Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dongeng. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 November 2011

Bunga-Bunga Surga


~Penulis: Aura Sinay ~


Ah. Kau langsung tersenyum saat melihat bungaku. Aku sudah menduganya. Sungguh, aku tak berniat untuk menyombongkan diri, tapi mereka yang melihat selalu mengatakan bahwa bungaku indah. Ah. Aku malu. Hanya kepada Allahlah pujian itu patut disampaikan. Aku hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Tentulah Allah Maha Indah.

Awalnya, aku hanyalah sebutir benih yang diterbangkan oleh angin ke sana ke mari. Hingga akhirnya angin menghempaskanku dengan lembut pada sebuah taman di bumi yang tidak begitu indah, namun sangat layak untuk kutumbuh. Tanahnya hangat memelukku hingga membenamkanku ke dalam bumi-Nya. Tanah itu biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa, kecuali kegigihan dan ketulusannya dalam memberiku mineral-mineral, entah sampai kapan. Aku sendiri tak tahu harus membalasnya dengan apa. Hanya Allah yang mampu membalasnya dengan sebaik-baik karunia. Yang dapat kulakukan hanyalah mengerahkan segenap kekuatanku untuk memekarkan bunga-bunga yang indah. Walaupun kemudian pujian itu mereka tujukan padaku, bukan kepada tanah yang kupijak.

Kian hari kurasakan tanah itu semakin hangat memelukku, hingga akarku kuat mencengkeram bumi dan menopang ranting yang sebenarnya rapuh bagi mekarnya bungaku. Ah, segala puji bagi Allah yang telah mencurahkan rahmat di bumi ini.

Taman tempatku tumbuh tidak berpagar besi yang kokoh lagi megah, tapi hanya sebarisan pagar kayu yang cukup kuat untuk memastikan setiap orang yang melihat bahwa di sini ada taman bunga yang tersendiri.

Kuakui, aku sering merasa tak puas dengan taman yang kutempati ini. Ingin rasanya berpindah taman. Di luar terlihat indah sekali. Tapi rasanya tak mungkin aku meninggalkan taman ini tanpa bungaku. Justru menjadi kewajibanku untuk memekarkan bunga-bunga khas taman ini dengan tulus.

Ya, di luar sana memang terlihat sangat indah. Bunga-bunga yang bermekaran di luar sana sering mengejutkan setiap makhluk yang melihatnya. Mereka tak pernah menyangka ada bunga-bunga yang sangat indah di sudut-sudut bumi yang tersembunyi itu. Bunga-bunga itu memekarkan bentuk, warna, dan wanginya masing-masing, mengingatkan kita untuk segera memuji kebesaran-Nya.

Pernahkah kau mendengar kisah tentang bunga-bunga di luar sana ? Aku pernah mendengarnya, dari angin yang senantiasa menghembuskan kisah-kisah bumi.

Di luar sana ada pohon bunga yang rapuh. Dahannya rapuh, tapi akarnya kuat mencengkeram tanahnya. Setiap saat akarnya gigih mencari mineral-mineral tambahan bagi pertumbuhannya, walau akhirnya sering terbentur dinding potnya.

Pot? Ya, ia tinggal dalam sebuah pot bunga yang besar dan indah. Pot bunga itu terbuat dari baja kuat yang dingin (beruntunglah ia karena masih ada tanah yang hangat memeluknya). Pot itu berlapiskan emas dengan ukiran-ukiran yang indah.

Awalnya aku tak mengerti mengapa mereka (manusia-manusia itu) memperlakukan pohon bunga itu dengan sangat istimewa. Namun kemudian angin yang menceritakan kisah ini memberitahuku bahwa ia adalah pohon bunga yang langka.

Hanya ia yang tersisa di muka bumi ini. Tidak. Bukan tersisa. Justru ialah satu-satunya di muka bumi ini. Tak ada lagi pohon bunga yang sejenis dengannya. Karena ia adalah pohon bunga cangkokan. Pintar sekali manusia-manusia itu memadukan dua pohon induknya (Mahasuci Allah, pemilik segala ilmu). Namun sepertinya perhitungan mereka agak meleset. Dahan pohon yang dihasilkan sangat kecil dan tipis. Ia pun mudah terserang hama sehingga mereka harus memberikan perlakuan ekstra untuk pohon itu. Mereka berikan berbagai macam pupuk khusus dan menyiraminya secara teratur agar ia dapat tumbuh dengan normal.

Hasilnya pun sangat mengejutkan. Mereka sendiri tak menduga, bunga yang dimekarkannya begitu indah. Ia menebarkan wanginya yang khas. Madunya menjadi makanan bagi kumbang-kumbang yang mau mendatanginya. Rantingnya yang panjang dan kecil menari-nari mengikuti irama yang dilagukan oleh sang angin. Harapannya hanya satu, angin akan membawa serta benih-benihnya, mencarikan tempat-tempat yang lebih baik untuk pertumbuhan tanaman sejenisnya kelak.

Ia tak pernah meminta angin untuk menghembuskan kisahnya. Jangankan memikirkan hal seperti itu, menyadari keindahan bunganya sendiri pun tidak. Tapi angin telah membawa serta berita keindahan bunganya ke setiap penjuru bumi. Dan setiap pohon bunga yang mendengarnya akan menari-nari, melagukan kesyukuran seolah tiada henti. Termasuk aku.

Ah. Aku jadi malu. Dahanku yang cukup kuat justru kalah dengannya. Dahannya tak pernah berhenti mencari sinar sang mentari yang dapat merangsang pertumbuhannya dengan memberikan banyak kehangatan. Sementara aku ? Ah, entahlah. Aku masih harus banyak belajar darinya. Kini ia tumbuh meninggi. Semakin dekat dengan sang mentari. Hingga pohon-pohon lain di luar pagarnya dapat membuktikan keindahannya. Aku sering terkikik geli saat sang angin menceritakan bahwa terkadang pohon-pohon itu mencuri pandang, terpesona pada keindahan alami bunganya. Lalu mereka kembali melantunkan lagu kesyukuran, hingga serinya menebar ke seluruh penjuru taman hati.

Ah. Allah pastilah menyayanginya. Dan sang angin tak berhenti menghembuskan kisah-kisah bunga dari muka bumi ini. Suatu hari ia pernah bercerita, di luar sana ada pohon bunga yang masih sangat muda, tapi dahannya sudah kuat, dan akarnya kokoh mencengkeram bumi. Bunga yang dimekarkannya pun tak kalah indah dengan bunga-bunga lainnya. Ia memiliki kekhasan tersendiri. Di saat pohon-pohon lain menari-narikan bunga-bunganya yang indah dengan gemulai kepada seluruh penghuni bumi, ia justru enggan melakukannya. Yang ia lakukan hanyalah melagukan kesyukuran tanpa henti. Bahkan ia menumbuhkan banyak duri yang tajam di dahannya yang kokoh. Ia hanya tak ingin bunganya dipetik oleh sembarang orang. Ia juga tak ingin ada hama yang mengganggu atau bahkan merusak bunganya. Semua itu ia lakukan karena ia tahu betul, bunga yang dimekarkannya tak pernah bertahan lama. Tak lama setelah mekar, kelopaknya akan gugur ke bumi, seperti mawar. Ini sudah menjadi kodratnya. Namun ia tak sedikit pun mengeluh.

Sebuah pemikiran yang cerdas. Ah, tak pernah terpikirkan olehku. Padahal aku tumbuh lebih dulu dan bungaku lebih rapuh darinya. Lalu angin mengenalkannya padaku. Ia pohon bunga yang menyenangkan. Aku cepat akrab dengannya, walaupun letak taman kami saling berjauhan. Kami berkirim salam lewat angin. Berbagi rasa pun kami lakukan lewat angin. Maha Besar Allah yang telah menciptakan angin. Ia pernah menyampaikan kegundahannya lewat hembusan angin yang lembut. Seekor lebah memintanya menyisakan madu bagi dirinya pada suatu hari di waktu yang telah mereka sepakati. Ia menyanggupinya. Di luar dugaan, pada hari yang telah disepakati itu, bunganya tak mekar tepat pada saatnya. Dan ia tak kunjung melihat lebah itu datang di antara lainnya. Ia panik. Ia takut lebah itu akan marah kepadanya.

Aku tak melupakan janjiku. Aku tak ingin mengingkarinya. Aku tak menyangka jika embun pagi ini lebih sedikit dari kemarin sehingga aku harus bersabar dalam memekarkan bungaku agar aku tak kehilangan banyak energi. Aku tak bermaksud membuatnya kelaparan, kan.? Begitu sedih angin menceritakannya padaku.

Aku tahu. Rasanya lebah itu tak akan kelaparan. Bunga-bunga lain masih menyisakan madu untuknya. Ia tak akan menjadi begitu lapar karenanya. Angin hembuskan prasangka-prasangka baik padanya. Dihempaskannya jauh-jauh prasangka-prasangka buruk si bunga pada si lebah. Tak kuduga, ia menolak hembusan itu. Ia yakin sekali lebah itu akan marah lagi kepadanya. Ternyata hal ini terjadi untuk kedua kalinya. Sebelumnya ia pernah menjanjikan hal yang sama pada lebah yang sama. Ketika saat yang dijanjikannya tiba, bunganya tak siap untuk mekar. Sementara bunga-bunga lain yang mekar lebih awal pada dahannya telah habis madunya, dihisap lebah-lebah lain yang datang lebih pagi. Ia sendiri tak menduga jika lebah-lebah yang datang hari itu lebih banyak dari sebelumnya.

Lalu lebah itu marah padanya. Untuk beberapa lama ia tak menghampiri bunga itu lagi. Bahkan lambaian kelopaknya pun tak ia balas. Sedemikian marahnyakah lebah itu padanya? Kusampaikan lewat angin yang lembut menerpa, jika ia memang seekor lebah sejati, tentulah ia akan bersabar. Ia tak akan berhenti begitu saja. Lebah itu akan mencari madu pada pohon bunga yang lain. Lebah itu makhluk yang gigih.

Ia tetap gelisah. Kehilangan akal, kugoda bunga itu. Kutanyakan lewat angin tentang seberapa istimewanya lebah itu baginya hingga ia begitu gelisah. Tak kusangka, angin yang kembali membawakan pesannya datang menghentak.

Ia tak pernah menganggap istimewa pada lebah itu. Ia hanya tak ingin menyakitinya. Ia berusaha untuk membahagiakan semua lebah yang datang kepadanya.

Ah, memang salahku. Saat itu memang bukan waktu yang tepat untuk menggodanya. Akhirnya si lebah itu datang juga. Kuminta padanya untuk tak marah pada si bunga. Lebah itu mengangguk sambil tersenyum dan mengepak-ngepakkan sayapnya dengan lincah. Ah, lega rasanya.

Rabu, 11 Agustus 2010

Putri Seorang Saudagar

Konon duluuuu sekali, adalah seorang saudagar yang kaya. Dia mempunyai tiga orang putri. Ketiganya berparas cantik. Sulung memiliki tubuh yang ramping. Karena itu dia senang sekali memakai baju yang bagus-bagus. Tengah mempunyai kulit yang halus lembut. Karena itu dia suka memakai perhiasan yang indah-indah. Sedang si Bungsu suaranya sangat merdu. Sifatnya juga lemah lembut. Dia sayang sekali kepada ayahnya.

Suatu hari saudagar itu akan berdagang ke negri seberang. Negeri itu sangat jauh letaknya. Harus melewati hutan dan gurun yang tandus. Di sana banyak berkeliaran perampok.

"Nah!" kata saudagar itu kepada ketiga putrinya. "Apa yang kalian inginkan untuk oleh-oleh nanti?"

"Biasa Yah," sahut si Sulung. "Saya ingin sebuah baju yang paling cantik yang ada di negri itu."

"Kalau saya sih minta dibawakan perhiasan yang paling indah yang ada di negri itu," seru si Tengah.

Bungsu hanya diam. Teringat dia akan mimpinya semalam. Dia merasa cemas, takut kalau apa yang dimimpikannya itu akan menjadi kenyataan.

"Bagaimana Bungsu?" Apa yang kau inginkan?" tanya saudagar itu karena si Bungsu hanya memandangi dirinya saja.

"Saya ingin ayah tidak pergi," sahut si Bungsu dengan suara pelan.

"Huuuu!" seru si Sulung sebal. "Kalau Ayah tidak pergi bagaimana aku bisa mendapat baju yang cantik!"

"Iya, nih. Kamu bagaimana sih!" seru si Tengah tidak kalah kesal. "Kalau Ayah tidak pergi aku kan tidak bisa memiliki perhiasan yang indah."

Saudagar itu menepuk bahu si Bungsu tanda mengerti. "Ayah mengerti mengapa kau merasa cemas melepas ayah pergi. Tapi percayalah. Ayah bisa menjaga diri."

Bungsu menundukkan kepalanya. Ingin rasanya dia menceritakan mimpinya. Tetapi dia takut ditertawakan. Tentu kedua kakanya akan berkata, "Alaa, mimpi itu kan cuma bunga tidur."

Karena itu setelah ayahnya pergi, Bungsu terus gelisah. Bayangan mimpi itu terus mengganggu pikirannya. Setiap kali memikirkan ayahnya air matanya menitik. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk menyusul ayahnya. Diam-diam dia pergi meninggalkan rumahnya.

Dia berjalan menuju luar kota. Setelah seharian berjalan, dia merasa lelah. Dia duduk menyandar di bawah sebatang pohon yang rindang. Pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan mimpinya.

"Oooh, seandainya aku menjadi burung, tentu aku bisa lebih cepat menyusul Ayah," keluhnya. Tak terasa air mata menetes di pipinya. Angin sepoi-sepoi membuat matanya mengantuk. Apalagi badannya sudak capek sekali. Akhirnya dia tertidur lelap. Entah berapa lama dia tidur. Ketika sudah bangun dia merasa ada sesuatu yang aneh di tubuhnya.. Seluruh badannya telah ditumbuhi bulu-bulu. Tangannya berubah menjadi sayap. Dan mulutnya menjadi paruh. Dia tidak bisa lagi berbicara seperti semula. Yang keluar dari mulutnya hanyalah suara siulan yang sangat merdu.

Meskipun begitu Bungsu merasa gembira. Sebab dengan memiliki sayap, kini dia bisa lebih cepat menemukan ayahnya. Dia lalu terbang. Makin tinggi. Makin jauh. Tapi dia belum juga menemukan ayahnya. Dia sudah merasa putus asa ketika tiba-tiba dari kejauhan dia mendengar suara pekik burung gagak. Dia mencoba terbang ke arah itu. Dilihatnya segerombolan burung gagak raksasa terbang mengelilingi sesuatu benda. Bungsu segera mendekati mereka.

Astaga! Pekiknya dalam hati. Itu kuda ayahnya. Sepertinya kuda itu sudah mati. Berarti ayahnya ada di sekitar tempat itu. Dengan rasa cemas dia memeriksa sekitar tempat itu. Akhirnya dia menemukan ayahnya. Tergeletak pingsan di balik segerombolan semak. Tubuhnya terluka. Nampaknya ayahnya telah menjadi korban perampokan. Mungkin sebelum merampok ayahnya disiksa lebih dulu.

Menetes air mata Bungsu melihat keadaan ayahnya itu. Teringat dia akan mimpinya. Apa yang ditakutkannya telah menjadi kenyataan. Dia harus segera mencari pertolongan agar ayahnya bisa diselamatkan.

Bungsu segera terbang mengelilingi gurun itu. Melihat kalau-kalau ada orang yang bisa dimintai pertolongan. Haaa! Ada seorang pemuda gagah yang sedang mengendarai kuda. Nampaknya dia bermaksud beristirahat, sebab kini dia menghentikan kudanya. Memasang kemah. Menurunkan perbekalan yang dibawanya, kemudian memberi kudanya minum dan makan. Nah, sekarang pemuda itu siap menikmati makan siangnya.

Bungsu segera menukik. Menyambar roti yang siap dimasukkan ke mulut pemuda itu. Si pemuda mula-mula kaget dengan kejadian tiba-tiba itu. Tetapi kemudian dia menjadi heran. Karena burung yang telah menyambar rotinya itu tidak segera terbang menjauhinya. Burung itu terbang rendah di hdapannya. Berputar-putar seolah ingin ditangkap.

Pemuda itu menjadi penasaran. Dia berdiri. Mencoba menangkap burung cantik yang kelihatan jinak itu. Tetapi si burung mengelak. Terbang menjauh sedikit lalu berputar-putar kembali. Pemuda itu terus mengikuti burung itu. Dia penasaran. Tak sadar dia telah meninggalkan kemahnya. Kini dilihatnya burung cantik itu hinggap di atas sebuah pohon kecil. Si Pemuda mengendap-endap. Mengulurkan tangan, siap menangkap si burung. Tetapi tiba-tiba dia terbelalak kaget.

"Astaga!" serunya tatkala melihat saudagar yang sedang tergeletak pingsan. Dia segera mengangkat tubuh saudagar itu. Segera dibawanya ke kemahnya. Sementara burung cantik mengikuti dari belakang.

Setelah berada di kemahnya, saudagar itu dirawatnya dengan baik. Luka-lukanya dibersihkan, diberi obat. Pakaiannya yang kotor diganti. Dan ketika saudagar itu siuman, dia menjadi heran.

"Siapa anda?" tanyanya menatap penolongnya.

"Saya kebetulan sedang lewat. Burung itu yang menunjukkan Bapak kepada saya. Rupanya Bapak telah menjadi korban perampok," sahut pemuda itu.

Saudagar mengangguk. "Yaa ... sungguh menyesal saya karena tidak mau mendengar kata-kata anak saya yang bungsu. Padahal dia sudah melarang saya pergi. Akh, dia tentu sangat sedih bila mengetahui keadaan saya sekarang," kata saudagar itu seraya menitikkan air matanya.

Aneh! Tiba-tiba saja si Bungsu berubah kembali menjadi seorang putri yang cantik. Dia segera memeluk ayahnya dengan gembira.

"Ayah! Syukurlah Ayah selamat," katanya.

"Astaga! Jadi kau yang telah menunjukkan ayah kepada orang itu?" tanya saudagar itu. "Mengapa kau bisa menjadi burung?"

Bungsu segera mengisahkan kejadiannya. Kemudian dia mengucapkan terima kasih kepada pemuda yang telah menolong ayahnya. Si Pemuda tersenyum.

"Saya kagum sekali mendengar bagaimana besarnya kasih sayangmu kepada ayahmu. Kebetulan saya melakukan perjalanan ini untuk mencari seorang istri. O, ya. Perkenalkan. Saya Pangeran dari negri seberang. Kalau kamu tidak keberatan saya ingin melamar kamu menjadi istri saya."

Begitulah akhirnya, mereka kawin dan hidup berbahagia. Saudagar itu kembali pulang ke rumahnya tanpa membawa oleh-oleh bagi kedua putrinya yang lain. Namun Bungsu menitipkan sebuah gaun yang cantik dan sepasang perhiasan bagi kedua kakaknya.

Raja dan Kura-Kura

Di Benares, India, hidup seorang raja yang sangat gemar berbicara. Apabila ia sudah mulai membuka mulutnya, tak seorang pun diberi kesem-patan menyela pembicara-annya. Hal ini sangat mengganggu menterinya. Sang menteri pun selalu memikirkan cara terbaik menghilangkan kebiasaan buruk rajanya itu

Pada suatu hari raja dan menterinya pergi berjalan-jalan di halaman istana. Tiba-tiba mereka melihat seekor kura-kura tergeletak di lantai. Tem-purungnya terbelah menjadi dua.

"Sungguh ajaib!" kata Sang Raja de-ngan heran.

"Ba-gaimana hal ini dapat terjadi?"

Lalu Raja mulai dengan dugaan-du-gaannya. Dia terus-menerus membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan kura-kura itu. Sang Menteri hanya mengangguk-anggukkan kepala menunggu kesem-patan berbicara. Kemu-dian dia merasa menemukan cara terbaik untuk menghilangkan kebiasaan buruk Sang Raja.

Ketika Sang Raja me-narik napas untuk berbi-cara lagi, Sang Menteri segera menukas dan berkata,

"Paduka, saya tahu kejadian sebenarnya yang dialami kura-kura naas ini!"

"Benarkah? Bila begitu, lekas katakan," kata Raja penuh rasa ingin tahu.

Dengan penuh keseriusan Sang Raja mendengarkan cerita menterinya. Sang Menteri pun mulai bercerita.

Kura-kura itu awalnya tinggal di sebuah danau di dekat pegunungan Hima-laya. Di sana terdapat juga dua ekor angsa yang selalu mencari makan di danau tersebut. Mereka pun akhirnya bersahabat. Pada suatu hari dua ekor angsa itu menemui kura-kura yang sedang berjemur di tepi danau.

"Kura-kura, kami akan segera kembali ke tempat asal kami yang terletak di gua emas di kaki Gunung Tschittakura. Daerah tempat tinggal kami adalah daerah terindah di dunia. Tidak-kah engkau ingin ikut kami ke sana?" tanya Sang Angsa.

"Dengan senang hati aku akan turut denganmu," sahut kura-kura riang.

"Tetapi, sayangnya aku tak dapat terbang seperti kalian," lanjutnya dengan wajah mendadak sedih.

"Kami akan memban-tumu agar dapat turut bersama kami ke sana. Tapi selama dalam perjalanan kamu jangan berbicara karena akan membahayakan dirimu," kata angsa.

"Aku akan selalu mengingat laranganmu. Bawalah aku ke tempat kalian yang indah itu," janji kura-kura.

Lalu kedua angsa tersebut meminta kura-kura agar meng-gigit sepotong bambu. Kemudian kedua angsa tersebut menggigit ujung-ujung bambu dan mereka pun terbang ke angkasa.

Ketika kedua angsa itu sudah terbang tinggi, be-berapa orang di Benares melihat pe-mandangan unik tersebut. Mereka pun tertawa terbahak-bahak sambil berteriak.

"Coba, lihat! Sungguh lucu. Ada dua ekor angsa membawa kura-kura dengan sepotong bambu."

Kura-kura yang suka sekali bicara merasa tersinggung ditertawakan. Dia pun lupa pada lara-ngan kedua sahabatnya. Dengan penuh kemarah-an dia berkata,

"Apa anehnya? Apakah manusia itu sedemiki-an bodohnya sehingga merasa aneh melihat hal seperti ini?"

Ketika kura-kura membuka mulutnya untuk berbicara, dua ekor angsa itu sedang terbang di istana. Kura-kura pun terlepas dari bilah bambu yang digigitnya. Dia terjatuh tepat di sini dan tempurungnya terbelah dua.

"Kalau saja kura-kura itu tidak suka berbicara berlebih-lebihan, tentu sekarang dia telah tiba di tempat sahabatnya,"

kata Sang Menteri mengakhiri ceritanya sambil memandang Sang Raja. Pada saat bersamaan Raja pun memandang menterinya.

"Sebuah cerita yang menarik," sahut Sang Raja sambil tersenyum. Dia menyadari kemana arah pembicaraan menterinya.

Sejak saat itu, Sang Raja mulai menghemat kata-katanya. Dia tidak lagi banyak bicara. Tentu saja Sang Menteri amat senang melihat kenyataan itu.

Kerang Ajaib

Rimba kecewa sekali. Tak seekor ikan berhasil diperolehnya hari ini. Segera diangkatnya buah-buahan yang telah dikumpulkan dari hutan. Saat kaki Rimba menginjak batu besar di sungai, terlihat sesuatu di bawahnya. Seekor kerang putih! Rimba memungut dan berharap kerang itu bisa menjadi temannya. Di rumah, ibu Rimba menghibur. Bagaimana pun Rimba mestinya bersyukur karena buah-buahan yang diperoleh untuk dijual ke pasar cukup banyak. Kerang putih disimpan dalam tempurung kelapa.

Keesokan hari, sepulangnya dari berjualan, Rimba dan ibunya dikejutkan dengan hidangan yang tersaji di meja. Tiba-tiba terdengar suara dari arah tempurung kelapa,

"Rimba! Semua makanan itu untukmu dan ibumu. Aku yang menyediakannya". Ternyata suara itu berasal dari kerang putih yang ingin membalas budi. Betapa bahagianya ibu dan anak itu. Kini, tiap hari hidangan selalu siap tersaji. Mereka tak habis-habisnya bersyukur pada Tuhan.

Suatu hari, Rimba sakit dan tak bisa pergi ke hutan. Di tengah kebingungannya, terlintas ide minta tolong pada kerang ajaib, sahabatnya. Tentu saja kerang ajaib segera mewujudkannya. Demikianlah yang terjadi hari demi hari. Kini Rimba tak perlu ke hutan mencari buah-buahan. Ia tinggal membantu ibunya berjualan di pasar. Namun Rimba serakah. Kian hari kian banyak permintaannya. Bahkan Rimba malas mengisi tempayan air yang seharusnya merupakan pekerjaan mudah saja. Ibu Rimba tak jemu mengingatkan.

Sampai akhirnya, Rimba mengelabui kerang putih karena begitu menginginkan masuk ke dalam tubuhnya. Tubuh kerang membesar dan masuklah Rimba. Benar juga dugaannya. Sekelilingnya penuh intan, permata dan kepingan uang emas. Ide serakah Rimba muncul. Ia mulai mengangkut barang-barang itu. Ibunya yang melihat, segera mengingatkan. Rimba tak mengindahkan. Saat itulah kerang mulai mengatupkan diri. Tiba-tiba terdengar suara, "Rimba, kau sudah melewati batas. Kau sangat serakah! Nasihat ibumu tak kau hiraukan!". Pintu kerang segera tertutup. Sayang, Rimba terlambat keluar! Tubuh kerang ajaib kembali mengecil dan Rimba terjepit kesakitan di dalamnya. Penyesalan Rimba terlambat

Raja Muda dan Burung Kuau

Pada zaman dulu hiduplah seorang putra mahkota yang tampan bernama Raja Muda.


Ia sedang mencari gadis untuk dijadikan isterinya. Pada suatu malam, di dalam tidurnya Raja Muda bermimpi bertemu seorang kakek. Kakek itu berkata jika ingin mendapat jodoh, Raja Muda harus pergi mencari sebuah rumah di pantai dengan halamannya terdapat pohon kelapa gading. Pohon itu biasanya menjadi tempat bermain burung Kuau dari kayangan. Selanjutnya kakek itu berpesan agar Raja Muda menangkap burung tersebut.


Setelah mendapat nasehat dari mimpinya, Raja Muda pergi ke tempat yang ditunjukan oleh kakek tersebut. Tak lama kemudian datanglah tujuh ekor burung Kuau dari kayangan. Burung-burung Kuau itu kakak beradik. Sang adik bungsu turun dan bermain-main di atas pasir. Melihat itu, burung Kuau yang tertua mengingatkan adiknya agar berhati-hati. Tetapi sang adik tetap bermain dengan gembira hingga tidak sadar kalau di bawah pasir terdapat tubuh Raja Muda. Dengan cepat Raja Muda menangkap burung Kuau itu dengan tempurung kelapa yang digunakan penutup mukanya tadi dan memasukannya ke dalam sangkar. Burung-burung Kuau yang lain terkejut melihat kejadian itu, dan dengan segera terbang kembali ke kayangan.


Dengan perasaan gembira, Raja Muda kembali ke istana dan meletakkan sangkar yang berisi burung Kuau di sebelah kamarnya.


Malamnya menjelang matahari terbit, sang burung menjelma menjadi seorang putri cantik. Ia keluar dari sangkarnya, pergi ke dapur istana untuk memasak makanan yang lezat. Setelah selesai sang putri kembali ke wujudnya semula menjadi burung Kuau.


Pagi harinya ketika Raja Muda bersantap pagi sangat heran dengan kelezatan masakan yang ia makan. Di tanyakannya kepada juru masak istana siapa yang telah memasak makanan itu, tetapi juru masak mengatakan tidak tahu malahan ia juga heran ketika masuk ruang makan di atas meja telah terhidang makanan tersebut.


Hal itu terjadi berulang kali, sampai akhirnya suatu malam Raja Muda sengaja tidak tidur untuk mengetahui siapa yang selalu menyediakan makanan tersebut.


Menjelang dini hari, Raja Muda mendengar suara langkah dari sebelah kamarnya berjalan menuju dapur istana.


Alangkah terkejutnya ia karena sangkar burungnya telah kosong berganti sosok menjadi seorang putri nan cantik. Ketika putri itu selesai memasak, cepat-cepat Raja Muda menyembunyikan sangkar tersebut sehingga sang putri tidak bisa kembali menjadi burung Kuau.


Karena sudah ketahuan, maka sang putri menceritakan dirinya yang sesungguhnya. Betapa bahagianya Raja Muda mendapat jodoh seorang gadis yang cantik dan berbudi luhur. Mereka menikah dan hidup berbahagia. Setahun setelah pernikahan, mereka dikaruniakan seorang putra tampan.


Sementara itu, kedua orang tua putri burung Kuau yang tinggal di kayangan sangat bersedih hati kehilangan putri bungsu mereka. Ingin mereka mencari putrinya ke dunia, tapi takut ditangkap dan dibinasakan oleh manusia. Mereka akhirnya hanya pasrah dan melarang anak-anak yang lain turun ke dunia lagi.


Pada suatu sore, Raja Muda bersama istrinya putri burung Kuau sedang berjalan-jalan di taman bunga istana. Di sekitar mereka terdapat bunga-bunga yang indah dan harum. Di bawah pohon yang rindang Raja Muda berbaring sambil meletakkan kepalanya diatas pangkuan istrinya. Dinikmatinya angin sepoi-sepoi basa serta kicauan burung di atas pohon, tiba-tiba ia teringat suara merdu nyanyian burung Kuau yang dahulu didengarnya ketika bersembunyi di bawah timbunan pasir. Indah dan mendayu.


Raja Muda meminta istrinya agar menyanyi untuknya. Tetapi istrinya menolak dan menasihati Raja Muda agar tidak memintanya menyanyi.


Jika ia menyanyi hatinya akan menjadi sedih dan nanti akan menimbulkan rasa penyesalan bagi Raja Muda.


Raja Muda tidak putus asa di bujuknya sang istri agar mau bernyanyi untuknya.


Akhirnya putri burung Kuau tidak dapat menolak, dengan terpaksa ia menyanyi. Suaranya merdu, menyanyikan nyanyian burung Kuau. Seiring itu tubuh sang putri bergetar hebat, airmatanya bercucuran. Perlahan-lahan tubuhnya berubah menjadi burung Kuau.


Sambil mengepak-ngepak sayapnya terbanglah ia meninggalkan suaminya tercinta, kembali ke kayangan. Raja Muda serta merta terbangun, mendapatkan istrinya telah pergi. Sungguh menyesal ia telah menyuruh istrinya menyanyi.


Tetapi apa daya nasi telah menjadi bubur, hanya anaknya seoranglah yang menjadi pelipur lara kesedihannya.

Hallo Semua...

Kenalin.. Sang Jilbaber yang bernama wina ini, sekarang udah duduk di bangku kelas SMA lho!! Tepatnya sih, di kelas NASA SATELIT, SMADABAYA. Makasih juga.. udah jadi visitornya^^