantik yang ada di negri itu."

"Kalau saya sih minta dibawakan perhiasan yang paling indah yang ada di negri itu," seru si Tengah.

Bungsu hanya diam. Teringat dia akan mimpinya semalam. Dia merasa cemas, takut kalau apa yang dimimpikannya itu akan menjadi kenyataan.

"Bagaimana Bungsu?" Apa yang kau inginkan?" tanya saudagar itu karena si Bungsu hanya memandangi dirinya saja.

"Saya ingin ayah tidak pergi," sahut si Bungsu dengan suara pelan.

"Huuuu!" seru si Sulung sebal. "Kalau Ayah tidak pergi bagaimana aku bisa mendapat baju yang cantik!"

"Iya, nih. Kamu bagaimana sih!" seru si Tengah tidak kalah kesal. "Kalau Ayah tidak pergi aku kan tidak bisa memiliki perhiasan yang indah."

Saudagar itu menepuk bahu si Bungsu tanda mengerti. "Ayah mengerti mengapa kau merasa cemas melepas ayah pergi. Tapi percayalah. Ayah bisa menjaga diri."

Bungsu menundukkan kepalanya. Ingin rasanya dia menceritakan mimpinya. Tetapi dia takut ditertawakan. Tentu kedua kakanya akan berkata, "Alaa, mimpi itu kan cuma bunga tidur."

Karena itu setelah ayahnya pergi, Bungsu terus gelisah. Bayangan mimpi itu terus mengganggu pikirannya. Setiap kali memikirkan ayahnya air matanya menitik. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk menyusul ayahnya. Diam-diam dia pergi meninggalkan rumahnya.

Dia berjalan menuju luar kota. Setelah seharian berjalan, dia merasa lelah. Dia duduk menyandar di bawah sebatang pohon yang rindang. Pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan mimpinya.

"Oooh, seandainya aku menjadi burung, tentu aku bisa lebih cepat menyusul Ayah," keluhnya. Tak terasa air mata menetes di pipinya. Angin sepoi-sepoi membuat matanya mengantuk. Apalagi badannya sudak capek sekali. Akhirnya dia tertidur lelap. Entah berapa lama dia tidur. Ketika sudah bangun dia merasa ada sesuatu yang aneh di tubuhnya.. Seluruh badannya telah ditumbuhi bulu-bulu. Tangannya berubah menjadi sayap. Dan mulutnya menjadi paruh. Dia tidak bisa lagi berbicara seperti semula. Yang keluar dari mulutnya hanyalah suara siulan yang sangat merdu.

Meskipun begitu Bungsu merasa gembira. Sebab dengan memiliki sayap, kini dia bisa lebih cepat menemukan ayahnya. Dia lalu terbang. Makin tinggi. Makin jauh. Tapi dia belum juga menemukan ayahnya. Dia sudah merasa putus asa ketika tiba-tiba dari kejauhan dia mendengar suara pekik burung gagak. Dia mencoba terbang ke arah itu. Dilihatnya segerombolan burung gagak raksasa terbang mengelilingi sesuatu benda. Bungsu segera mendekati mereka.

Astaga! Pekiknya dalam hati. Itu kuda ayahnya. Sepertinya kuda itu sudah mati. Berarti ayahnya ada di sekitar tempat itu. Dengan rasa cemas dia memeriksa sekitar tempat itu. Akhirnya dia menemukan ayahnya. Tergeletak pingsan di balik segerombolan semak. Tubuhnya terluka. Nampaknya ayahnya telah menjadi korban perampokan. Mungkin sebelum merampok ayahnya disiksa lebih dulu.

Menetes air mata Bungsu melihat keadaan ayahnya itu. Teringat dia akan mimpinya. Apa yang ditakutkannya telah menjadi kenyataan. Dia harus segera mencari pertolongan agar ayahnya bisa diselamatkan.

Bungsu segera terbang mengelilingi gurun itu. Melihat kalau-kalau ada orang yang bisa dimintai pertolongan. Haaa! Ada seorang pemuda gagah yang sedang mengendarai kuda. Nampaknya dia bermaksud beristirahat, sebab kini dia menghentikan kudanya. Memasang kemah. Menurunkan perbekalan yang dibawanya, kemudian memberi kudanya minum dan makan. Nah, sekarang pemuda itu siap menikmati makan siangnya.

Bungsu segera menukik. Menyambar roti yang siap dimasukkan ke mulut pemuda itu. Si pemuda mula-mula kaget dengan kejadian tiba-tiba itu. Tetapi kemudian dia menjadi heran. Karena burung yang telah menyambar rotinya itu tidak segera terbang menjauhinya. Burung itu terbang rendah di hdapannya. Berputar-putar seolah ingin ditangkap.

Pemuda itu menjadi penasaran. Dia berdiri. Mencoba menangkap burung cantik yang kelihatan jinak itu. Tetapi si burung mengelak. Terbang menjauh sedikit lalu berputar-putar kembali. Pemuda itu terus mengikuti burung itu. Dia penasaran. Tak sadar dia telah meninggalkan kemahnya. Kini dilihatnya burung cantik itu hinggap di atas sebuah pohon kecil. Si Pemuda mengendap-endap. Mengulurkan tangan, siap menangkap si burung. Tetapi tiba-tiba dia terbelalak kaget.

"Astaga!" serunya tatkala melihat saudagar yang sedang tergeletak pingsan. Dia segera mengangkat tubuh saudagar itu. Segera dibawanya ke kemahnya. Sementara burung cantik mengikuti dari belakang.

Setelah berada di kemahnya, saudagar itu dirawatnya dengan baik. Luka-lukanya dibersihkan, diberi obat. Pakaiannya yang kotor diganti. Dan ketika saudagar itu siuman, dia menjadi heran.

"Siapa anda?" tanyanya menatap penolongnya.

"Saya kebetulan sedang lewat. Burung itu yang menunjukkan Bapak kepada saya. Rupanya Bapak telah menjadi korban perampok," sahut pemuda itu.

Saudagar mengangguk. "Yaa ... sungguh menyesal saya karena tidak mau mendengar kata-kata anak saya yang bungsu. Padahal dia sudah melarang saya pergi. Akh, dia tentu sangat sedih bila mengetahui keadaan saya sekarang," kata saudagar itu seraya menitikkan air matanya.

Aneh! Tiba-tiba saja si Bungsu berubah kembali menjadi seorang putri yang cantik. Dia segera memeluk ayahnya dengan gembira.

"Ayah! Syukurlah Ayah selamat," katanya.

"Astaga! Jadi kau yang telah menunjukkan ayah kepada orang itu?" tanya saudagar itu. "Mengapa kau bisa menjadi burung?"

Bungsu segera mengisahkan kejadiannya. Kemudian dia mengucapkan terima kasih kepada pemuda yang telah menolong ayahnya. Si Pemuda tersenyum.

"Saya kagum sekali mendengar bagaimana besarnya kasih sayangmu kepada ayahmu. Kebetulan saya melakukan perjalanan ini untuk mencari seorang istri. O, ya. Perkenalkan. Saya Pangeran dari negri seberang. Kalau kamu tidak keberatan saya ingin melamar kamu menjadi istri saya."

Begitulah akhirnya, mereka kawin dan hidup berbahagia. Saudagar itu kembali pulang ke rumahnya tanpa membawa oleh-oleh bagi kedua putrinya yang lain. Namun Bungsu menitipkan sebuah gaun yang cantik dan sepasang perhiasan bagi kedua kakaknya.

Hallo Semua...

Kenalin.. Sang Jilbaber yang bernama wina ini, sekarang udah duduk di bangku kelas SMA lho!! Tepatnya sih, di kelas NASA SATELIT, SMADABAYA. Makasih juga.. udah jadi visitornya^^