Jumat, 18 Maret 2011

Ranah 3 Warna

Setelah membaca negeri 5 menara, akhirnya daku sempat jua tuk membaca kelanjutannya. 
Ingin sekali rasanya bisa menjalani hidup dengan sehebat itu. 
Terasa begitu mudah saat melalu berbagai cobaan yang menimpa.

Terima Kasih Cha-Cha yang sudah berbaik hati meminjamkan novel yang sarat ilmu ini. 
Semoga ini dapat di contoh dan di terapkan dalam kehidupan nyata..

VENI, VIDI, VICI
-Saya datang, Saya Lihat, dan Saya menang-



Salah satu syair Sayyid Ahmad Hasyimi.
Syair ini diajarkan pada tahun ke-4 di pondok modern Gontor, Ponorogo


Kamis, 10 Februari 2011

Kutitip Surat ini Untukmu.. part I

Surat Ibu kepada Putranya

"Orang tua pintu surga yang di tengah, sekiranya engkau mau, sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!" 
(HR. Ahmad)

Kutitip surat ini anakku!

Nanda yang kusayangi, di bumi Allah ta'ala...

Segala puji ibu panjatkan kehadirat Allah yang telah memudahkan Ibu untuk beribadah kepada-Nya. Shalawat serta salam Ibu sampaikan kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya. Aamiin...

Wahai Anakku,

Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara...  Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulisdan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap itu pula goresan tulisan terhalangi oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air matasetiap itu pula hati terluka...

Wahai anakku!

Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hatiku dan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku... 25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan tentang kehamilanku dan semua Ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi. Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan, tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu wahai anakku! Pada kondisi lemah diatas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu sangat gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu atau balikan badanmu dalam perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku.

Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak lagi dapat menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari dipelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar kedunia

Engkau pun lahir... Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan itu semua, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku kepadamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku raih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air yang ada di kerongkonganku.

Wahai anakku... Telah berlalu tahun dan usiamu. Aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan padamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu.

Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu... Itulah kebahagiaanku!.

Kemudian, berlalulah waktu, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selamua itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhanti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah lelah serta mendoakan selalu kebaikan dan taufiq untukmu. Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis, telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan kanan demi mencari pasangan hidupmu.

semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. Saat itu pula hatiku serasa teriris-iri, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah tercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapat pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.

Waktupun berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dalam kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang keguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi, penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku menyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu.

Akan tetapi semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputus asaan, yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku... Ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih padamu yang bukan-bukan. Yang ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar ibu teringat pula hari-hari bahagia masa kecilmu.

Yang ibu tagih padamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempt persinggahanmu, agar engkau dapat pula sekali-kali singgah kesana sekalipun hanya satu detik, jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit... Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya di bopong, sekalipun begitu cintaku padamu masih seperti dulu, masih seperti lautan yang tidak pernah kering, Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.

Sekiranya engkau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannnya dengan keaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu... Mana balas budimu nak? Mana balasan baikmu?! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak?! Susu yang ibu berikan engkau balas dengan tuba?! Bukankah Allah ta'ala berfiman:
(هَلْ جَزَاء الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ(٦٠
Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula? (QS. Ar-Rahman:60)


Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu? Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertyambah kebahagiaanku Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil keletihanku, Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah ku perbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu? pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian pembantu dan budakmu? Mereka telah mendapatkan upahnya, lalu mana upah yang layak untukku wahai anakku!

Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku dibawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta'ala mencintai orang yang berbuat baik.

Wahai anakku! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan  yang lain.

Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki yang supel, dermawan, dan berbudi Anakku... tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan rindu, berselimutkan kesdihan, dan berpakaian kedukaan?

Bukan karena apa-apa. Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengeluarkan air matanya... Hanya karena engaku telah membalasnya dengan luka di hatinya... hanya karena engkau pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya.. hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim?

Wahai anakku, Ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu disana dengan kasih sayang Allah ta'ala.

Anakku, aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau beranjak dewasa saat itu pula sifat tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah.

Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadist yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yanitu bahwa nabi yang mulia shallallahu 'alaihi wasallam bersabda.

Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: 'aku bertanya kepada rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, "wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia?" beliau berkata: "Shalat pada waktunya", aku berkata: "kemudian apa, wahai rasulullah?" Beliau berkata "berbakti kepada orang tua", aku berkata: "kemudian wahai Rasulullah?" beliau menjawab: "jihad di jalan Allah" lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya.'
(HR. Bukhari, Musliman Ahmad)

Wahai anakku, ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak untuk berletih dalam berinfak.

Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mecari tambang emas?! setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya dirumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, disebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.


Begitulah perumpamaan dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau lupa bahwa didekatmu ada pahala yang maha besar. Disampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu, Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah, dan murkaku adalah kemurkaanNya?


Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi Shalallahu alaihi wasallam dalam sabdanya:


"merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang, dikatakan (kepada Rasulullah): 'siapa dia wahai Rasulullah?' beliau menjawab "orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga"
(HR. Muslim)

Anakku... Aku tidak angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada tabib yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkankan engkau adalah jantung hatiku... Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana ibu tega melihatmu merana terkena doa mustajab, padahal engkau bagiku kebahagiaan hidupku.

Bangunlah nak, uban sudah merambat dikepalamu, akan berlalu masa sehingga engkau akan menjadi tua, dan al-jaza' min jinsil 'amal...  Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam... Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata pula kepadamu.

Wahai anakku, Bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.

Anakku... Setelah engkau membaca surat ini, terserah kepadamu, apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam,

Ibumu.

Jumat, 29 Oktober 2010

Lukisan Langit

Dulu kami melukis langit dan membebaskan imajinasi itu lepas membumbung tinggi. Aku melihat awan yang nampak seperti benua Amerika, Namun temanku yang lain memandang lukisan awan itu dengan penafsiran yang berbeda-beda. Raja Bersi keras, awan yang sama berbentuk Eropa. Sedangkan Atang tidak yakin dengan kami berdua dan sangat percaya bahwa awah tersebut berbentuk benua Afrika. Baso malah melihat semua ini semua dengan konteksi Asia. Dan lain halnya dengan kami semua, Said dan Dulmajid yang sangan nasionalis menganggap awan itu berbentu seperti peta Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Dulu kami tidak takut bermimpi, walau sejujurnya kami pun tak tahu bagaimana cara merealisasikannya.


Tapi lihatlah kini. Setelah kami mengerahkan segala ikhtiar dan menggenapkannya dengan do'a, Tuhan mengirim benua impian itu kepelukan masing-masing. Kun Fayakun. Dari bermula awan impian, kini semuanya berubah menjadi kenyataan.


Kami berenam telah berada di 5 negara yang berbeda. Di lima menara impian kami -mengingat begitu besar perjuangan kami dalam menimba ilmu di Pondok Madani selama 4 tahun. Juga menara kebesaran PM hingga kami di juluki oleh kawan-kawan sebagai sahibul menara-. Untuki itu, jangan pernah meremehkan impian walau setinggi apapun. Sungguh, Tuhan maha mendengar.


"Man Jadda wa Jadda", Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.



Di kutip, di adopsi dan di adaptasi dari novel "negeri 5 Menara".
Dengan sedikit editan oleh: Wina Zhonniwa

Kamis, 02 September 2010

Memories....

“Liana!” Sapanya ceria.

 Ia menghampiriku dan berdiri tak jauh di hadapanku. Kedua tangannya tersembunyi di balik tubuhnya sambil tersenyum lebar ke arahku. Memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

“Hai, Nid?” Ucapku dengan raut menyelidik. Alisku bertaut karena heran.

“Ada apa nih? Happy  Banget. Abis menang undian 1 milyar ya?” Celetukku asal. Mau tak mau aku tersenyum juga. Tak tahan untuk tidak menggodanya.

“Liat nih! Surprise!!” Sahabatku itu menyodorkan sebuah kotak yang berukuran cukup besar kepadaku.

Ugh! Berat juga ternyata.

Happy Birthday Lianaaa..! Untuk sahabatku yang paling baik dari yang terbaik” Ucapnya lagi.

Hiks. Aku benar-benar terharu di buatnya. Kotak itu ku letakkan di meja depanku, dan ku peluk ia dengan erat. “Thanks bangeett.Aku kira nggak bakalan ada yang inget sama ultahku yang ke-12 ini! Waah.. Kamu emang yang terbaik deh. Best of the best

“Ah, ikut-ikutan lo! Itukan kata-kataku!” Sungutnya kesal sambil mendorongku pelan.

“Udah ah, mana kotaknya? Bawa sini dong!” Panggil Nidya dari arah meja paling depan. Kemudian, aku mengikutinya, dan meletakkan kotaak  itu di atas meja.

Pandangan ku kini teralih pada jam tangan pink keemasan yang melingkar manis di pergelangan kiriku.’Udah jam segini kok belum ada yang
datang ya?’ Pikirku dalam hati.

“Mereka pada kemana ya?” Ucapku perlahan, hingga nyaris seperti bisikan.

Aku tak memperhatikan pada apa yang sedang di lakukan Nidya dengan kotak tadi karena terlalu asyik dengan pikiranku sendiri. Iseng, mataku mengamati dan menyusuri sudut-sudut kelas yang kosong. Begitu sepi.

Terdengar jeritan, tawa, dan suara-suara entah apa yang sedang di lakukan anak-anak di kelas sebelah. Ini memang belum jam masuk. Tapi, sebagian besar siswa di sekolah ini terbiasa dating cukup pagi. Dan pagi ini, seperti biasa. Setiap kelas memiliki kesibukan masing-masing dengan pada penghuninya seperti hari-hari biasanya. Hanya kelasku yang kosong melompong dan menyisakan seribu tanda Tanya.

Tiba-tiba..

“Tunggu..” Seruku pelan.

Namun sepertinya tak cukup pelan untuk tidak terdengar oleh telinga Nidya yang tajam.

Dengan cueknya, aku tetap menatap tajam pada satu titik. Ada sesuatu yang janggal di balik rolling door yang sedikit terbuka itu. Dengan perlahan, akhirnya tiga langkah telah ku lalui.

“Lian..! sini deh!” Panggilan Nidya berhasil membalikkan langkahku. Ia memegang buku yang terbuka untuk menutup bagian tepi kotak supaya menghalangi penglihatanku.

Dann…

“Taraaa… “ Kemudian ia bersiul keras.. “Suiiuuwiiittttt…”

Happy Birthday to you.. Happy Birthday to you..” Suara semua teman sekelas pun menggema seantero ruangan yang berukuran 4x5 meter itu.

Ohh! Itu dia!. Semua kejanggalan dan kecurigaanku terkuak sudah. Tapi.. Oh my God! Tart mini dengan lilin angka dua belas di atasnya?. Mataku membulat saat melihatnya.

Bukan main. Ini, sungguh kejutan yang luar biasa!. Sontak, aku pun langsung memeluknya “Makasiiihh… Makasih banyaaak..” Bisikku perlahan di telinganya.

“MAKASIH SEMUANYA!!”

“Hey. LIANA” Tiba-tiba.. Terdengar suara seseorang yang menyerukan namaku.

“Hah??” Aku mengerjap-ngerjapkan mata karena kaget. Sambil mengembalikan kesadaranku, aku menatapnya heran. “Sita?”

BYARRR!! Hilanglah semua lamunanku. Nidya… Kejutan… Kue tart… lilin angka 12… Huh! ‘Itu semua sudah berlalu Liana!’ hiburku dalam hati sambil mengelus dada.

Setidaknya.. Memori otakku yang berkapasitas ribuan giga ini masih mampu menampung seluruh peristiwa ulang tahunku yang paling bersejarah itu.

Nidya pindah rumah ke Semarang karena tuntutan pekerjaan Abi-nya. Tepatnya, seminggu setelah hari ulang tahunku, yang juga segera di kejutkan dengan kepindahannya yang tiba-tiba. Entah, bagaimana  ya kabarnya? Sudah lama sekali komunikasi kami terputus. Ah, jadi kengen.

Oke. Kembali ke masa sekarang. Aku, Liana Cleveriana Siswi SMP Cempaka, kelas 9. Yaitu, tempat di mana aku nyaris tak pernah merasakan déjà vu masa SD.

“Helloooww… Lianaa!” Sita mengibaskan tangannya tepat di depan hidungku yang pesek ini. “Gimana? Udah nginjek bukmi lagi belom?” Seru Sita bercanda. Akhirnya aku berhasil menarik sudut bibirku keatas membentuk seulas senyum. Senyum yang tampak sedikit terpaksa.

Melihat Sunset begini emang paling menyenangkan! Apalagi dengan di temani segelas besar es degan dan semangkuk bakso. Hmm.. makin maknyus deeh..

Aku jadi sedikit merasa bersalah pada Sita. Susah payah, ia mengajakku ke pantai ini untuk menghilangkan kesedihanku sekaligus hadiah, mengingat kejadian 3 tahun yang lalu tidak terulang pada ulang tahunku tahun ini yang Jatuh tepat dua hari yang lalu.
Eh, Nggak tahunya.. Malah aku tinggal berkelana ke masa lalu!!.

Sita, sahabatku pengganti Nidya. Aku merasa sangat beruntung sudah di pertemukan dengannya. Saat itu kami masih duduk di kelas 7. Mulanya, kami hanya sekedar berkenalan.. bertanya nama.. Dan hal-hal yang biasa di tanyakan saat perkenalan. Namun, lambat laun, omongan kamipun mulai merambah ke topil-topik lain. Kami merasa memiliki kecocokan. Jadi, kalau sudah bercerita, pasti nggak aka nada habisnya. Yah, selera kami memang mirip bangett!.

“Sit, kita pindah ke sana yuk! Di bukit itu!” Tunjukku pada sebuah bukit buatan yang ada di sebelah utara kami. “AYOK, MATAHARINYA KEBURU ILANG TUH!” Teriakku lagi.

“Aaaaaaahh….” Kami berdua pun lari di sepanjang tepian pantai. Dengan tangan terentang dan tatapan menengadah ke atas. Angin pantai yang bertiup semilir, menghembuskan seluruh kepenatan otak.

“Hei Liana, TUNGGUU..!”

Ups. Sita ketinggalan. Aku pun berhenti dan menunggu hingga Sita berhasil menjajari langkahku. Kita pun kembali berlari sambil bergandengan tangan.

“Kenceng-kencengan yuk! 1..2..3..” Aku member aba-aba.

“Aaaaaaaaaaaaarrgghhhhhhhhh… Hahahahahaaa…” Begitu kencengnya, sampai-sampai aku berpikiran kalau suaraku dan Sita ini bisa terdengar sampai ke negeri seberang lho!.

Senin, 16 Agustus 2010

Misteri rumah tua

Saat melewati rumah tua itu perasaan Tini selalu berdebar-debar. Kata orang-orang rumah itu berhantu. Tini melirik bangunan rumah tua itu sambil mempercepat langkahnya. Dinding dan kayu-kayu penyangga banyak yang keropos, dan pekarangan rumah terkesan kotor dan tak terurus.

Banyak orang yang mengatakan kalau mereka sering melihat sesosok bayangan dari dalam rumah itu. Ada yang mengatakan, penghuni rumah ini adalah monster yang menakutkan. Ada pula yang bercerita padanya, bahwa rumah itu dihuni oleh seorang kakek tua pertapa, dengan kumis tebal dan jenggot putih yang panjang. Namun, sejauh ini Tini belum pernah melihat satu pun penampakan dari rumah itu.

Sore itu, Tini baru saja pulang dari warung Bu Cokro Yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah angker itu. Ia baru membeli satu kilo telur ayam, dan juga satu botol kecap.

Berjarak satu meter dari rumah itu, Tini mencium aroma masakan dari arah belakang rumah itu. Seketika, bulu kuduknya pun meremang.

“Duh.. Kok serem gini sih?” Keluhnya.

Kresrek..Kreserrkk..

Bunyi derap kaki Tini yang menginjak tumpukan daun kering di sepanjang jalan, terdengar cukup berisik. Terbukti dari suasana sunyi kebun jati di sampingnya. Biasanya, hutan kecil itu tak pernah sepi karena kicauan burung-burung kecil terus bersahutan. Juga embikan kambing liar, atau lenguhan sapi yang di ternak oleh sang gembala di balik pohon-pohon jati.

Ketakutan Tini semakin menjadi-jadi saat ia melihat sekelebat bayangan hitam dari arah rumah tua. Ia merasa seakan ada seseorang yang sejenak mengamatinya dari dalam sana.

“Mending, aku cepet-cepet pergi dari sini deh” ucapnya nyaris berbisik. Ia pun memutuskan untuk berlari dan menjauh dari bangunan yang menyeramkan itu.

Esok harinya, Tini kembali melewati rumah tua itu saat perjalanan pulang dari sekolahnya. Tanpa sengaja, Ia mendengar samar-samar beberapa orang sedang bercakap-cakap. Sesekali ia mendengar ucapan-ucapan kasar dari seseorang yang entah dimana. “Mungkin dari belakang rumah” Pikir Tini. Karena penasaran, dengan berjingkat ia berniat menguping pembicaraan orang tersebut.

“Heh, gila lo! Gimana kalau ketahuan?” Terdengar ucapan dari salah seorang.

Tini pun terus berdiri di depan pintu samping rumah, sambil menempelkan daun telinganya kepermukaan pintu. Tiba-tiba.. suara langkah kaki seseorang terdengar semakin dekat.

Sebelum Tini sadar dan pergi, gagang pintu itu telah berputar dengan cepat. Pintupun terbuka dengan keras dan membentur sisi pohon yang ada tepat di depan pintu itu. Tini begitu terkejut dan merasa degup jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

“Siapa itu?” Teriak seseorang dengan berang.

Rupanya Tini selamat dari orang tak di kenal tadi. Ia nyaris tertangkap, jika seandainya ia tidak lekas mengambil langkah seribu dan bersembunyi di balik salah satu pohon jati di seberang rumah itu. Namun, orang itu tidak terlambat untuk melihat sosok Tini dari belakang.

“Gadis kecil berseragam sekolah SD. Mungkin ia kelas 4 atau 5”. Lapor sang pengejar Tini kepada seseorang yang lain. Mungkin itu adalah atasannya.

“Sepertinya tidak masalah!” Sahut sang bos, acuh tak acuh.

Tidak seperti perkiraan mereka. Tini adalah gadis yang tergolong mungil untuk anak seumurannya. Ini menyebabkan para sosok mencurigakan menghilangkan kecurigaannya pada Tini. Karena sebenarnya, Tini berumur 12 tahun atau kelas 6 tepatnya.

Di rumah teman Tini…

“Eh Ra, kamu tau rumah kosong yang di depan hutan jati di sana?” Tunjuk Tini ke arah Barat Daya.

“Emang kenapa?” Rara balas bertanya. “Yang angker itu kan?” lanjutnya lagi.

“Aku curiga deh!”

“Sama siapa?” Rara menautkan alisnya karena penasaran.

“Gini ra..” Tini pun menceritakan semua yang di dengarnya pada Rara, teman baiknya.

“Hah? Yang bener?” Rara memekik, tidak percaya. “Ini harus di laporin ke kades nih Tin”.

Tini langsung membulatkan mata dan memelototkannya ke arah Rara. “eeh.. ya jangan thoh. Ntar, kalau informasinya salah gimana?” Ucapnya dengan logat medok anak jawa.

“Ya udah deh, gimana kalau besok kita kesana lagi.” Usul Rara. “Sekalian, mungkin kita bisa melacak dan membongkar kedok mereka!”. Mulailah si Rara beraksi dengan gaya sok detektifnya. Ia memang pernah mencita-citakannya.

“Oke.”

Kruk..kruuk..krukk..

Suara jangkrik dan keheningan malam menyelimuti Rara dan Tini di hutan jati. Mereka sengaja janjian dan keluar rumah tanpa sepengetahuan orang rumah.

“Bos, Pulang dulu ya!” Terdengar satu suara.. dua.. tiga.. eh-empat. Aduh, entahlah ada berapa orang yang tiba-tiba keluar dari pintu samping rumah tua. Sekejap saja, suara mereka hilang.. lenyap di telan malam.

Tini melihat ke arah langit. Tidak ada bintang malam ini. Karena langit mendung dan menutup seluruh bintang. Dan suasana ini sangat mendukung bagi Tini dan Rara. Mereka sama sekali tak terlihat mencurigakan karena tertutup bayangan awan hitam. Hanya saja, ia jadi tidak bisa memperkirakan pukul berapa sekarang.

“Eh Tin, kita sembunyi di sisi sebelah situ yuk.” Ajak Rara seraya menunjuk sisi lain dari rumah itu.

Mereka tidak sadar apa yang ada di belakang mereka. Sebuah sungai yang cukup deras aliran airnya. “Aaah..Tolong aku Tin” Terdengar pekik tertahan dari samping Tini. Tini pun dengan cepat memutar arah pandangnya, dan ia melihat Rara terpeleset nyaris terbawa arus sungai. Dengan sigap, Tini menangkap tangan Rara dan ia pun berpegangan pada sebuah batu yang agak menonjol panjang ke atas.

“Greekk..” Riri dan Tini segera menjauh dari sungai. Dan kini mereka mendapati sebuah lorong yang agak kecil mengarah landai, miring ke bawah tanah. “Pasti yang kamu jadikan pegangan tadi itu, kunci jalan rahasia”. “Mungkin” Jawab Tini sedikit ragu.

Begitu mereka sampai di dasar lorong, mereka melihat hal-hal yang yang bersinar terang. Mereka belum yakin benda apa itu.

“Oh my god!” Tini menahan keterkejutannya. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan agar tidak berteriak. Rara pun melakukan respon yang nyaris sama. Semua benda berkilauan itu adalah emas dan perhiasan-perhiasan dalam peti. Ada juga berlian dan permata yang ukurannya cukup besar. Dan semua harta karun lainnya.

Apa yang mereka lihat?

“Tini, ini adalah jawaban dari kecurigaanmu kemarin!”

Kemarin, Tini bercerita bahwa ia mendengar sekumpulan orang yang berdebat di balik pintu samping tempat Tini mencuri dengar kemarin, membicarakan soal jadwal penjagaan. Bahkan sesekali orang-orang itu menyebut-nyebut kata ‘rahasia besar kita’. Juga rencana pengangkutan ke daerah… entah apa namanya.

Setelah mereka merasa berhasil, mereka segera keluar, dan akan melaporkan kejadian itu esoknya pada pak kades. Karena atas apa yang di dengar Tini, mereka akan mengangkut semua harta karun itu esok lusa.

Tepat di ujung terowongan, Rara di kejutkan olehh tiga orang berbadan tegap yang menghadang.

“Ayo ra, kenapa berhenti? Di sini panas nih. Pengen cepet keluar” Desak Tini dari belakang Rara.

Namun Rara tetap bergeming dan tak mengucap sepatah katapun.

“Ayo keluar!” Dengan kasar, orang-orang itu menarik Rara keluar, dan segera mencengkran tangan Tini dengan kuat. Tini, yang tak mengerti sebelumnya, sempat terkejut dan meronta.

Sekarang, mereka menjadi tahanan para gengster itu.

Matahari telah menunjukkan senyumnya dengan malu-malu.

Riri dan Tini pun masih tetap terkurung di salah satu kamar dengan tangan terikat kebelakang. Mereka sangat kebingungan. Tini sempat menangis menyebut-nyebut nama mak dan bapaknya di rumah. Rara juga sesekali menggerutu tak jelas atau kadang menangis tertahan.

Waktu telah berlalu beberapa jam. Kini, jam dinding rumah Tini telah menunjukkan pukul sepuluh siang. Bapaknya mondar-mandir kebingungan karena tidak melihat Tini sedari pagi dan hingga kini belum juga terlihat batang hidungnya.

Dog..Dog..dogg!!!

Suara pintu dengan di gedor dengan keras. Bapak dan mak Tini segera berlari keluar denggan cemas.

“Nak Bayu? Ada apa?” Tanya mak Tini kebingungan.

“I..i-tu.. bu. Mbak Ti-ni sa..ma mbak Rara dalam bahaya” Ucap bayu, adik Rara terbata-bata.

“Ayo, ucapkan yang jelas. Ada apa? Jangan membuat ibu panik seperti ini!”

“Lebih baik, ibu dan bapak ikut dengan saya”

Mereka pun lari ke arah rumah tua yang terpercaya angker. Ternyata, di sana telah ada pak Kades dan orang tua Rara. Juga para penduduk desa.

Dan dari dalam rumah, polisi-polisi keluar sambil menggiring orang-orang yang di anggap asing penduduk sini. Tangan mereka telah di borgol.

Tiba-tiba..

“Emaakk..” Tangis Tini pun pecah lagi. Ia segera berlari memeluk mak dan bapaknya.

Pak Kades mengambil alih perhatian. "Tenang semuanya.. Penjahat-penjahat itu sudah tertangkap. Ternyata, selama ini rumah ini telah di huni para gangster, yang sebelumnya telah mengetahui keberadaan harta karun terpendam di rumah ini. Mungkin itu merupakan harta milik salah satu penduduk sini yang menghuni rumah itu.” Terang Pak Kades panjang lebar sambil sesekali menunjuk rumah itu.

Esoknya..

“Bayu, bagaimana kau tahu kami ada di dalam sana?” Tanya Tini saat ia bermain ke rumah Rara.

“Maaf Tin, sebelumnya aku sudah membocorkan hal ini ke adikku. Maaf ya!” Ucap Rara dengan perasaan bersalah

“Nggak papa kok. Karena pada akhirnya.. itu menjadi bermanfaat. Memang ada baiknya memberi tahu seseorang untuk mengawasi, siapa tahu kita dalam bahaya.

Bayu pun akhirnya menceritakan semuanya.

Dan Sekarang.. Desa tempat Rara dan Tini tinggal menjadi aman, tentram, dan damai kembali. Anak-anak juga sudah tak ada yang takut dengan rumah itu.

Hallo Semua...

Kenalin.. Sang Jilbaber yang bernama wina ini, sekarang udah duduk di bangku kelas SMA lho!! Tepatnya sih, di kelas NASA SATELIT, SMADABAYA. Makasih juga.. udah jadi visitornya^^